Saling Melengkapi, Bukan Saling Menuntut Kesempurnaan
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Pernikahan bukan tentang menemukan manusia yang sempurna, melainkan tentang kesediaan dua hati untuk saling menerima dalam segala keadaan. Pesan penuh makna itu disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Sofyan dan Ida Setiyani. Kamis (07/05)
Kegiatan yang berlangsung dengan suasana hangat dan penuh kekeluargaan tersebut menjadi ruang belajar bagi kedua calon pengantin untuk memahami hakikat kehidupan rumah tangga sebelum memasuki gerbang pernikahan. Dalam materinya, Muhammad Taubah mengangkat tema tentang pentingnya menerima kekurangan pasangan dengan tulus dan ikhlas.
Di hadapan Sofyan dan Ida Setiyani, ia menyampaikan bahwa cinta sejati bukan hanya hadir ketika keadaan menyenangkan, tetapi justru tumbuh kuat ketika pasangan mampu menerima kelemahan satu sama lain tanpa saling menyalahkan.
“Tidak ada manusia yang sempurna. Rumah tangga akan terasa indah ketika suami dan istri saling melengkapi, bukan saling menuntut kesempurnaan,” tutur Muhammad Taubah dengan suara lembut yang menenangkan.
Kalimat-kalimat sederhana itu mengalir penuh makna. Di dalam ruangan yang tenang, suasana perlahan berubah haru. Sebab setiap nasihat terasa begitu dekat dengan kenyataan hidup banyak keluarga—bahwa perjalanan rumah tangga bukan hanya tentang tawa, tetapi juga tentang kesabaran, pengertian, dan kemampuan bertahan di tengah kekurangan.
Muhammad Taubah juga mengingatkan bahwa menerima pasangan dengan ikhlas adalah bentuk syukur kepada Allah SWT. Sebab sering kali, kebahagiaan rumah tangga tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari hati yang lapang untuk memahami dan memaafkan.
Bimbingan tersebut tidak hanya membahas teori kehidupan rumah tangga, tetapi juga menyentuh sisi batin calon pengantin agar lebih siap menghadapi dinamika kehidupan setelah akad nikah berlangsung. Dengan pendekatan yang humanis dan penuh kesejukan, Muhammad Taubah mengajak Sofyan dan Ida Setiyani membangun pondasi rumah tangga yang kokoh dengan cinta dan ketulusan.
Sesekali, senyum malu-malu tampak menghiasi wajah calon pengantin ketika mendengar nasihat tentang pentingnya saling menguatkan di masa sulit. Namun di balik senyum itu, tersimpan harapan besar tentang kehidupan baru yang akan segera mereka jalani bersama.
KUA Jatilawang terus berkomitmen memberikan pembinaan kepada calon pengantin melalui program Bimbingan Perkawinan sebagai upaya membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah yang harmonis dan penuh keberkahan.
Di tengah dunia yang semakin mudah memisahkan, nasihat tentang menerima kekurangan pasangan menjadi seperti cahaya kecil yang menuntun banyak hati agar tetap percaya bahwa cinta sejati bukan tentang mencari yang paling sempurna, melainkan tentang tetap bertahan dan saling menggenggam meski penuh kekurangan.
Dan pada akhirnya, pernikahan yang paling indah bukanlah milik dua insan tanpa cela, melainkan milik mereka yang tetap memilih saling mencintai dengan tulus, bahkan setelah mengetahui segala kelemahan satu sama lain.
