Binwin Mandiri KUA Sumpiuh Bekali Catin Lintas Negara
Oleh KUA SUMPIUH
Sumpiuh – Suasana khidmat menyelimuti Balai Nikah Kantor Urusan Agama (KUA) Sumpiuh saat berlangsungnya bimbingan perkawinan (Binwin) Mandiri yang unik. Pertemuan ini menjadi istimewa karena mempertemukan dua insan dari latar belakang budaya yang berbeda: Hsu Kuang Wei, calon pengantin (catin) asal Taiwan, dan Nita Sari, catin asal Desa Karanggedang, Sumpiuh. Rabu (13/05)
Bimbingan ini dipandu langsung oleh Penyuluh Agama Islam, Siti Urkharisah Candrawati, yang memberikan bekal spiritual dan mental bagi pasangan lintas negara tersebut sebelum mereka melangkah ke jenjang pelaminan.
Dalam sesi tersebut, Siti Urkharisah menekankan tema sentral: "Niat yang Kokoh untuk Menjadi Keluarga yang Sakinah Guna Mendapatkan Generasi yang Berkualitas."
Beliau memaparkan bahwa perbedaan kewarganegaraan dan budaya bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang harus disatukan dengan niat ibadah yang kuat. Beberapa poin utama yang disampaikan antara lain:
-
Niat sebagai Jangkar: Pernikahan diawali dengan niat tulus karena Allah SWT agar mampu bertahan melewati berbagai ujian domestik maupun adaptasi budaya.
-
Visi Keluarga Sakinah: Membangun rumah tangga yang penuh ketenangan (sakinah), rasa cinta (mawaddah), dan kasih sayang (warahmah) meski terdapat perbedaan latar belakang.
-
Generasi Berkualitas: Pentingnya kesiapan orang tua dalam mencetak generasi penerus yang unggul secara akhlak dan mental, yang dimulai dari keharmonisan hubungan suami-istri.
Meski berasal dari Taiwan, Hsu Kuang Wei tampak antusias mengikuti arahan yang diberikan. Nita Sari, sang calon mempelai wanita, juga menyatakan kesiapannya untuk membangun rumah tangga yang kokoh di bawah bimbingan nilai-nilai agama.
Pihak KUA Sumpiuh melalui kegiatan Binwin Mandiri ini berharap, pembekalan ini dapat menjadi modal utama bagi pasangan Hsu Kuang Wei dan Nita Sari dalam menghadapi tantangan pernikahan transnasional, sehingga tercipta keluarga yang tidak hanya bahagia secara lahiriah, tetapi juga berkontribusi pada lahirnya generasi masa depan yang tangguh.
"Pernikahan bukan hanya soal menyatukan dua orang, tapi menyatukan dua niat menjadi satu tujuan mulia. Dengan niat yang kokoh, jarak ribuan mil antara Taiwan dan Karanggedang akan terasa dekat dalam balutan kasih sayang." pungkasnya.
