Belajar, Saling Mengerti, dan Terus Memperbaiki Diri
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Pernikahan bukan sekadar perayaan tentang dua manusia yang sedang jatuh cinta. Ia adalah keberanian untuk mengucapkan janji ketika masa depan belum seluruhnya terbaca; kesediaan untuk tetap menggenggam tangan yang sama ketika hidup menghadirkan bahagia maupun air mata. Pesan mendalam itulah yang disampaikan Dwi Astuti, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Purwanto dan Ria dengan tema “Janji Sehidup Semati.” Jumat (14/08)
Dalam suasana bimbingan yang hangat dan komunikatif, Dwi Astuti mengajak kedua calon pengantin memahami bahwa janji pernikahan bukanlah sekadar kalimat indah yang diucapkan pada hari akad. Ia merupakan amanah yang harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari melalui kesetiaan, tanggung jawab, kesabaran, penghormatan, serta kesediaan untuk saling menjaga dalam berbagai keadaan.
Menurut Dwi Astuti, ungkapan sehidup semati hendaknya dimaknai secara bijaksana sebagai tekad untuk menjalani kehidupan bersama dalam kebaikan dan kesetiaan. Rumah tangga tidak selalu dipenuhi bunga dan tawa. Akan ada hari ketika ekonomi menjadi ujian, kesehatan menurun, pekerjaan melelahkan, perbedaan pendapat muncul, atau persoalan keluarga mengetuk pintu. Pada saat itulah janji pernikahan benar-benar diuji.
“Jangan hanya berjanji untuk bersama ketika bahagia. Belajarlah menjadi pasangan yang tetap hadir ketika salah satu sedang lemah, sedih, atau berada dalam keadaan sulit,” pesan Dwi Astuti.
Nasihat tersebut menjadi pengingat bahwa cinta yang matang bukan sekadar perasaan yang berdebar ketika memandang pasangan. Cinta dalam rumah tangga adalah kesediaan untuk bangun dan tetap menjalankan tanggung jawab ketika hati sedang lelah. Ia adalah kemampuan memaafkan ketika pasangan khilaf, memilih kata yang lembut ketika emosi meninggi, dan tetap mencari jalan damai ketika perbedaan terasa begitu tajam.
Dwi Astuti juga mengingatkan Purwanto dan Ria bahwa pernikahan tidak berarti kehilangan kebebasan menjadi diri sendiri. Sebaliknya, pernikahan adalah ruang untuk tumbuh bersama. Suami dan istri perlu belajar menjadi sahabat, tempat bercerita, tempat meminta nasihat, sekaligus tempat pulang setelah dunia terasa begitu melelahkan.
Ada saat ketika seorang istri mungkin hanya membutuhkan suaminya untuk mendengar tanpa menghakimi. Ada pula waktu ketika seorang suami tampak kuat di hadapan banyak orang, tetapi sebenarnya menyimpan kelelahan yang hanya ingin ia ceritakan kepada orang yang paling dipercayainya.
Di situlah janji sehidup semati menemukan maknanya: bukan hanya berada di samping pasangan ketika ia tersenyum, tetapi juga bersedia duduk di sebelahnya ketika air mata jatuh.
Bimbingan Perkawinan tersebut menjadi ruang bagi Purwanto dan Ria untuk mempersiapkan diri secara lebih matang sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Keduanya diarahkan agar memahami bahwa keluarga yang harmonis tidak lahir dari pasangan yang sempurna, melainkan dari dua manusia yang bersedia belajar, saling mengerti, dan terus memperbaiki diri.
Sebab setelah akad selesai, para tamu pulang dan kemeriahan pernikahan menjadi kenangan, kehidupan yang sebenarnya akan dimulai. Ada dapur yang harus dinyalakan, kebutuhan yang harus dipenuhi, keputusan yang harus dibicarakan, anak-anak yang mungkin kelak hadir, serta begitu banyak persoalan kecil yang hanya dapat diselesaikan dengan kesabaran dan kebersamaan.
Mungkin suatu hari Purwanto dan Ria akan mengalami pertengkaran. Mungkin ada kata-kata yang tidak sengaja melukai. Mungkin ada masa ketika salah satu merasa lelah dan ingin berhenti. Pada saat itulah mereka perlu mengingat kembali janji yang pernah mereka tanamkan dalam hati: bahwa pernikahan bukan perlombaan untuk mencari siapa yang menang, tetapi perjalanan untuk memastikan keduanya tidak kehilangan arah.
Semoga Bimbingan Perkawinan yang disampaikan Dwi Astuti menjadi bekal berharga bagi Purwanto dan Ria dalam membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Semoga keduanya mampu merawat cinta dengan kesetiaan, menjaga rumah tangga dengan kesabaran, dan menjadikan setiap persoalan sebagai kesempatan untuk semakin mengenal serta memahami satu sama lain.
Kelak, ketika rambut mulai memutih dan wajah tak lagi semuda hari ini, semoga Purwanto dan Ria masih dapat duduk berdampingan. Mungkin mereka akan mengenang hari-hari sulit yang pernah dilalui, air mata yang pernah jatuh, dan perbedaan yang pernah hampir membuat hati menjauh.
Namun semoga pada akhirnya mereka tersenyum sambil berkata dalam hati:
“Ternyata kita mampu melewati semuanya karena sejak awal kita memilih untuk tidak meninggalkan satu sama lain.”
Sebab janji sehidup semati bukanlah janji bahwa hidup akan selalu mudah. Ia adalah ikrar bahwa ketika hidup menjadi sulit, dua hati tetap berusaha menjadi tempat pulang bagi satu sama lain—hingga usia menua, hingga napas berhenti, dan hingga cinta yang dirawat di dunia menjadi jalan menuju perjumpaan kembali di hadapan Allah SWT.
