Pesan KUA Jatilawang Dalam Bimwin : Rumah sebagai Sekolah Pertama
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Sebelum seorang anak mengenal dunia yang luas, ia terlebih dahulu mengenal sebuah rumah. Sebelum mengenal guru di sekolah, ia mengenal suara ayah dan ibunya. Bahkan sebelum mampu memahami panjangnya nasihat, seorang anak telah belajar dari cara orang tuanya berbicara, tersenyum, meminta maaf, beribadah, dan memperlakukan satu sama lain. Jumat (02/10)
Rumah, dengan demikian, bukan sekadar tempat untuk pulang. Ia adalah sekolah pertama, tempat nilai-nilai kehidupan ditanamkan dengan keteladanan dan kasih sayang.
Pesan tersebut disampaikan Dwi Astuti, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada Calon Pengantin (Catin) Rafi Tajdidul Haq dan Afifah Luthfi dengan materi “Rumah sebagai Sekolah Pertama.”
Dalam bimbingan tersebut, Dwi Astuti mengajak kedua calon pengantin mempersiapkan diri untuk membangun rumah tangga yang bukan hanya menjadi tempat tumbuhnya cinta antara suami dan istri, tetapi juga menjadi lingkungan pertama yang membentuk karakter anak-anak mereka kelak.
Menurutnya, pendidikan anak sesungguhnya tidak menunggu sampai anak memasuki bangku sekolah. Pendidikan telah dimulai sejak anak membuka mata dan menyaksikan kehidupan di dalam rumahnya.
Ketika seorang anak melihat ayah menghormati ibu, ia sedang belajar tentang penghargaan. Ketika melihat ibu berbicara lembut kepada ayah, ia sedang belajar tentang kasih sayang. Ketika melihat kedua orang tuanya menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin, ia sedang belajar bahwa perbedaan tidak harus berakhir dengan pertengkaran.
Karena itu, keteladanan orang tua menjadi bahasa pendidikan yang paling mudah dipahami anak.
Nasihat yang panjang dapat dilupakan, tetapi perilaku yang dilihat setiap hari sering kali menetap jauh lebih lama di dalam ingatan. Anak mungkin lupa apa yang pernah dikatakan ayah dan ibunya, tetapi ia akan mengingat bagaimana kedua orang tuanya membuat rumah terasa aman.
Dwi Astuti juga mengingatkan pentingnya menghadirkan kasih sayang dalam kehidupan keluarga. Anak membutuhkan lebih dari sekadar makanan, pakaian, dan pendidikan formal. Mereka membutuhkan perhatian, pelukan, percakapan, doa, serta kehadiran orang tua ketika sedang bahagia maupun ketika menghadapi kesulitan.
Sebab terkadang, kebahagiaan seorang anak tidak membutuhkan sesuatu yang mahal.
Cukup seorang ayah yang bersedia mendengarkan cerita kecilnya. Cukup seorang ibu yang memeluk ketika ia menangis. Cukup keluarga yang duduk bersama di meja makan dan saling bertanya tentang hari yang telah dilalui.
Hal-hal sederhana itulah yang kelak menjadi kenangan paling mahal ketika anak-anak telah dewasa dan meninggalkan rumah.
Dalam Bimwin tersebut, Rafi dan Afifah juga diajak memahami bahwa rumah sebagai sekolah pertama membutuhkan kesepahaman antara ayah dan ibu. Keduanya perlu membangun nilai dan aturan keluarga secara bersama agar anak memperoleh arah yang jelas dalam tumbuh kembangnya.
Perbedaan pandangan antara suami dan istri tentu mungkin terjadi. Namun, persoalan tersebut perlu diselesaikan dengan bijaksana dan tidak menjadikan anak sebagai tempat meluapkan emosi.
Anak berhak tumbuh dengan rasa aman. Ia membutuhkan rumah yang menjadi tempat kembali, bukan tempat yang membuatnya takut untuk pulang.
Di dalam rumah, anak pertama-tama belajar tentang kejujuran. Ia belajar bahwa kesalahan harus diakui. Ia belajar bahwa meminta maaf tidak membuat seseorang menjadi rendah. Ia belajar bahwa membantu orang lain adalah kebaikan. Dan ia belajar bahwa sebesar apa pun masalah yang datang, keluarga dapat menghadapinya bersama.
Karena itu, menjadi orang tua bukan tentang menjadi manusia yang sempurna.
Menjadi orang tua adalah kesediaan untuk terus belajar.
Belajar mengendalikan emosi ketika anak melakukan kesalahan. Belajar meminta maaf ketika orang tua keliru. Belajar mendengarkan ketika anak ingin bercerita. Dan belajar mencintai tanpa lelah, bahkan ketika anak belum mampu membalasnya dengan cara yang diharapkan.
Kelak, mungkin Rafi dan Afifah akan memiliki seorang anak yang bertanya, “Ayah, mengapa harus jujur?” atau “Ibu, mengapa kita harus berbuat baik kepada orang lain?”
Pada saat itu, jawaban terbaik bukan hanya keluar dari bibir.
Jawaban itu akan terlihat dari kehidupan mereka sehari-hari.
Jika ayah dan ibu hidup dalam kejujuran, anak akan belajar jujur. Jika keduanya membiasakan ibadah, anak akan belajar mencintai ibadah. Jika mereka saling menghormati, anak akan memahami arti menghargai sesama.
Dengan demikian, rumah menjadi sekolah yang tidak pernah mengenal libur. Tidak ada papan tulis, tetapi setiap hari ada pelajaran. Tidak ada rapor, tetapi kehidupan akan menjadi ujian bagi nilai-nilai yang ditanamkan.
Bagi Rafi Tajdidul Haq dan Afifah Luthfi, materi Bimwin ini menjadi bekal untuk menyadari bahwa pernikahan bukan hanya tentang membangun kehidupan berdua. Di dalamnya terdapat amanah untuk menciptakan lingkungan keluarga yang baik bagi generasi yang akan lahir dari cinta mereka.
Setelah akad terucap, pesta selesai, dan para tamu pulang, kehidupan rumah tangga akan berjalan dalam kesederhanaannya. Akan ada pagi-pagi yang tergesa, malam-malam yang melelahkan, persoalan ekonomi, perbedaan pendapat, juga hari-hari penuh kebahagiaan.
Di tengah semua itu, rumah tetap harus menjadi tempat anak menemukan satu hal yang paling ia butuhkan: rasa dicintai.
Sebab ketika kelak anak-anak tumbuh dewasa dan melangkah jauh, mereka mungkin tidak membawa semua benda yang pernah diberikan orang tuanya. Tetapi mereka akan membawa nilai-nilai yang pernah ditanamkan di rumah.
Mereka akan membawa suara ayah yang mengajarkan kebaikan. Mereka akan membawa doa ibu yang tidak pernah putus. Mereka akan membawa kenangan tentang rumah yang dahulu menjadi tempat paling aman untuk pulang.
Semoga Rafi Tajdidul Haq dan Afifah Luthfi mampu membangun rumah yang menjadi sekolah pertama bagi anak-anak mereka kelak—sekolah yang mengajarkan cinta tanpa syarat, keteladanan tanpa banyak kata, kesabaran dalam menghadapi ujian, dan keberanian untuk selalu memilih kebaikan.
Karena rumah adalah sekolah pertama, ayah dan ibu adalah guru pertama, dan cinta adalah pelajaran pertama yang seharusnya tidak pernah berhenti diajarkan.
Dari rumah yang sederhana, semoga lahir generasi yang mulia. Dari pelukan ayah dan ibu, semoga tumbuh hati yang kuat. Dan dari doa yang diam-diam dipanjatkan setiap malam, semoga lahir anak-anak yang kelak menjadi cahaya bagi keluarga, masyarakat, agama, dan bangsa.
