Tanamkan Kecintaan Anak terhadap Al-Quran Sejak Usia Dini
Wangon – Menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak usia dini merupakan salah satu upaya penting dalam membentuk generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan memiliki karakter Islami. Keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama memiliki peran strategis dalam mengenalkan Al-Qur’an kepada anak melalui pembiasaan membaca, mendengarkan, dan mempelajari ayat-ayat suci Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Jumat (06/11)
Fidhoh menyampaikan bahwa mengenalkan Al-Qur’an kepada anak hendaknya dilakukan dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan. Orang tua dapat memulai dari hal sederhana, seperti membiasakan anak mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an, mengajak mengaji bersama, serta memberikan apresiasi ketika anak mampu membaca atau menghafal surat-surat pendek. Dengan suasana belajar yang menyenangkan, anak akan tumbuh dengan rasa cinta terhadap Al-Qur’an.
Menurutnya, pembiasaan membaca Al-Qur’an tidak harus menunggu anak memasuki usia sekolah. Sejak kecil, anak dapat diperkenalkan dengan huruf hijaiyah, doa-doa harian, dan surat-surat pendek. Orang tua juga perlu memberikan contoh nyata dengan menjadikan membaca Al-Qur’an sebagai bagian dari rutinitas keluarga, sehingga anak terbiasa melihat dan mengikuti perilaku baik orang tuanya.
Senada dengan hal tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Wangon menegaskan bahwa menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an merupakan investasi pendidikan jangka panjang bagi masa depan anak. Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga dipahami dan diamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan. Melalui pendidikan Al-Qur’an sejak dini, diharapkan anak memiliki fondasi keimanan yang kuat serta tumbuh menjadi pribadi yang santun, jujur, dan bertanggung jawab.
Melalui pembinaan keluarga dan bimbingan keagamaan, KUA Wangon terus mendorong masyarakat untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam membangun keluarga sakinah. Semangat mencintai Al-Qur’an perlu ditumbuhkan sejak dini melalui keteladanan orang tua, pendidikan di TPQ maupun madrasah, serta lingkungan masyarakat yang religius. Harapannya, lahir generasi Qur’ani yang tidak hanya fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga mampu mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.(Srf)
