Siapkan Lisan, Teguhkan Hati
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Ada sebuah kalimat yang mungkin hanya terucap dalam hitungan detik, tetapi maknanya akan dibawa sepanjang kehidupan. Kalimat itu adalah ijab kabul—sebuah lafaz yang mengubah hubungan dua insan menjadi ikatan suci sebagai suami dan istri. Karena itu, kelancaran mengucapkannya bukan sekadar persoalan lisan, tetapi juga tentang kesiapan hati menerima amanah besar di hadapan Allah SWT. Senin (24/08)
Menyadari pentingnya hal tersebut, Ahmad Muttaqin, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada Calon Pengantin (Catin), Hasan Nur Anam dan Samini, dengan materi tentang kelancaran lafaz ijab kabul. Bimbingan diberikan sebagai bagian dari persiapan agar calon pengantin lebih memahami sekaligus siap menghadapi salah satu momen paling sakral dalam perjalanan hidup mereka.
Dalam bimbingannya, Ahmad Muttaqin mengarahkan calon pengantin untuk berlatih mengucapkan lafaz ijab kabul dengan jelas, tenang, dan penuh keyakinan. Latihan dilakukan dengan memperhatikan ketepatan lafaz, kelancaran pengucapan, serta kesiapan mental agar calon pengantin tidak mudah gugup ketika berada dalam suasana akad nikah yang disaksikan keluarga dan para saksi.
Menurut Ahmad Muttaqin, kegugupan merupakan hal yang wajar. Seseorang yang sehari-hari mampu berbicara dengan lancar pun dapat tiba-tiba kehilangan kata-kata ketika berhadapan dengan sebuah momen yang sangat menentukan. Karena itu, latihan bukan sekadar untuk menghafal rangkaian kalimat, tetapi juga membangun keberanian dan ketenangan hati.
“Ijab kabul memang singkat, tetapi amanah di baliknya begitu panjang. Karena itu, jangan hanya siapkan lisan untuk mengucapkan kabul, tetapi siapkan pula hati untuk menerima seluruh tanggung jawab sebagai seorang suami,” pesan Ahmad Muttaqin.
Nasihat tersebut menjadi pengingat bahwa pernikahan bukanlah akhir dari perjalanan mencari kebahagiaan, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk menciptakannya bersama. Setelah lafaz kabul selesai diucapkan, akan ada kehidupan yang menunggu: ada nafkah yang harus diusahakan, pasangan yang harus dijaga, keluarga yang harus dihormati, dan berbagai ujian yang harus dihadapi dengan kesabaran.
Ahmad Muttaqin juga mengajak Hasan dan Samini memahami bahwa kelancaran ijab kabul hendaknya berjalan seiring dengan kelancaran membangun komunikasi dalam rumah tangga. Sebagaimana sebuah akad membutuhkan lafaz yang jelas, kehidupan setelah akad pun membutuhkan perkataan yang lembut, kejujuran, dan kesediaan untuk saling mendengarkan.
Bimbingan tersebut berlangsung dalam suasana yang penuh keakraban. Di sela-sela latihan, calon pengantin mendapatkan arahan agar tidak terburu-buru dan tidak membiarkan rasa gugup menguasai diri. Dengan ketenangan, penghayatan, dan latihan yang cukup, diharapkan proses pengucapan ijab kabul dapat dilaksanakan dengan baik.
Bagi Hasan Nur Anam dan Samini, latihan tersebut mungkin tampak sederhana. Namun di balik setiap pengulangan lafaz, sesungguhnya ada persiapan menuju perubahan besar dalam kehidupan. Dari status sebagai calon pengantin, mereka bersiap melangkah menuju amanah sebagai pasangan suami istri.
Ijab kabul adalah kalimat yang mengajarkan bahwa pernikahan bukan sekadar tentang mendapatkan seseorang untuk dicintai. Ia adalah kesediaan untuk bertanggung jawab atas hati seseorang yang telah dipercayakan kepada kita. Ada janji untuk menjaga ketika kuat, menemani ketika lemah, dan tetap menggenggam tangan pasangan ketika kehidupan tidak berjalan seperti yang diharapkan.
