Menjaga Janji Kesetiaan Hingga Ujung Usia
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Pernikahan bukan sekadar tentang hari bahagia yang dihiasi senyum dan doa. Ia adalah perjalanan panjang yang kelak akan dipenuhi berbagai musim kehidupan—bahagia dan air mata, kelapangan dan kesempitan, sehat dan sakit. Di atas semua itu, ada satu nilai yang menjadi tiang penyangga rumah tangga: kesetiaan. Rabu (13/05)
Nilai itulah yang disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada pasangan calon pengantin Arif Safrudi dan Tia Maharani. Dalam suasana sederhana namun penuh keteduhan, keduanya mendapatkan pembekalan mengenai makna kesetiaan dalam kehidupan rumah tangga hingga maut memisahkan.
Dengan tutur kata yang lembut dan menyentuh hati, Muhammad Taubah menjelaskan bahwa cinta dalam pernikahan bukan hanya tentang rasa yang menggebu di awal pertemuan, melainkan tentang kesediaan dua insan untuk tetap bertahan dan saling menjaga ketika kehidupan tidak lagi berjalan mudah.
“Kesetiaan adalah tentang tetap menggenggam tangan pasangan, bahkan ketika dunia terasa berat. Pernikahan yang kuat bukanlah rumah tangga tanpa ujian, tetapi rumah tangga yang mampu bertahan menghadapi ujian bersama-sama,” tuturnya.
Arif Safrudi dan Tia Maharani tampak menyimak dengan penuh perhatian. Sesekali suasana menjadi hening ketika pembahasan menyentuh tentang pengorbanan, kesabaran, dan pentingnya menjaga komitmen dalam kehidupan berumah tangga. Di ruang bimbingan itu, bukan hanya ilmu yang disampaikan, tetapi juga nilai-nilai kehidupan yang menguatkan hati.
Muhammad Taubah juga menekankan bahwa kesetiaan bukan sekadar bertahan secara fisik, melainkan menjaga hati, menghormati pasangan, dan tetap membersamai dalam setiap keadaan. Sebab cinta sejati tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari ketulusan untuk saling menerima kekurangan dan tetap memilih satu sama lain setiap hari.
Bimbingan perkawinan tersebut berlangsung hangat dan penuh makna. Dalam kesederhanaannya, kegiatan itu menjadi ruang refleksi bagi calon pengantin agar memahami bahwa akad nikah bukan garis akhir dari perjalanan cinta, melainkan langkah awal menuju perjuangan panjang membangun keluarga yang sakinah.
KUA Jatilawang melalui kegiatan Bimwin terus berupaya membekali calon pengantin dengan nilai-nilai kehidupan berkeluarga yang kuat dan manusiawi. Tidak hanya mempersiapkan administrasi pernikahan, tetapi juga menanamkan kesiapan mental dan spiritual agar rumah tangga yang dibangun mampu bertahan menghadapi zaman.
Di balik nasihat tentang kesetiaan itu, tersimpan harapan besar agar setiap pasangan mampu menjaga janji sucinya hingga rambut memutih dan usia melemah. Karena pada akhirnya, cinta yang paling indah bukanlah cinta yang datang dengan gemuruh, melainkan cinta yang tetap tinggal, bertahan, dan setia hingga akhir hayat.
