Kehidupan Selalu Punya Cara Indah Untuk Berikan Kejutan
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Tidak semua kisah cinta dimulai dari usia muda, dan tidak semua kebahagiaan datang pada halaman pertama kehidupan. Ada hati yang pernah terluka, ada langkah yang sempat kehilangan arah, lalu pada suatu waktu Allah mempertemukan dua insan untuk kembali percaya bahwa hidup masih menyimpan kesempatan untuk bahagia. Dalam suasana khidmat dan penuh haru, Ulul Albab, Penghulu KUA Jatilawang, melaksanakan pencatatan nikah dan ijab qabul Duda Purnomo dan Sri Purnomowati. Jumat (14/08)
Prosesi pencatatan nikah dan ijab qabul berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan. Ulul Albab menjalankan tugas kepenghuluan dengan memastikan rangkaian pernikahan terlaksana sesuai ketentuan yang berlaku. Di balik pencatatan dua nama dalam dokumen pernikahan, tersimpan sebuah kisah tentang keberanian untuk kembali membuka hati dan menata kehidupan bersama.
Pernikahan Duda Purnomo dan Sri Purnomowati menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk mencintai dan dicintai tidak mengenal batas usia. Hidup terkadang membawa seseorang melewati jalan yang tidak pernah direncanakan. Ada perpisahan yang menyisakan sunyi, ada kehilangan yang membuat seseorang belajar berdamai dengan masa lalu, dan ada hari-hari ketika seseorang hanya mampu bertahan sambil menunggu takdir membuka pintu berikutnya.
Namun kehidupan selalu memiliki cara yang indah untuk memberikan kejutan.
Ketika lafaz ijab qabul terucap, suasana menjadi hening. Kalimat yang singkat itu membawa amanah panjang: kesediaan untuk saling menerima, menghormati, menjaga, dan menemani. Bukan janji bahwa perjalanan ke depan akan selalu mudah, melainkan tekad untuk menghadapi segala keadaan dengan hati yang tidak mudah menyerah.
Bagi Duda Purnomo dan Sri Purnomowati, pernikahan ini bukanlah tentang menghapus masa lalu. Masa lalu adalah bagian dari perjalanan yang telah membentuk mereka menjadi pribadi seperti sekarang. Pernikahan ini adalah tentang memandang hari esok dengan lebih berani, sembari menerima bahwa setiap manusia memiliki cerita, luka, dan perjalanan yang berbeda.
Tidak ada manusia yang datang ke dalam pernikahan tanpa membawa masa lalu. Yang paling penting adalah bagaimana dua hati memilih menjadikan masa lalu sebagai pelajaran, bukan sebagai alasan untuk merusak masa depan.
Di usia yang telah melewati berbagai pengalaman, keduanya tentu memahami bahwa cinta bukan sekadar kata-kata manis. Cinta adalah kesediaan untuk saling menghormati ketika pendapat berbeda, saling menguatkan ketika tubuh dan pikiran lelah, serta saling memaafkan ketika kekhilafan terjadi.
Ada kalanya kehidupan menghadirkan hari yang cerah. Namun ada pula hari ketika langit seolah terlalu berat untuk tersenyum. Pada saat seperti itulah pasangan menjadi tempat berteduh—bukan karena ia mampu menghilangkan seluruh masalah, tetapi karena kehadirannya membuat seseorang merasa tidak harus menghadapi semuanya seorang diri.
Kehadiran Ulul Albab sebagai Penghulu KUA Jatilawang dalam pencatatan nikah dan ijab qabul tersebut menjadi bagian dari pelayanan kepada masyarakat sekaligus saksi dimulainya babak baru kehidupan dua insan. Pencatatan pernikahan memberikan kepastian administratif, sementara akad menjadi ikrar yang mengikat keduanya dalam tanggung jawab kehidupan rumah tangga.
Dari peristiwa tersebut, ada pesan sederhana namun mendalam bagi siapa pun yang pernah merasa bahwa kesempatan bahagia telah berakhir: jangan pernah menganggap sebuah kehilangan sebagai akhir dari seluruh cerita.
Sebab terkadang Allah menutup satu pintu bukan untuk membuat manusia selamanya tinggal dalam kesedihan, melainkan untuk mengajarkannya menemukan pintu lain yang lebih sesuai dengan perjalanan hidupnya.
Mungkin ada seseorang yang pernah gagal dalam membangun rumah tangga. Mungkin pernah ada air mata yang jatuh sendirian. Mungkin pernah ada malam panjang ketika seseorang bertanya, “Apakah aku masih akan menemukan kebahagiaan?”
Kisah Duda Purnomo dan Sri Purnomowati seolah menjawab dengan lembut: selama Allah masih memberikan usia, harapan tidak pernah benar-benar selesai.
Semoga pernikahan keduanya menjadi jalan menuju ketenteraman dan keberkahan. Semoga Duda Purnomo dan Sri Purnomowati mampu saling menerima dengan segala kelebihan dan kekurangan, saling menjaga kehormatan, serta saling menguatkan dalam menjalani hari-hari yang akan datang.
Semoga rumah tangga yang dibangun menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah—rumah yang tidak menuntut kesempurnaan, tetapi menghadirkan ketulusan; tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi menyediakan bahu untuk bersandar ketika masalah datang.
Dan kelak, ketika usia semakin senja dan rambut mulai memutih, semoga keduanya dapat duduk berdampingan sambil mengenang perjalanan panjang yang telah mereka lalui.
Mungkin akan ada cerita tentang hari-hari sulit. Ada air mata yang pernah jatuh. Ada perbedaan yang pernah menguji. Tetapi semoga pada akhirnya mereka tersenyum dan berkata:
“Ternyata Allah belum selesai menulis kebahagiaan untuk kita.”
Selamat menempuh kehidupan baru, Duda Purnomo dan Sri Purnomowati.
Semoga akad hari ini menjadi awal dari rumah yang penuh keteduhan. Semoga masa lalu menjadi guru, hari ini menjadi syukur, dan masa depan menjadi ruang bagi keduanya untuk menanam lebih banyak kebaikan.
Sebab cinta tidak selalu datang pada waktu yang kita inginkan. Kadang ia datang setelah luka mengajarkan kita tentang kehilangan, setelah kesunyian mengajarkan kita tentang arti kehadiran, dan setelah perjalanan panjang membuat kita memahami bahwa rumah bukan selalu tempat—melainkan seseorang yang membuat hati akhirnya merasa aman untuk pulang.
