Ketika Rezeki Sedang Sempit, Tetap Bersama dalam Suka dan Duka : Bimwin KUA Jatilawang
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Pernikahan sering kali dibayangkan sebagai perjalanan menuju hari-hari yang indah. Namun, di balik janji untuk hidup bersama, ada pula masa ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan. Rezeki mungkin terasa sempit, kebutuhan datang bersamaan, dan keadaan memaksa pasangan untuk belajar tentang arti bertahan. Jumat (02/10)
Pesan penuh makna tersebut disampaikan Ahmad Muttaqin, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada Calon Pengantin (Catin) Darlam dan Monica Angelina dengan materi “Ketika Rezeki Sedang Sempit: Tetap Bersama dalam Suka dan Duka.”
Dalam bimbingannya, Ahmad Muttaqin mengajak kedua calon pengantin memahami bahwa kehidupan rumah tangga tidak selamanya berada dalam keadaan lapang. Ada saatnya rezeki datang berlimpah, tetapi ada pula masa ketika penghasilan harus dicukupkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan.
Menurutnya, kondisi ekonomi tidak semestinya menjadi alasan bagi suami dan istri untuk saling menyalahkan. Justru ketika keadaan sedang sulit, pasangan dituntut untuk semakin kuat membangun komunikasi, saling memahami, dan bersama-sama mencari jalan keluar.
“Ketika rezeki sedang lapang, bersyukurlah bersama. Ketika rezeki sedang sempit, jangan saling meninggalkan. Rumah tangga bukan hanya tempat berbagi kebahagiaan, tetapi juga tempat untuk saling menguatkan ketika kehidupan sedang tidak mudah,” pesan Ahmad Muttaqin.
Ia menjelaskan bahwa menghadapi kesulitan ekonomi membutuhkan keterbukaan antara suami dan istri. Pemasukan dan pengeluaran keluarga perlu dibicarakan dengan jujur agar keduanya memahami kondisi yang sedang dihadapi. Kebutuhan harus disusun berdasarkan prioritas, sementara keinginan yang belum mendesak dapat ditunda.
Dalam keadaan sulit, sikap saling menghargai juga menjadi sangat penting. Suami tidak seharusnya merasa gagal hanya karena belum mampu memenuhi semua keinginan keluarga. Demikian pula istri tidak sepatutnya merasa menjadi beban ketika keadaan belum memungkinkan.
Setiap pasangan memiliki perjuangannya masing-masing. Ada pengorbanan yang terlihat, tetapi ada pula air mata yang jatuh diam-diam ketika tidak seorang pun melihat.
Karena itu, Ahmad Muttaqin mengajak Darlam dan Monica untuk tidak mengukur keberhasilan rumah tangga hanya dari banyaknya harta yang dimiliki. Menurutnya, keluarga yang mampu bertahan dalam kesederhanaan dengan tetap menjaga kasih sayang merupakan salah satu bentuk kekuatan dalam kehidupan berumah tangga.
“Jangan biarkan kesulitan ekonomi membuat kita lupa bahwa pasangan adalah orang yang dahulu kita pilih untuk menemani perjalanan hidup. Saat keadaan sulit, genggam tangannya lebih erat, bukan justru melepaskannya,” ungkapnya.
Bimwin tersebut juga menjadi ruang refleksi bagi kedua calon pengantin bahwa kehidupan setelah akad akan menghadirkan berbagai keadaan. Ada pagi yang penuh harapan, ada malam yang mungkin dipenuhi kegelisahan. Ada masa ketika kebutuhan dapat dipenuhi dengan mudah, tetapi ada pula waktu ketika pasangan harus belajar hidup lebih sederhana.
Namun, justru dalam kesederhanaan itulah cinta sering menemukan bentuknya yang paling nyata.
Bukan pada makan malam mewah, tetapi pada sepiring nasi yang dibagi berdua. Bukan pada hadiah mahal, tetapi pada kalimat sederhana, “Kita hadapi bersama.” Bukan pada rumah yang penuh kemewahan, tetapi pada rumah kecil yang di dalamnya tidak ada hati yang merasa sendirian.
Sebab pernikahan bukanlah janji bahwa hidup akan selalu mudah. Pernikahan adalah janji bahwa ketika hidup menjadi sulit, seseorang tidak harus menghadapinya sendirian.
Darlam dan Monica pun diajak untuk membangun rumah tangga yang dilandasi kesabaran, rasa syukur, keterbukaan, dan saling percaya. Rezeki boleh berubah, keadaan boleh berganti, tetapi komitmen untuk saling mendampingi harus terus dijaga.
Pada akhirnya, rumah tangga yang kuat bukan rumah yang tidak pernah merasakan kesempitan. Rumah tangga yang kuat adalah rumah yang ketika kesempitan datang, suami dan istri tidak sibuk mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan duduk berdampingan dan berkata:
“Kita mungkin belum memiliki banyak hari ini, tetapi kita masih memiliki satu sama lain. Mari kita berjuang, berdoa, dan melewati semuanya bersama.”
Sebab ketika dunia terasa begitu berat, terkadang yang paling dibutuhkan seseorang bukanlah harta yang melimpah, melainkan tangan yang tetap menggenggam dan hati yang tetap berkata, “Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Di sanalah makna suka dan duka menemukan tempatnya. Bahwa cinta sejati bukan hanya tentang berjalan bersama ketika jalan dipenuhi bunga, tetapi juga tentang tetap berdampingan ketika jalan itu berubah menjadi penuh batu dan air mata.
