Penyuluh KUA Ajak Jamaah Mengelola Hati Dengan Muhasabah
Oleh KUA patikraja
(Patikraja) -- Dalam upaya memperkuat pemahaman keagamaan dan membangun kesadaran spiritual masyarakat, Penyuluh Agama Islam KUA Patikraja, Wahidah, melaksanakan kegiatan penyuluhan agama di Majlis Taklim PRA (Pimpinan Ranting 'Aisyiyah) Desa Kedungwuluh Kidul Kecamatan Patikraja. Selasa (12/05).
Kegiatan yang berlangsung penuh khidmat tersebut dihadiri jamaah majelis taklim dari berbagai kalangan masyarakat. Suasana hangat dan kekeluargaan begitu terasa selama penyampaian materi, di mana para jamaah tampak antusias menyimak tausiyah yang disampaikan.
Dalam penyuluhan itu, Wahidah mengangkat tema “Mengelola Hati Dengan Muhasabah”. Tema tersebut dipilih sebagai pengingat bagi masyarakat bahwa kebahagiaan sejati bukan semata-mata diukur dari banyaknya harta, jabatan, maupun kesuksesan duniawi, melainkan dari kualitas hubungan seseorang dengan Allah SWT serta upaya memperbaiki diri dalam kehidupan sehari-hari.
Pada kesempatan tersebut, Wahidah menyampaikan sebuah nasihat penuh makna melalui ungkapan:
"Dzikirudz dzunubil madhiyah, nisyanul hasanatil madhiyah, wa nazharu ila man dunahu fid dunya, wa nazharu ila man fauqahu fid din." yang berarti:, Selalu mengingat kesalahan masa lalu, Melupakan kebaikan yang pernah dilakukan, Melihat orang lain yang berada di bawah secara ekonomi dan Melihat orang lain yang lebih tinggi dalam urusan agama.
"Mengapa kita harus berbicara masalah hati? Karena:
1, Allah melihat dan amal manusia, bukan melihat pakaian dan hartanya.
Kalau hatinya baik maka baiklah semua amalnya, begitu juga sebaliknya.
Hati adalah penyelamat insan disaat harta dan anak-anak tidak berguna lagi.
Kehidupan yang hakiki adalah kehidupan hati.
Semua kehidupan manusia ada di hatinya." Ungkapnya.
“Ketika seseorang selalu mengingat dosa dan kesalahan masa lalunya, maka akan tumbuh rasa penyesalan dalam dirinya dan mendorongnya untuk memperbanyak istighfar kepada Allah SWT,” ujar Wahidah di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan bahwa kesadaran atas kekurangan diri akan menjadikan seseorang lebih rendah hati, tidak mudah merasa paling baik, serta lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan.
Dalam tausiyah tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya menumbuhkan rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan melihat kondisi orang lain yang secara ekonomi berada di bawah diri kita.
“Ketika kita melihat orang lain yang kehidupannya lebih sulit, maka hati akan lebih mudah bersyukur atas nikmat yang Allah berikan dan tidak mudah mengeluh,” katanya.
Sementara itu, dalam urusan agama dan ibadah, Wahidah mengajak jamaah untuk melihat kepada orang-orang yang lebih baik ilmu, akhlak, dan ketakwaannya agar tumbuh motivasi untuk terus belajar dan memperbaiki kualitas keimanan.
“Kalau dalam urusan dunia kita dianjurkan melihat ke bawah agar bersyukur, maka dalam urusan agama kita harus melihat ke atas agar muncul semangat memperbaiki ibadah dan akhlak,” tambahnya.
Kegiatan penyuluhan agama tersebut merupakan bagian dari program pembinaan umat yang rutin dilaksanakan KUA Kecamatan Patikraja dalam rangka meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat serta memperkuat nilai-nilai spiritual di tengah kehidupan sosial masyarakat.
Di akhir kegiatan, para jamaah menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas tausiyah yang disampaikan Wahidah, serta berharap lebih sering bisa hadir di Majlis Taklim tersebut. (Ida W)
