HUT RI #81

Langitkan Doa, Kuatkan Ikhtiar: Kajian Ahad Pagi dan Parenting Satukan Langkah Madrasah bersama Wali Murid Kelas 7

Oleh MTSN3 Banyumas
SHARE

Banyumas — Ahad pagi di MTs Negeri 3 Banyumas terasa berbeda. Ketika sebagian orang memilih mengisi hari libur dengan berlibur dan berkumpul bersama keluarga, para wali murid kelas 7 bersama GTK MTs Negeri 3 Banyumas justru melangkahkan kaki ke madrasah untuk menjemput ilmu, menguatkan doa, sekaligus menyatukan ikhtiar dalam mendampingi tumbuh kembang putra-putri mereka. Minggu (20/09)

Rangkaian kegiatan Kajian Ahad Pagi dan Parenting Wali Murid Kelas 7 berlangsung dengan baik dan lancar. Kegiatan diawali dengan istighosah sebagai ikhtiar batin memohon pertolongan, keberkahan, dan rida Allah SWT. Berbagai doa dan pujian kepada Allah SWT dilantunkan dengan penuh kekhusyukan.

Istighosah dipimpin oleh Kyai Kursin Efendi Al-Ghazali. Ribuan harapan seakan dilangitkan dalam munajat para wali murid dan GTK. Di balik setiap doa, tersimpan harapan agar putra-putri yang sedang menempuh pendidikan di MTs Negeri 3 Banyumas tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, dan mendapatkan keberkahan dalam perjalanan hidupnya.

Istighosah menjadi pengingat bahwa mendidik anak bukan semata-mata urusan ikhtiar lahiriah. Ada doa orang tua yang terus mengiringi, ada ketulusan dalam mendampingi, serta ada penghambaan kepada Allah SWT yang menjadi fondasi utama dalam setiap proses pendidikan.

Setelah istighosah, kegiatan dilanjutkan dengan Kajian Ahad Pagi. Kepala MTs Negeri 3 Banyumas, Sudir, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para wali murid yang telah berkenan hadir memenuhi undangan madrasah.

Menurutnya, Ahad biasanya menjadi waktu yang dimanfaatkan untuk berlibur atau sekadar berjalan-jalan bersama keluarga. Namun, para wali murid memilih hadir dalam majelis ilmu.

“Alhamdulillah, Bapak Ibu memilih hadir dalam kajian ini. Mudah-mudahan waktu yang kita luangkan menjadi waktu yang penuh manfaat dan mendatangkan ilmu yang bermanfaat,” ungkapnya.

Kepala madrasah juga mengingatkan sebuah hadis tentang tiga perkara yang terus mengalir pahalanya setelah seseorang meninggal dunia, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan dengan tujuan pertemuan pagi itu. Pendidikan anak bukan sekadar mempersiapkan masa depan mereka, tetapi juga menjadi bagian dari amal dan investasi kebaikan orang tua yang diharapkan terus mengalir.

Kajian kemudian disampaikan oleh salah satu guru BK sekaligus Waka Sarana Prasarana MTs Negeri 3 Banyumas, Nurhayati Nahariyah. Ia mengajak para wali murid untuk memahami kembali peran penting orang tua dalam pendidikan anak melalui tiga hal sederhana namun sarat makna, yakni pitutur, wuwur, dan sembur.

Pitutur, orang tua memberikan nasihat dan tuntunan kebaikan kepada anak.
Wuwur, orang tua berusaha memenuhi kebutuhan dan membiayai penghidupan serta pendidikan anak.
Sementara sembur, orang tua tidak pernah berhenti mendoakan kebaikan bagi anak-anaknya.

Ketiga hal tersebut menjadi pengingat bahwa kebutuhan anak tidak berhenti pada pemenuhan materi. Anak juga membutuhkan perhatian, komunikasi, nasihat, keteladanan, dan terutama doa tulus dari orang tua.

“Anak tidak hanya membutuhkan materi. Mereka juga membutuhkan perhatian, pitutur atau nasihat, serta doa dari orang tua,” menjadi pesan penting yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Pagi itu pun menjadi ruang refleksi bagi para wali murid. Di tengah kesibukan mendampingi anak, orang tua diajak kembali menyadari bahwa pendidikan adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, komunikasi, keteladanan, dan doa yang tidak putus.

Namun, rangkaian kegiatan belum berhenti di kajian Ahad pagi. Setelah mendapatkan penguatan secara spiritual dan wawasan pengasuhan, kegiatan dilanjutkan dengan parenting bersama wali kelas masing-masing.

Dalam sesi ini, wali murid bersama wali kelas membangun komunikasi lebih dekat untuk membicarakan perkembangan, kebutuhan, pembiasaan, serta pendampingan murid selama menjalani pendidikan di MTs Negeri 3 Banyumas.

Pertemuan tersebut menjadi bentuk sinergi antara madrasah dan keluarga, karena pendidikan anak tidak akan berjalan optimal jika hanya dibebankan kepada salah satu pihak. Madrasah mendidik dengan ilmu dan program, orang tua mendampingi dengan perhatian dan keteladanan, sementara doa menjadi pengikat ikhtiar keduanya.

Ahad pagi di MTs Negeri 3 Banyumas akhirnya bukan sekadar tentang hadirnya para wali murid di madrasah. Lebih dari itu, menjadi momentum untuk melangitkan doa, menguatkan ilmu, menyatukan langkah, dan meneguhkan kembali komitmen bersama dalam mendampingi generasi.

Sebab di balik setiap anak yang tumbuh baik, ada ikhtiar yang mungkin tidak selalu terlihat, ada nasihat yang terus diulang, ada pengorbanan yang tidak terhitung, dan ada doa orang tua yang diam-diam terus dilangitkan.

HumasMTsN3