Penyuluh Dorong UMKM Seni Kaligrafi Sokaraja Manfaatkan Digital Marketing
Oleh KUA Sokaraja
Sokaraja — Penyuluh Agama Islam Suroso bersama Zen Ahmad dan Nasrudin, pengrajin seni kaligrafi di wilayah Sokaraja hingga Banyumas, mendorong pelaku usaha seni kaligrafi untuk mulai memanfaatkan perkembangan teknologi digital sebagai sarana pemasaran. Jumat (25/09)
Kegiatan tersebut berlangsung di rumah Zen Ahmad, Sokaraja Lor. Pertemuan ini menjadi salah satu upaya untuk melihat perkembangan usaha seni kaligrafi sekaligus membahas tantangan pemasaran yang dihadapi para pengrajin di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Seni kaligrafi merupakan salah satu bentuk karya seni yang memiliki nilai keindahan sekaligus berkaitan erat dengan budaya dan kehidupan keagamaan masyarakat. Namun, di tengah perkembangan zaman, keberadaan kerajinan kaligrafi menghadapi tantangan baru, khususnya dalam hal pemasaran.
Suroso mengatakan, perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membuat pola pemasaran dan minat masyarakat turut mengalami perubahan. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi para pengrajin seni kaligrafi agar dapat menyesuaikan diri tanpa meninggalkan nilai seni dan tradisi yang selama ini telah dikembangkan.
Menurutnya, komunitas pengrajin seni kaligrafi yang berada di wilayah Sokaraja dan sekitarnya merupakan bagian dari para pelaku seni yang telah dikenal sejak lama. Karya-karya mereka pernah memiliki pasar dan peminat tersendiri. Namun, seiring perubahan zaman, pemasaran produk kaligrafi mulai mengalami penurunan.
“Harapannya, seni kaligrafi yang sudah berkembang dan dikenal sejak lama ini tidak berhenti begitu saja. Para pengrajin dapat memanfaatkan media sosial dan digital marketing untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat yang lebih luas,” ujar Suroso.
Zen Ahmad dan Nasrudin sebagai pengrajin kaligrafi juga terus mempertahankan keterampilan dan karya seni yang telah mereka tekuni. Wilayah pemasaran hasil kerajinan mereka mencakup Sokaraja hingga sejumlah wilayah di Banyumas.
Pemanfaatan media sosial dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperluas pemasaran. Melalui foto dan video yang menarik, proses pembuatan kaligrafi maupun hasil karya dapat diperkenalkan kepada calon konsumen tanpa terbatas oleh wilayah pemasaran secara langsung.
Selain membantu meningkatkan pemasaran, digitalisasi juga diharapkan dapat memperkenalkan seni kaligrafi kepada generasi muda. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengenal kaligrafi sebagai karya seni tradisional, tetapi juga melihatnya sebagai produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.
Upaya tersebut sekaligus menjadi langkah untuk menjaga keberlangsungan seni kaligrafi di tengah perubahan zaman. Penggabungan antara keterampilan tradisional para pengrajin dengan strategi pemasaran digital diharapkan mampu membuka peluang pasar baru sekaligus mempertahankan keberadaan seni kaligrafi di wilayah Sokaraja dan Banyumas.
Ke depan, para pengrajin diharapkan semakin aktif menggunakan berbagai platform media sosial untuk menampilkan katalog karya, proses pembuatan, serta informasi pemesanan. Dengan strategi pemasaran yang lebih modern, seni kaligrafi diharapkan tetap berkembang, memiliki nilai ekonomi, dan tidak tergerus oleh kemajuan digitalisasi.
