Temukan Jati Diri : Kenali Kelebihan, Terima Kekurangan
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Upacara bukan sekadar barisan yang berdiri tegak di bawah matahari pagi. Di balik derap langkah dan penghormatan kepada bendera, selalu ada ruang untuk menanamkan nilai, membangun karakter, dan menitipkan pesan tentang masa depan. Suasana itulah yang terasa ketika Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, dipercaya menjadi pembina upacara di MA Al Falah Jatilawang dengan menyampaikan amanat bertema “Mencari Jati Diri dengan Mengenal Kelebihan dan Kekurangan Diri Sendiri.” Selasa (04/08)
Di hadapan para siswa, Muhammad Taubah mengajak generasi muda untuk tidak sekadar sibuk mencari pengakuan dari orang lain, tetapi mulai berani melakukan perjalanan yang lebih dalam: mengenal diri sendiri. Menurutnya, masa sekolah bukan hanya waktu untuk mengejar nilai akademik, tetapi juga masa penting untuk memahami siapa diri mereka, apa yang menjadi kekuatan, apa yang masih menjadi kelemahan, dan ke mana kehidupan hendak diarahkan.
Ia menyampaikan bahwa setiap manusia dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna, sebagaimana tidak ada manusia yang sama persis dengan manusia lainnya. Karena itu, siswa tidak perlu merasa rendah diri hanya karena melihat kelebihan teman, dan tidak pula perlu merasa tinggi hati hanya karena memiliki kemampuan yang belum tentu dimiliki orang lain.
“Jangan habiskan hidup untuk menjadi orang lain. Kenalilah dirimu, terimalah dirimu, kemudian tumbuhlah menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri,” menjadi pesan yang menguatkan amanat tersebut.
Muhammad Taubah mengajak para siswa memahami bahwa mengenali kelebihan bukanlah alasan untuk sombong, melainkan modal untuk dikembangkan. Sebaliknya, menyadari kekurangan bukanlah tanda kegagalan, tetapi keberanian untuk mengakui bahwa masih ada ruang untuk belajar, berubah, dan memperbaiki diri.
Dalam kehidupan, katanya, seseorang terkadang terlalu sibuk melihat keberhasilan orang lain hingga lupa menghargai perjalanan dirinya sendiri. Ada anak yang merasa tidak pintar karena nilainya tidak setinggi temannya. Ada yang merasa tidak memiliki masa depan karena belum menemukan bakatnya. Ada pula yang diam-diam merasa dirinya tidak berharga hanya karena sering dibandingkan dengan orang lain.
Padahal, setiap manusia memiliki waktunya sendiri untuk bertumbuh.
“Jangan membandingkan halaman pertama hidupmu dengan halaman kesepuluh kehidupan orang lain,” pesan itu seakan mengajak para siswa berhenti sejenak dari perlombaan yang melelahkan. Sebab hidup bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang terus berjalan, belajar dari kesalahan, dan tidak menyerah untuk menjadi lebih baik.
Ia juga mengingatkan bahwa kekurangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti bermimpi. Justru dari kekurangan seseorang dapat belajar tentang kesabaran, ketekunan, dan kerendahan hati. Sementara kelebihan harus dirawat dengan rasa syukur agar tidak berubah menjadi kesombongan.
Pesan tersebut terasa semakin dekat dengan kehidupan para pelajar yang sedang berada pada fase pencarian identitas. Mereka sedang menentukan pilihan, membangun cita-cita, mengenali potensi, sekaligus menghadapi berbagai pengaruh dari lingkungan dan perkembangan zaman. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan mengenali diri menjadi bekal penting agar mereka tidak mudah kehilangan arah.
Bagi Muhammad Taubah, pendidikan sejatinya bukan hanya tentang membuat seorang anak menjadi pintar, tetapi juga membantu mereka menjadi manusia yang mengenal dirinya, menghargai orang lain, memiliki tujuan hidup, dan mampu mempertanggungjawabkan setiap pilihan yang diambil.
Sebab kelak, ketika seragam sekolah telah dilepas dan kehidupan membawa mereka ke jalan masing-masing, yang akan menentukan bukan sekadar berapa banyak pelajaran yang pernah dihafalkan. Lebih dari itu, adalah seberapa baik mereka mengenal hati, menjaga prinsip, mengembangkan potensi, dan memperbaiki kekurangan diri.
Upacara di MA Al Falah Jatilawang akhirnya bukan hanya menjadi rutinitas awal pekan. Ia berubah menjadi sebuah ruang perenungan. Di hadapan para siswa yang kelak akan mengisi masa depan, sebuah pesan sederhana ditanamkan: kenalilah dirimu sebelum dunia mendefinisikanmu. Kenali kelebihanmu untuk bersyukur, kenali kekuranganmu untuk berbenah, dan jangan pernah berhenti menjadi manusia yang lebih baik.
Barangkali sebagian nasihat itu akan segera terlupakan setelah upacara usai. Namun mungkin, suatu hari nanti, ketika seorang siswa sedang berdiri di persimpangan kehidupan, kalimat itu kembali teringat.
Bahwa ia tidak harus menjadi seperti orang lain. Bahwa kekurangannya bukan akhir dari segalanya. Bahwa kelebihannya adalah amanah. Dan bahwa dirinya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tetap merupakan anugerah Allah yang patut disyukuri.
Karena menemukan jati diri bukanlah perjalanan sehari. Ia adalah perjalanan sepanjang usia—perjalanan untuk mengenal siapa diri kita, untuk apa kita diciptakan, dan kelak akan ke mana kita pulang.
