Rayakan Kebersamaan dalam Ruang Kemanusiaan yang Sama
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Di bawah langit pagi yang masih menyisakan kesejukan embun, suasana kebersamaan yang hangat terjalin erat antara KUA Jatilawang dan KUA Purwojati dalam kegiatan senam kolaborasi yang penuh semangat. Namun, kebersamaan itu tidak berhenti pada gerak tubuh dan keringat yang jatuh—ia berlanjut pada sebuah momen sederhana namun sarat makna: menikmati hidangan prasmanan bersama yang disiapkan dengan penuh kehangatan dan keikhlasan. Jumat (19/06)
Usai kegiatan senam yang menggugah semangat, Kepala KUA Jatilawang, Iskandar Zulkarnain, bersama Kyai Aminuddin, Penyuluh Agama KUA Purwojati, tampak duduk berdampingan dalam suasana yang jauh dari sekat formalitas. Di hadapan mereka, tersaji hidangan prasmanan sederhana yang menjadi simbol persaudaraan dan rasa syukur atas kebersamaan yang telah terjalin.
Tidak ada jarak jabatan, tidak ada batas struktural—yang ada hanyalah tawa ringan, obrolan hangat, dan rasa kebersamaan yang mengalir seperti air yang menenangkan dahaga setelah lelahnya aktivitas fisik. Momen itu seolah menjadi penegasan bahwa pelayanan kepada umat tidak hanya dibangun melalui kerja keras, tetapi juga melalui ikatan hati yang saling menguatkan.
Prasmanan yang tersaji bukan sekadar makanan, melainkan wujud rasa syukur dan penghormatan antar sesama pengabdi. Setiap suapan seakan membawa pesan bahwa kebersamaan adalah nikmat yang tak ternilai, dan bahwa di balik tugas-tugas yang padat, selalu ada ruang untuk saling merangkul dalam kesederhanaan.
Iskandar Zulkarnain tampak menikmati suasana tersebut dengan penuh keakraban, sementara Kyai Aminuddin sesekali melontarkan percakapan ringan yang disambut senyum hangat dari rekan-rekan lainnya. Di momen-momen sederhana itu, terpancar nilai-nilai luhur: bahwa pemimpin dan penyuluh bukan hanya bekerja bersama, tetapi juga merayakan kebersamaan dalam ruang kemanusiaan yang sama.
Seolah keringat yang jatuh saat senam berubah menjadi saksi bahwa kebersamaan mereka bukan sekadar seremonial, melainkan ikatan yang tumbuh dari ketulusan. Di balik meja prasmanan yang sederhana, tersimpan filosofi mendalam tentang pengabdian: bahwa hati yang saling menyapa akan selalu melahirkan pelayanan yang lebih bermakna.
Kebersamaan itu menjadi gambaran kecil dari harapan besar—bahwa sinergi antar-KUA tidak hanya terwujud dalam tugas dan koordinasi, tetapi juga dalam momen-momen humanis yang menghangatkan jiwa.
Ketika acara berakhir, yang tertinggal bukan hanya rasa kenyang, melainkan rasa syukur yang mendalam. Sebab hari itu, prasmanan bukan sekadar hidangan, tetapi jembatan hati yang mempertemukan semangat, persaudaraan, dan pengabdian dalam satu meja kebersamaan.
Dan di antara senyum yang tersisa, tersimpan pesan yang tak terucap namun terasa nyata: bahwa kebersamaan yang tulus selalu menjadi hidangan paling indah dalam perjalanan pengabdian.
