HUT RI #81

Lika-Liku Tantangan Membina Santri Balita TPQ Kemala Bhayangkari 13 Wangon

Oleh KUA Wangon
SHARE

Banyumas – Membina santri balita di TPQ Kemala Bhayangkari 13 Wangon menjadi pengalaman tersendiri bagi para pembimbing. Pada usia dini, anak-anak masih berada dalam tahap belajar mengenal huruf hijaiyah, bacaan Al-Qur’an, serta berbagai dasar keagamaan. Proses pembelajaran membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan pendekatan yang sesuai dengan karakter anak. Rabu (23/09)

Beragam tingkah dan karakter santri balita menjadi salah satu tantangan dalam proses pembinaan. Ada santri yang cepat menangkap materi, namun ada pula yang membutuhkan pengulangan berkali-kali. Konsentrasi yang mudah berubah, rasa ingin bermain, hingga keinginan untuk selalu didampingi menjadi bagian dari dinamika pembelajaran sehari-hari.

Penyuluh Agama Islam KUA Wangon, Joharulloh, menyampaikan bahwa membina santri usia balita tidak cukup hanya dengan menyampaikan materi secara formal. Menurutnya, pembimbing harus mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar anak merasa nyaman dan tidak menganggap belajar mengaji sebagai sesuatu yang membebani.

“Membina santri balita memang memiliki lika-liku tersendiri. Kita harus sabar, telaten, dan memahami dunia anak. Ketika anak mulai bosan atau kehilangan konsentrasi, pembelajaran perlu diselingi dengan pendekatan yang menyenangkan agar mereka tetap tertarik belajar,” ungkap Joharulloh.

Ia menambahkan, pembinaan sejak usia dini merupakan investasi penting dalam membangun kecintaan anak terhadap Al-Qur’an dan nilai-nilai agama. Dengan dukungan para pembimbing, orang tua, dan lingkungan TPQ yang kondusif, diharapkan santri TPQ Kemala Bhayangkari 13 Wangon dapat tumbuh menjadi generasi yang mencintai Al-Qur’an, memiliki akhlak baik, serta terbiasa dengan nilai-nilai keislaman sejak usia dini.(srf)