HUT RI #81

Sebelum Ucap Janji, Siapkan Hati

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Pernikahan bukan sekadar tentang dua insan yang telah menemukan cinta, tetapi tentang dua hati yang bersedia memikul tanggung jawab bersama. Sebelum memasuki gerbang kehidupan baru, Ahmad Muttaqin, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Panji Prasetiawan dan Desy Rohmadhani dengan materi “Kesiapan Mental Menjelang Pernikahan.” Jumat (14/08)

Dalam bimbingan yang berlangsung dengan suasana hangat dan komunikatif, Ahmad Muttaqin mengajak kedua calon pengantin menyadari bahwa kesiapan menikah tidak cukup hanya dengan menyiapkan administrasi, tempat tinggal, perlengkapan pernikahan, maupun pesta. Yang jauh lebih penting adalah mempersiapkan hati dan mental untuk menjalani kehidupan bersama—kehidupan yang tidak selalu menghadirkan hari-hari indah.

Menurut Ahmad Muttaqin, pernikahan adalah perjalanan yang membutuhkan kedewasaan. Setelah akad terucap, pasangan tidak hanya berbagi kebahagiaan, tetapi juga belajar menghadapi perbedaan karakter, persoalan ekonomi, perubahan kondisi keluarga, tuntutan pekerjaan, serta berbagai ujian yang mungkin datang tanpa pernah diminta.

Karena itu, kesiapan mental menjadi fondasi penting. Calon suami dan calon istri perlu belajar mengelola emosi, berkomunikasi secara sehat, menghormati perbedaan, mengambil keputusan bersama, serta memiliki keberanian untuk meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Rumah tangga yang kuat bukan dibangun oleh manusia yang tidak pernah marah, tetapi oleh dua insan yang mampu mengendalikan amarah dan memilih menyelesaikan masalah dengan kasih sayang.

Ahmad Muttaqin juga mengingatkan Panji dan Desy agar tidak membangun rumah tangga dengan bayangan bahwa pasangan akan selalu sesuai dengan harapan. Setiap manusia memiliki latar belakang, kebiasaan, kelebihan, dan kekurangan. Kesiapan mental berarti bersedia menerima kenyataan bahwa kehidupan berumah tangga adalah proses panjang untuk saling mengenal dan menyesuaikan diri.

“Menikah berarti siap menerima hari-hari yang tidak selalu mudah,” pesan Ahmad Muttaqin. “Ketika bahagia, jangan lupa bersyukur. Ketika diuji, jangan buru-buru menyerah. Ingat bahwa pasangan adalah teman seperjalanan, bukan lawan yang harus dikalahkan.”

Nasihat tersebut menyimpan pesan yang dalam. Sebab banyak orang mempersiapkan pesta pernikahan dengan sangat matang, tetapi lupa mempersiapkan hati untuk hari-hari setelah pesta berakhir. Padahal, ketika tamu telah pulang, dekorasi telah dibongkar, dan pakaian pengantin telah disimpan, kehidupan yang sesungguhnya justru baru dimulai.

Akan ada pagi ketika seseorang bangun dalam keadaan lelah. Akan ada malam ketika persoalan membuat hati sesak. Akan ada perbedaan pendapat yang menguji kesabaran. Pada saat itulah kesiapan mental menjadi penyangga agar rumah tangga tidak mudah goyah hanya karena satu masalah.

Pernikahan juga mengajarkan bahwa mencintai seseorang berarti bersedia hadir bukan hanya ketika ia sedang tersenyum, tetapi juga ketika ia sedang rapuh. Ada kalanya pasangan membutuhkan nasihat, tetapi ada saat lain ia hanya membutuhkan telinga yang mau mendengar dan tangan yang tidak melepaskan.

Bimbingan Perkawinan yang diberikan Ahmad Muttaqin menjadi bekal bagi Panji Prasetiawan dan Desy Rohmadhani untuk menapaki kehidupan baru dengan kesadaran yang lebih matang. Keduanya diharapkan mampu membangun rumah tangga yang tidak hanya berlandaskan rasa cinta, tetapi juga iman, tanggung jawab, kesetiaan, komunikasi, dan ketahanan menghadapi berbagai ujian.

Semoga setiap pesan yang disampaikan menjadi bekal yang menetap dalam hati. Semoga Panji dan Desy kelak mampu melewati masa-masa sulit tanpa saling meninggalkan, mampu merawat kebahagiaan tanpa lupa bersyukur, dan mampu menjadikan rumah sebagai tempat paling aman untuk pulang.

Sebab pada akhirnya, pernikahan bukan janji bahwa hidup akan selalu mudah. Pernikahan adalah janji bahwa ketika hidup menjadi sulit, ada dua hati yang bersedia berkata, “Kita hadapi bersama.”

Semoga Panji Prasetiawan dan Desy Rohmadhani menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah—keluarga yang bukan hanya bahagia ketika dunia tersenyum, tetapi tetap saling menggenggam ketika dunia sedang menguji.

Dan kelak, ketika rambut mulai memutih dan waktu telah membawa mereka jauh dari hari ini, semoga keduanya menoleh ke belakang dengan mata berkaca-kaca, lalu menyadari bahwa keputusan untuk saling menjaga, saling memaafkan, dan tetap bertahan dalam kebaikan adalah salah satu bentuk cinta paling indah yang pernah Allah titipkan dalam hidup mereka.