Terima Kasih Telah Memilihku dan Bertahan
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Ada sebuah kalimat yang mungkin hanya terdengar beberapa detik, tetapi maknanya akan dibawa sepanjang usia. Ada pula sebuah hari yang mungkin berlalu seperti hari biasa, namun bagi dua keluarga menjadi halaman yang tak akan pernah benar-benar ditutup. Dalam suasana khidmat dan penuh haru, Ulul Albab, Penghulu KUA Jatilawang, melaksanakan pencatatan nikah dan ijab qabul Rizki Yuriska dan Yuliana Mu’minah di Desa Tunjung. Jumat (14/08)
Prosesi pencatatan nikah dan ijab qabul berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan. Ulul Albab menjalankan tugas kepenghuluan dengan memastikan rangkaian prosesi pernikahan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. Di balik setiap dokumen yang dicatat, tersimpan sebuah kisah tentang dua insan yang telah memilih untuk menyatukan langkah dan menata masa depan dalam ikatan pernikahan.
Ketika lafaz ijab qabul terucap, suasana seolah menjadi lebih hening. Kalimat yang singkat itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah amanah besar tentang kesetiaan, tanggung jawab, kasih sayang, dan kesediaan untuk saling menjaga. Bagi keluarga yang menyaksikan, mungkin ada air mata yang jatuh perlahan—air mata bahagia sekaligus haru melihat dua insan memasuki gerbang kehidupan yang baru.
Bagi orang tua, pernikahan anak adalah salah satu bentuk perjalanan cinta yang paling mengharukan. Anak yang dahulu digendong, dituntun belajar berjalan, disiapkan makanan, dan didoakan setiap malam, akhirnya tumbuh dewasa dan memilih seseorang untuk menjadi teman seperjalanan.
Ada bahagia ketika melihat anak menemukan pendamping. Namun ada pula rasa sesak yang lembut ketika menyadari bahwa setelah hari itu, sebagian perjalanan hidupnya akan ditempuh bersama orang lain. Maka air mata orang tua pada hari pernikahan sering kali bukan sekadar tangis haru, melainkan doa yang tidak mampu seluruhnya diterjemahkan oleh kata-kata.
Bagi Rizki dan Yuliana, hari ini merupakan awal dari perjalanan yang sesungguhnya. Setelah prosesi akad selesai, setelah keluarga dan tamu kembali ke rumah masing-masing, kehidupan akan kembali pada kesederhanaannya. Akan ada pagi dengan kesibukan, malam dengan kelelahan, persoalan yang harus diselesaikan, serta perbedaan yang membutuhkan kesabaran.
Namun rumah tangga bukanlah tentang dua manusia yang tidak pernah berbeda. Rumah tangga adalah tentang dua hati yang tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling meninggalkan.
Ada saat ketika suami harus belajar mendengarkan tanpa menghakimi. Ada saat ketika istri membutuhkan pelukan lebih daripada nasihat. Ada masa ketika rezeki terasa lapang, tetapi ada pula hari ketika keadaan memaksa keduanya belajar hidup sederhana.
Di situlah janji pernikahan menemukan maknanya.
Bukan ketika semuanya mudah, melainkan ketika keadaan sulit dan keduanya tetap berkata, “Kita hadapi bersama.”
Kehadiran Ulul Albab sebagai Penghulu KUA Jatilawang dalam pelaksanaan pencatatan nikah dan ijab qabul menjadi bagian dari pelayanan kepada masyarakat sekaligus saksi atas dimulainya perjalanan keluarga baru. Pencatatan pernikahan menjadi bagian penting dalam memberikan kepastian administratif bagi pasangan yang telah mengikat janji suci.
Namun lebih dari sekadar tinta dan dokumen, momen tersebut menyimpan harapan yang jauh lebih besar: semoga dua nama yang hari ini dicatat bersama akan terus berjalan dalam kebaikan, saling menguatkan dalam kesulitan, dan saling mengingatkan ketika salah satu mulai kehilangan arah.
Semoga Allah SWT memberikan keberkahan kepada keluarga Rizki Yuriska dan Yuliana Mu’minah. Semoga Rizki menjadi suami yang mampu menghadirkan rasa aman dan ketenteraman, sementara Yuliana menjadi pendamping yang menghadirkan kesejukan dan kasih sayang.
Semoga keduanya tidak hanya saling mencintai ketika dunia sedang ramah, tetapi juga saling menggenggam ketika kehidupan sedang menguji. Ketika salah satu jatuh, semoga yang lain menjadi tangan yang mengangkat. Ketika salah satu menangis, semoga yang lain menjadi tempat bersandar.
Dan kelak, ketika usia telah berjalan begitu jauh, rambut mulai memutih, langkah tidak lagi sekuat hari ini, semoga keduanya masih mampu duduk berdampingan dan mengenang hari di Desa Tunjung ini.
Mungkin saat itu mereka akan menyadari bahwa kebahagiaan terbesar bukanlah pesta yang megah atau kemeriahan sesaat. Kebahagiaan terbesar adalah memiliki seseorang yang tetap memilih tinggal setelah semua kemeriahan berakhir.
Semoga ijab yang terucap hari ini tidak berhenti sebagai suara yang terdengar beberapa detik, tetapi tumbuh menjadi kesetiaan yang hidup setiap hari. Semoga cinta mereka menjadi ibadah, kesabaran menjadi kekuatan, dan rumah tangga mereka menjadi tempat pulang yang paling teduh.
Selamat menempuh kehidupan baru, Rizki Yuriska dan Yuliana Mu’minah.
Semoga perjalanan yang dimulai dengan satu akad ini dipenuhi keberkahan hingga akhir usia. Semoga kelak, setelah melewati begitu banyak musim kehidupan, keduanya dapat saling menatap dengan mata berkaca-kaca dan berkata:
“Terima kasih telah memilihku. Terima kasih telah bertahan. Terima kasih telah menjadi rumah.”
Sebab pada akhirnya, pernikahan yang paling indah bukanlah pernikahan tanpa air mata, melainkan pernikahan yang selalu menemukan tangan untuk menghapus air mata, hati untuk memaafkan, dan dua manusia yang tetap memilih berjalan bersama menuju ridha Allah SWT.
