Bimwin KUA Jatilawang : Kunci Rumah Tangga Penuh Keberkahan
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Pernikahan bukan sekadar pertemuan dua nama dalam sebuah buku nikah. Ia adalah pertemuan dua hati yang memilih untuk berjalan bersama, bukan hanya ketika jalan terbentang indah, tetapi juga ketika kehidupan menghadirkan tanjakan, hujan, bahkan jalan yang terasa begitu panjang. Jumat (02/10)
Pesan itulah yang disampaikan Dedy Purwanto, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada Calon Pengantin (Catin) Ali Priyanto dan Lifia Nur Malikhah dengan materi “Kunci Rumah Tangga Penuh Keberkahan.”
Dalam bimbingan tersebut, Dedy mengajak kedua calon pengantin memahami bahwa keberkahan rumah tangga tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta, kemewahan tempat tinggal, atau sempurnanya kehidupan. Keberkahan justru tumbuh dari hati yang bersyukur, kasih sayang yang dirawat, komunikasi yang dijaga, serta kesediaan suami dan istri untuk saling memahami dalam setiap keadaan.
Menurut Dedy, rumah tangga yang kokoh dibangun dari kesediaan untuk saling menguatkan. Suami bukan hanya tempat seorang istri menggantungkan harapan, begitu pula istri bukan sekadar pendamping dalam keadaan bahagia. Keduanya adalah pasangan perjalanan yang harus saling menggenggam ketika salah satunya mulai lelah.
Ia juga mengingatkan pentingnya komunikasi dalam kehidupan rumah tangga. Banyak persoalan besar terkadang bermula dari hal-hal kecil yang tidak pernah dibicarakan. Sebaliknya, masalah yang berat dapat terasa lebih ringan ketika suami dan istri mau duduk bersama, berbicara dengan lembut, mendengarkan dengan hati, serta menghindari sikap saling menyalahkan.
Rumah, lanjutnya, semestinya menjadi tempat pertama untuk pulang ketika dunia terasa melelahkan. Di sanalah seorang suami menemukan ketenangan dalam senyum istrinya, dan seorang istri menemukan kekuatan dalam kesetiaan suaminya.
Bimwin juga menjadi ruang bagi Ali dan Lifia untuk memahami bahwa kehidupan setelah akad nikah tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Akan ada perbedaan karakter, kebiasaan, cara berpikir, kondisi ekonomi, hingga persoalan keluarga yang mungkin menguji kesabaran.
Namun, perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh. Justru dari perbedaan itulah suami dan istri belajar menjadi dewasa, belajar mengalah tanpa merasa kalah, belajar meminta maaf tanpa kehilangan harga diri, dan belajar memaafkan tanpa terus mengungkit masa lalu.
Dedy menekankan bahwa keberkahan juga lahir dari cara pasangan menjalankan peran dan tanggung jawab dengan penuh keikhlasan. Nafkah yang diberikan dengan jujur, pekerjaan rumah yang dilakukan dengan tulus, perhatian kecil yang diberikan setiap hari, serta doa yang dipanjatkan bersama merupakan bagian dari perjalanan menuju keluarga yang penuh ketenteraman.
Sebab terkadang, kebahagiaan rumah tangga tidak hadir dalam sesuatu yang besar. Ia bersembunyi dalam secangkir teh yang disiapkan dengan cinta, dalam pertanyaan sederhana, “Sudah makan?”, dalam menunggu pasangan pulang, atau dalam genggaman tangan ketika salah satu sedang menghadapi kesulitan.
Bagi Ali dan Lifia, Bimwin bukan sekadar materi yang harus didengarkan sebelum mengucapkan akad. Ia merupakan bekal untuk memahami bahwa pernikahan adalah ibadah panjang yang membutuhkan ilmu, kesabaran, kesetiaan, dan doa.
Kelak, ketika pesta telah usai dan para tamu kembali ke rumah masing-masing, ketika pakaian pengantin disimpan dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa, di sanalah sesungguhnya perjalanan mereka dimulai.
Tidak ada rumah tangga yang selalu dipenuhi tawa. Tidak ada pasangan yang selamanya sempurna. Tetapi selalu ada kesempatan untuk memilih tetap bergandengan tangan, setiap kali kehidupan mengajarkan arti kesabaran.
Pada akhirnya, rumah tangga yang penuh keberkahan bukanlah rumah tempat dua manusia tanpa kekurangan bertemu. Ia adalah rumah tempat dua manusia yang memiliki kekurangan memilih untuk saling menerima, saling menjaga, saling mendoakan, dan saling menguatkan.
Semoga Ali Priyanto dan Lifia Nur Malikhah mampu menjadikan pernikahan mereka sebagai perjalanan panjang menuju keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah—rumah yang tidak hanya indah ketika dipandang, tetapi juga menenangkan ketika dihuni.
Sebab cinta yang paling indah bukanlah cinta yang hanya berkata, “Aku akan bersamamu ketika bahagia.” Melainkan cinta yang dengan penuh ketulusan mampu berbisik, “Jika suatu hari langkahmu melemah, aku akan menggenggam tanganmu. Kita pulang dan berjalan bersama.”
