Dua Hati yang Pernah Patah Kembali Temukan Kebahagiaan
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Pernikahan tidak selalu lahir dari kisah yang sempurna. Ada yang datang setelah perjalanan panjang, setelah pernah merasakan kehilangan, kesunyian, bahkan perpisahan. Namun, ketika Allah kembali mempertemukan dua hati dalam sebuah ikatan suci, masa lalu bukan lagi alasan untuk berhenti melangkah, melainkan menjadi bekal untuk lebih menghargai arti sebuah rumah tangga. Kamis (13/08)
Suasana penuh haru dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan Pencatatan Nikah dan Ijab Qabul Rohmat dan Nuriyah, pasangan janda dan duda, yang berlangsung di Desa Bantar, Kecamatan Jatilawang. Prosesi tersebut dilaksanakan oleh Ulul Albab, Penghulu KUA Jatilawang, sebagai bagian dari pelayanan pencatatan pernikahan sekaligus memastikan seluruh rangkaian akad berlangsung sesuai ketentuan yang berlaku.
Di hadapan penghulu, keluarga, dan para saksi, Rohmat dan Nuriyah mengucapkan ikrar yang kelak menjadi penanda dimulainya perjalanan baru. Kalimat ijab kabul yang terucap mungkin hanya beberapa kata, tetapi di baliknya tersimpan amanah yang panjang: kesediaan untuk saling menjaga, saling menguatkan, dan berjalan bersama dalam suka maupun duka.
Bagi keduanya, pernikahan ini bukan sekadar peristiwa administratif atau seremonial. Ini adalah keberanian untuk kembali percaya kepada cinta setelah kehidupan pernah mengajarkan pahitnya kehilangan. Masa lalu tidak harus dihapus, sebab dari sanalah seseorang belajar tentang kesabaran, ketulusan, dan betapa mahalnya arti seseorang yang bersedia bertahan.
Ulul Albab memberikan pelayanan dengan penuh ketelitian dan keteduhan, memastikan proses pencatatan nikah berjalan tertib dan sesuai ketentuan. Kehadiran penghulu bukan hanya menjadi bagian dari sahnya sebuah prosesi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa akad pernikahan merupakan perjanjian luhur yang harus dijaga dengan tanggung jawab dan ketakwaan.
Pernikahan Rohmat dan Nuriyah seakan menyampaikan pesan sederhana kepada siapa pun yang pernah patah: hidup tidak berhenti hanya karena pernah kehilangan. Ada pintu yang mungkin tertutup, tetapi Allah dapat membuka pintu lain yang sama sekali tidak pernah kita duga. Ada kisah yang berakhir, tetapi bukan berarti semua harapan ikut berakhir.
Bisa jadi, luka yang pernah mereka rasakan justru sedang mempersiapkan hati untuk menerima kebahagiaan yang lebih matang. Sebab orang yang pernah kehilangan biasanya memahami bahwa kebersamaan adalah anugerah, bahwa perhatian adalah kemewahan, dan bahwa memiliki seseorang untuk pulang merupakan nikmat yang tidak boleh dianggap biasa.
Di balik senyum yang mungkin tampak sederhana pada hari itu, barangkali tersimpan perjalanan panjang yang hanya diketahui oleh keduanya. Ada hari-hari ketika mereka harus belajar berdamai dengan masa lalu, ada malam-malam ketika kesunyian terasa panjang, hingga akhirnya Allah mempertemukan dua insan yang sama-sama ingin memulai kembali.
Rohmat dan Nuriyah kini tidak sedang menghapus masa lalu. Mereka sedang menulis halaman baru.
Semoga rumah tangga yang mereka bangun menjadi rumah yang dipenuhi ketenteraman, kasih sayang, dan keberkahan. Semoga keduanya mampu menjadi pakaian satu sama lain—menutupi kekurangan, menjaga kehormatan, menghangatkan ketika dingin, dan menguatkan ketika salah satunya mulai lelah.
Sebab pada akhirnya, pernikahan bukan tentang menemukan manusia yang tanpa kekurangan. Pernikahan adalah tentang menemukan seseorang yang bersedia berkata, “Mari kita belajar menjadi lebih baik bersama.”
Dan mungkin, itulah keindahan terbesar dari kisah Rohmat dan Nuriyah: dua hati yang pernah menjalani kehilangan akhirnya kembali menemukan tempat untuk pulang.
