HUT RI #81

Didik Anak dengan Cinta, Keteladanan, dan Ketegasan Adalah Pesan KUA Jatilawang Kepada Catin

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Setiap anak lahir membawa harapan. Di matanya ada masa depan, di langkah kecilnya ada cita-cita, dan di dalam hatinya ada ruang kosong yang menunggu diisi oleh cinta, keteladanan, serta nilai-nilai kehidupan. (Jum’at, 2/10)

Karena itu, menjadi orang tua bukan sekadar memiliki anak, tetapi menerima amanah untuk menemani sebuah jiwa tumbuh dan mengenal dunia.

Pesan tersebut disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada Calon Pengantin (Catin) Hendra Kusdiliansah dan Isfa Nur Rohmah dengan materi “Mendidik Anak dengan Cinta, Keteladanan, dan Ketegasan.”

Dalam bimbingan tersebut, Muhammad Taubah mengajak kedua calon pengantin mempersiapkan diri bukan hanya sebagai pasangan suami istri, tetapi juga sebagai calon ayah dan ibu yang kelak memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter anak.

Menurutnya, pendidikan anak sejatinya dimulai jauh sebelum seorang anak mengenal sekolah. Rumah merupakan sekolah pertama, sedangkan ayah dan ibu adalah guru pertama yang setiap hari memberikan pelajaran melalui ucapan, sikap, dan perilaku.

Anak mungkin belum mampu memahami nasihat panjang. Namun, mereka mampu melihat bagaimana ayah memperlakukan ibu, bagaimana ibu berbicara kepada ayah, bagaimana orang tua menghadapi masalah, serta bagaimana keduanya meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

Karena itu, keteladanan menjadi bagian penting dalam pendidikan anak. Orang tua tidak cukup hanya mengatakan kepada anak agar berkata jujur, sementara anak melihat kebohongan di rumah. Tidak cukup meminta anak rajin beribadah jika orang tua sendiri tidak memberikan contoh. Anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar, tetapi terutama dari apa yang dilihat setiap hari.

Muhammad Taubah juga mengingatkan pentingnya menghadirkan cinta dalam proses mendidik anak. Cinta bukan berarti membiarkan semua keinginan anak terpenuhi. Cinta justru terkadang hadir dalam bentuk nasihat, batasan, bahkan ketegasan ketika anak membutuhkan arah.

Ketegasan yang diberikan dengan kasih sayang berbeda dengan kekerasan. Ketegasan mengajarkan anak tentang batas antara yang baik dan yang tidak baik, antara hak dan kewajiban, serta antara kebebasan dan tanggung jawab.

Anak perlu mengetahui bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Namun, ketika memberikan teguran, orang tua tetap perlu menjaga harga diri dan perasaan anak. Kesalahan perilakunya yang diperbaiki, bukan martabat dirinya yang direndahkan.

Di sinilah keseimbangan antara cinta dan ketegasan menjadi penting.

Terlalu memanjakan dapat membuat anak sulit memahami tanggung jawab. Sebaliknya, terlalu keras dapat membuat anak tumbuh dengan rasa takut dan enggan membuka hati kepada orang tuanya.

Mendidik anak membutuhkan hati yang lembut sekaligus sikap yang tegas.

Bimwin tersebut juga menjadi ruang bagi Hendra dan Isfa untuk memahami pentingnya membangun kesepakatan dalam mendidik anak. Ayah dan ibu perlu berjalan dalam arah yang sama agar anak tidak kebingungan ketika menerima aturan di rumah.

Ketika seorang anak melakukan kesalahan, orang tua sebaiknya tidak saling menyalahkan di hadapannya. Sebaliknya, ayah dan ibu perlu menjadi satu tim yang membantu anak memahami kesalahan sekaligus menemukan cara untuk memperbaikinya.

Sebab ada satu hal yang sering terlupakan: anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang hadir.

Hadir ketika ia berhasil. Hadir ketika ia gagal. Hadir ketika ia tertawa. Dan terlebih lagi, hadir ketika ia menangis. Kelak, mungkin anak tidak akan mengingat berapa mahal mainan yang pernah dibelikan orang tuanya. Ia mungkin juga tidak mengingat berapa banyak uang yang pernah dihabiskan untuk memenuhi keinginannya. Namun, ia akan mengingat tangan yang pernah menggenggamnya ketika takut, pelukan ketika sedih, nasihat ketika tersesat, dan sosok ayah serta ibu yang tetap percaya kepadanya ketika dunia terasa tidak berpihak.

Karena itu, pendidikan anak sesungguhnya bukan hanya tentang mencetak anak agar pintar, tetapi menumbuhkan manusia yang memiliki akhlak, tanggung jawab, empati, keberanian, dan hati yang baik.

Bagi Hendra dan Isfa, materi Bimwin ini menjadi bekal penting untuk mempersiapkan masa depan keluarga. Pernikahan bukan hanya tentang bagaimana dua orang saling mencintai, tetapi juga tentang bagaimana kelak mereka mampu menghadirkan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang generasi berikutnya.

Setelah akad terucap dan kehidupan rumah tangga dimulai, akan tiba waktunya sebuah tangan kecil menggenggam jari mereka. Pada saat itu, mereka akan memahami bahwa amanah terbesar bukan sekadar membesarkan tubuh seorang anak, tetapi menuntun hatinya agar mengenal kebaikan.

Semoga Hendra Kusdiliansah dan Isfa Nur Rohmah kelak menjadi ayah dan ibu yang mampu mendidik dengan hati yang penuh cinta, memberikan teladan melalui tindakan, serta menanamkan ketegasan dengan kelembutan.

Sebab anak-anak adalah halaman putih tempat orang tua menuliskan jejak kehidupan. Dan setiap kata, setiap sikap, bahkan setiap air mata yang jatuh di hadapan mereka, bisa menjadi pelajaran yang mereka bawa hingga dewasa.

Barangkali kelak anak-anak tidak mengingat semua nasihat yang pernah kita ucapkan. Tetapi mereka akan mengingat bagaimana kita membuat mereka merasa dicintai.

Dari rumah yang penuh cinta, lahirlah hati yang mengenal kasih sayang. Dari keteladanan, tumbuh pribadi yang berakhlak. Dan dari ketegasan yang penuh kasih, lahirlah generasi yang mampu berjalan tegak menghadapi kehidupan.