HUT RI #81

Kesetiaan Yang Tumbuh Setiap Hari

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Ada peristiwa yang berlangsung hanya beberapa menit, tetapi maknanya dapat menemani seseorang sepanjang usia. Salah satunya adalah ijab qabul, ketika dua insan mengucapkan kesanggupan untuk berjalan bersama dalam sebuah ikatan suci. Di Desa Tunjung, suasana khidmat dan penuh haru menyertai prosesi pencatatan nikah dan ijab qabul Achmad Zulfin dan Septi Puspitasari yang dilaksanakan oleh Iskandar Zulkarnain, Penghulu KUA Jatilawang. Jumat (14/08)

Pelaksanaan pencatatan nikah berlangsung tertib dan khidmat. Iskandar Zulkarnain menjalankan tugas kepenghuluan dengan memastikan rangkaian administrasi dan prosesi pernikahan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. Di balik dokumen yang tercatat dan tanda tangan yang dibubuhkan, tersimpan sebuah kisah tentang dua manusia yang memilih untuk mengikat masa depan dalam satu janji.

Ketika lafaz ijab qabul terucap, suasana seakan berubah menjadi lebih hening. Kalimat yang singkat itu bukan sekadar ucapan, melainkan ikrar tentang kesediaan untuk saling menjaga dalam keadaan apa pun. Bagi keluarga yang menyaksikan, momen tersebut barangkali menjadi saat ketika air mata jatuh tanpa perlu diminta—air mata bahagia, haru, sekaligus doa untuk anak yang sebentar lagi menempuh perjalanan hidup yang berbeda.

Pernikahan memang membuat hati orang tua belajar tentang keikhlasan. Anak yang dahulu digandeng ketika belajar berjalan, hari ini telah sampai pada satu titik ketika ia harus menggenggam tangan orang lain untuk menapaki masa depan. Ada rasa bahagia yang sulit dilukiskan, tetapi juga ada haru yang diam-diam mengajarkan bahwa mencintai anak terkadang berarti bersedia melepaskannya dengan doa.

Bagi Achmad dan Septi, hari itu adalah awal dari perjalanan panjang. Setelah prosesi selesai, kehidupan akan kembali pada rutinitas. Akan ada pagi yang dipenuhi tawa, tetapi mungkin pula ada malam ketika persoalan membuat hati lelah. Akan ada perbedaan pendapat, kekhawatiran, kesalahpahaman, dan berbagai ujian yang tidak selalu dapat diprediksi.

Namun pernikahan bukanlah janji bahwa dua orang tidak akan pernah berselisih. Pernikahan adalah kesanggupan untuk tetap mencari jalan pulang ketika perbedaan membuat jarak. Ia adalah keberanian untuk meminta maaf, kelapangan untuk memaafkan, dan kesediaan untuk berkata, “Mari kita selesaikan bersama.”

Iskandar Zulkarnain hadir sebagai Penghulu KUA Jatilawang dalam menjalankan amanah pelayanan pencatatan pernikahan. Tugas tersebut bukan hanya memastikan aspek administratif terpenuhi, tetapi juga menjadi bagian dari sebuah momen penting ketika keluarga baru mulai menuliskan lembar pertama kehidupannya.

Nama Achmad Zulfin dan Septi Puspitasari hari itu tercatat sebagai pasangan suami istri. Namun di balik sebuah pencatatan, tersimpan harapan agar keduanya mampu mengisi lembar-lembar berikutnya dengan kesetiaan, kesabaran, komunikasi yang baik, serta keteguhan iman.

Semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan kepada keluarga baru ini. Semoga Achmad menjadi suami yang mampu menjadi tempat pulang paling menenangkan bagi Septi, dan Septi menjadi istri yang mampu menjadi sumber keteduhan bagi Achmad. Semoga keduanya selalu menemukan alasan untuk bersyukur, bahkan dalam keadaan yang sederhana.

Dan semoga ketika usia telah berjalan jauh, rambut mulai memutih, dan wajah tak lagi semuda hari ini, keduanya masih mampu mengingat hari di Desa Tunjung ini dengan hati yang penuh syukur.

Mungkin kelak mereka akan menyadari bahwa kebahagiaan terbesar bukanlah pesta yang megah, melainkan seseorang yang tetap duduk di samping kita setelah semua pesta berakhir.

Selamat menempuh kehidupan baru, Achmad Zulfin dan Septi Puspitasari.

Semoga janji yang terucap hari ini tidak berhenti sebagai suara yang terdengar sesaat, tetapi tumbuh menjadi kesetiaan yang hidup setiap hari. Semoga keduanya terus bergandengan tangan dalam suka dan duka, hingga cinta yang dimulai di dunia menjadi jalan untuk bertemu kembali dalam ridha Allah SWT.

Karena pada akhirnya, pernikahan bukan tentang dua manusia yang tidak memiliki kekurangan, melainkan dua hati yang memilih untuk saling menerima, saling menjaga, dan tidak berhenti berjalan bersama menuju kebaikan.