Telusuri Arsip Pernikahan Lama Demi Sebuah Akta Kelahiran
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Di sebuah ruangan sederhana yang dipenuhi map-map tua berwarna kusam, waktu seakan berjalan perlahan. Debu yang menempel di sudut lemari arsip bukan sekadar sisa usia, melainkan saksi bisu perjalanan hidup banyak keluarga. Di tempat itulah, Muji Riyanti, staf KUA Jatilawang, menorehkan makna pelayanan yang sesungguhnya—melayani bukan hanya dengan tangan, tetapi juga dengan hati. Kamis (07/05)
Pada suatu siang yang teduh, seorang warga Jatilawang datang dengan wajah cemas. Ia tengah berjuang mengurus akta kelahiran yang terkendala karena belum ditemukan data pernikahan orangtuanya yang berlangsung puluhan tahun silam. Dokumen lama itu menjadi syarat penting untuk melengkapi administrasi kependudukan keluarganya.
Bagi sebagian orang, pencarian arsip lama mungkin sekadar pekerjaan administratif. Namun bagi Muji Riyanti, setiap lembar dokumen adalah jejak kehidupan, tentang cinta yang pernah diikrarkan, tentang keluarga yang dibangun dengan harapan, dan tentang anak-anak yang lahir dari doa-doa panjang orangtua mereka.
Dengan sabar, ia membuka satu demi satu buku register nikah lama yang telah termakan usia. Jemarinya berhati-hati membalik halaman demi halaman yang mulai rapuh. Sesekali ia menyesuaikan pandangan, memastikan setiap nama terbaca dengan benar agar tidak ada sejarah keluarga yang tercecer oleh waktu.
“Arsip seperti ini sangat penting karena menjadi bagian dari identitas dan hak warga negara. Kami berusaha membantu semaksimal mungkin agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang mereka butuhkan,” ujar Muji Riyanti dengan suara lembut namun penuh ketulusan.
Pencarian itu memerlukan ketelitian dan kesabaran. Tahun demi tahun ditelusuri. Nama demi nama dicocokkan. Hingga akhirnya, data pernikahan yang dicari berhasil ditemukan. Wajah warga yang semula dipenuhi kegelisahan perlahan berubah haru. Matanya berkaca-kaca saat menerima kepastian bahwa jejak pernikahan orangtuanya masih tersimpan rapi di KUA Jatilawang.
Di momen sederhana itu, tidak ada tepuk tangan ataupun sorotan gemerlap. Namun ada kebahagiaan yang diam-diam menghangatkan ruangan. Sebab terkadang, pelayanan terbaik bukanlah sesuatu yang besar dan megah, melainkan kesediaan untuk tetap peduli pada kebutuhan kecil masyarakat.
Kepala KUA Jatilawang menyampaikan apresiasi atas dedikasi pelayanan yang dilakukan seluruh staf dalam membantu masyarakat, termasuk dalam penelusuran arsip-arsip lama yang sering kali menjadi penyambung hak administrasi warga.
Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, ketulusan seperti yang dilakukan Muji Riyanti menjadi pengingat bahwa negara hadir bukan hanya melalui aturan, tetapi juga melalui hati orang-orang yang mengabdi dengan penuh kasih.
Dan di antara lembaran arsip yang menguning dimakan usia itu, tersimpan bukan hanya data pernikahan, melainkan kisah tentang cinta orangtua, tentang perjuangan anak-anaknya, dan tentang harapan yang tetap hidup meski waktu terus berjalan.
