HUT RI #81

Fatayat dan Muslimat Banjaranyar Rawat Tradisi, Bangun SDM, dan Perkuat Pilar Keluarga

Oleh KUA Sokaraja
SHARE

Sokaraja — Suasana kebersamaan tampak dalam kegiatan rutin Fatayat dan Muslimat NU Banjaranyar yang berlangsung di Masjid Al Islah, Banjaranyar, Kecamatan Sokaraja. Kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi, penguatan keagamaan, sekaligus upaya membangun sumber daya manusia (SDM) perempuan yang berdaya dan berkompeten. Jumat (02/10)

Kegiatan rutin ini tidak sekadar menjadi agenda perkumpulan. Di dalamnya terdapat semangat untuk menjaga tradisi organisasi, memperkuat ukhuwah, serta membuka ruang pembelajaran bagi para perempuan NU agar terus berkembang dalam menghadapi dinamika kehidupan keluarga dan masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Sokaraja turut mengambil peran dalam pengembangan ekonomi dan peningkatan kualitas SDM. Pendampingan tersebut diarahkan agar organisasi tidak hanya kuat dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga mampu menjadi ruang pemberdayaan yang memberikan manfaat nyata bagi anggota dan masyarakat.

Penguatan ekonomi keluarga menjadi salah satu bagian penting. Perempuan memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan keluarga, baik melalui pengelolaan ekonomi rumah tangga, peningkatan keterampilan, maupun kemampuan mengambil keputusan secara bijaksana.

“Perempuan yang kuat bukan hanya yang mampu berdiri sendiri, tetapi yang mampu menjadi sumber keteduhan bagi keluarganya dan memberikan manfaat bagi lingkungannya.”

Karena itu, pengembangan SDM dan ekonomi dapat menjadi salah satu fondasi untuk memperkuat pilar organisasi NU yang kompeten, sekaligus membawa nilai-nilai organisasi ke dalam kehidupan keluarga.

Lebih jauh, kegiatan Fatayat dan Muslimat juga memiliki makna penting dalam membangun rumah tangga yang sakinah, harmonis, dan berbudaya. Nilai keagamaan, tradisi, gotong royong, serta komunikasi yang baik menjadi bekal penting dalam membentuk keluarga yang tidak hanya bertahan menghadapi perubahan zaman, tetapi juga mampu memberikan keteladanan kepada generasi berikutnya.

Masjid Al Islah dalam konteks ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya masyarakat. Dari majelis dan perkumpulan yang sederhana, lahir silaturahmi; dari silaturahmi tumbuh kepedulian; dan dari kepedulian dapat lahir pemberdayaan.

Keterlibatan Penyuluh Agama Islam KUA Sokaraja menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan penyuluhan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Agama tidak berhenti pada nasihat, tetapi diterjemahkan menjadi gerakan nyata untuk membangun keluarga, meningkatkan kualitas manusia, dan memperkuat kehidupan sosial.

Pada akhirnya, rutinitas Fatayat dan Muslimat Banjaranyar memberikan pesan sederhana: organisasi akan tetap hidup ketika anggotanya terus belajar, keluarga akan semakin kokoh ketika dibangun dengan nilai agama dan budaya, dan masyarakat akan maju ketika perempuan diberi ruang untuk tumbuh serta berkontribusi.

Dari Masjid Al Islah, semangat itu terus dirawat—pelan, sederhana, tetapi memiliki arti bagi masa depan keluarga dan masyarakat.