Menyemai Cahaya di Setiap Langkah: Kisah Dedikasi Nuryati, Penyuluh Agama dari Somagede
Oleh KUA SomagedeBanyumas – Semangat pengabdian seorang Penyuluh Agama Islam bukanlah sekadar profesi, melainkan sebuah panggilan jiwa. Kalimat ini rasanya sangat tepat untuk menggambarkan ritme kerja Nuryati, salah satu Penyuluh Agama Islam di KUA Somagede. Baginya, lelah adalah kawan karib yang selalu kalah oleh semangat untuk memberikan bimbingan keagamaan kepada masyarakat. Kamis (21/05)
Hari Nuryati dimulai sejak pagi buta. Tepat pukul 07.30 WIB, saat suasana kantor masih tenang, ia sudah berada di meja kerja untuk menyusun rencana kegiatan dan menyiapkan materi bimbingan. Ketelitian dalam perencanaan ini menjadi fondasi penting sebelum ia terjun ke lapangan.
Setelah semua persiapan matang, tepat pukul 09.15 WIB, langkahnya membawa beliau menuju Rutan Kelas 2B Banyumas. Bersama rekan penyuluh dari KUA Sumpiuh, Nuryati memasuki Blok Putri. Di sana, suasana dingin jeruji besi berubah menjadi hangat saat ia memberikan bimbingan Baca Tulis Al-Qur'an (BTQ). Hingga pukul 10.30 WIB, ia dengan sabar menuntun para warga binaan untuk kembali menemukan kedamaian melalui ayat-ayat suci.
Selepas dari Rutan, Nuryati tak lantas beristirahat. Ia langsung memacu kendaraannya menuju Majelis Taklim Al Mawaddah di Desa Kanding. Bersama tim Penyuluh Agama Islam KUA Somagede lainnya, ia kembali mengajarkan BTQ bagi para jamaah yang antusias menimba ilmu.
Usai menunaikan kewajiban shalat Dhuhur di kantor, agenda berikutnya telah menanti di MI At Tijani Sokawera. Di sini, giliran siswa-siswi kelas V yang mendapatkan sentuhan ilmu dari Nuryati dan tim. Keceriaan anak-anak menjadi energi tambahan baginya untuk terus mengajar tanpa henti.
Bagi seorang Nuryati, jam pulang kantor bukanlah akhir dari tugas. Pukul 16.00 WIB, saat sebagian orang mulai beristirahat di rumah, ia justru sudah dinanti oleh puluhan santri di TPQ At Taqwa. Hingga menjelang Maghrib, suaranya masih terdengar lantang membimbing generasi muda mengenal huruf demi huruf hijaiyah.
"Sejenak kami harus melupakan segala kekalutan dan segudang permasalahan di rumah. Tugas pelayanan kepada masyarakat harus tetap menjadi prioritas utama," ungkapnya tersirat dalam setiap langkah pengabdiannya.
Peran penyuluh agama seperti Nuryati mencakup spektrum yang luas, antara lain:
-
Bimbingan & Penyuluhan: Mengajar BTQ dan pemahaman agama.
-
Layanan Konsultasi: Menjadi tempat bertanya bagi masyarakat terkait masalah keagamaan.
-
Administrasi & Pelayanan KUA: Menyelesaikan laporan hingga membantu layanan Bimbingan Perkawinan (Bimwin).
Kisah Nuryati hanyalah satu dari sekian banyak potret pejuang literasi agama di Indonesia. Di balik seragam mereka, tersimpan tekad baja untuk terus berkhidmat dan mengabdi pada bangsa dan negara.
Tetap semangat untuk seluruh Penyuluh Agama! Teruslah menyalakan pelita di tengah masyarakat. (Nuryati)
