HUT RI #81

Tak Kenal Usia, Penyuluh KUA Selesaikan Pendidikan Magister

Oleh KUA Lumbir
SHARE

Banyumas — Semangat menuntut ilmu tidak mengenal batas usia. Hal tersebut dibuktikan oleh Komari, Penyuluh Agama Islam pada Kantor Urusan Agama (KUA) Lumbir, Kabupaten Banyumas, yang tetap menunjukkan tekad kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister meskipun usianya telah memasuki kepala lima. Senin (24/08)

Komari mengikuti sidang tesis Program Magister di Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen. Sidang tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan akademiknya untuk menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen Pendidikan Islam dan meraih gelar M.Pd.

Perjalanan Komari menyelesaikan pendidikan magister menjadi kisah yang patut diapresiasi. Di tengah kesibukan menjalankan tugas sebagai Penyuluh Agama Islam, ia masih menyempatkan diri untuk terus belajar, membaca, berdiskusi, melakukan penelitian, hingga menyelesaikan tugas akhir.

Bagi sebagian orang, memasuki usia kepala lima mungkin menjadi alasan untuk mengurangi aktivitas akademik dan memilih menikmati masa-masa yang lebih tenang. Namun, bagi Komari, usia bukanlah penghalang untuk terus berkembang. Justru pada usia tersebut, semangat belajar semakin menunjukkan bahwa pendidikan merupakan proses sepanjang hayat.

Menempuh pendidikan magister tentu bukan perkara mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, tugas perkuliahan, penelitian, hingga menyelesaikan tesis. Namun, semua tantangan tersebut dijalani dengan ketekunan dan kesabaran.

Apa yang dilakukan Komari juga memiliki makna yang lebih luas. Sebagai seorang Penyuluh Agama Islam, ilmu yang diperolehnya tidak hanya menjadi bekal untuk kepentingan pribadi, tetapi diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Pengetahuan tentang manajemen pendidikan Islam dapat menjadi modal untuk meningkatkan kualitas pelayanan, pembinaan keagamaan, serta pendidikan masyarakat.

Pendidikan pada hakikatnya memang tidak berhenti ketika seseorang telah menyelesaikan sekolah atau memperoleh gelar. Dunia terus berubah, persoalan masyarakat semakin kompleks, dan tuntutan kehidupan membutuhkan manusia yang mau terus belajar. Karena itu, kemauan untuk memperbarui pengetahuan menjadi bagian penting dari pengabdian.

Kisah Komari menjadi pengingat bahwa belajar tidak mengenal istilah “terlambat”. Tidak ada usia yang terlalu tua untuk menambah ilmu, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kualitas diri, dan tidak ada batas waktu untuk memberikan manfaat kepada sesama.

Semangatnya juga menjadi pesan bagi generasi muda. Jika seseorang yang telah memasuki usia kepala lima masih memiliki kemauan untuk duduk kembali di bangku kuliah, mengerjakan tugas, melakukan penelitian, dan menghadapi sidang tesis, maka anak-anak muda yang memiliki kesempatan dan usia produktif tentu memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk terus mengembangkan diri.

Generasi muda tidak seharusnya cepat merasa puas dengan pendidikan yang telah diperoleh. Dunia membutuhkan generasi yang mau membaca, bertanya, mencoba, berdiskusi, dan terus belajar. Gelar bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan, melainkan salah satu pintu untuk membuka kesempatan memberikan manfaat yang lebih luas.

Dari Komari, kita dapat belajar bahwa keberhasilan bukan semata-mata tentang seberapa cepat seseorang mencapai tujuan, tetapi tentang seberapa kuat ia menjaga langkah hingga tujuan itu benar-benar tercapai. Ada orang yang sampai lebih cepat, ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang. Namun, selama seseorang tidak berhenti berjalan, setiap langkah tetap memiliki arti.

Keberanian untuk kembali belajar di usia kepala lima juga menunjukkan bahwa cita-cita tidak memiliki batas kedaluwarsa. Selama masih ada kemauan, kesehatan, kesempatan, dan tekad, seseorang tetap dapat mengejar impian yang mungkin dahulu belum sempat diwujudkan.

Sidang tesis Komari di IAINU Kebumen dengan demikian bukan sekadar catatan akademik pribadi. Peristiwa tersebut dapat menjadi sebuah teladan tentang ketekunan, disiplin, semangat belajar, dan keberanian untuk terus meningkatkan kualitas diri.

Semoga perjuangan Komari dalam menyelesaikan pendidikan magister menjadi inspirasi bagi para penyuluh agama, aparatur, pendidik, orang tua, dan terutama generasi muda di Banyumas dan sekitarnya.

Sebab pada akhirnya, belajar bukan tentang usia, melainkan tentang kemauan. Menuntut ilmu bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang tidak pernah berhenti.

Semoga ilmu yang diperoleh Komari menjadi ilmu yang bermanfaat, memperkuat pengabdiannya kepada masyarakat, serta menjadi amal jariyah yang terus memberikan manfaat bagi banyak orang.

Karena usia boleh bertambah, tetapi semangat untuk belajar dan memberikan manfaat hendaknya tidak pernah berakhir.