HUT RI #81

Rawat Cinta dengan Komunikasi

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Pernikahan bukan hanya tentang dua insan yang saling mencintai, tetapi tentang dua hati yang belajar memahami bahasa masing-masing sepanjang perjalanan kehidupan. Cinta dapat menjadi awal sebuah rumah tangga, tetapi komunikasi yang sehat adalah salah satu jembatan yang membuat cinta tetap tumbuh ketika kehidupan mulai menghadirkan ujian. Pesan itulah yang disampaikan Rais Rudiansyah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Abdul Latif dan Zaida Nur Aisyah dengan materi “Komunikasi dalam Rumah Tangga.” Jumat (14/08)

Dalam suasana bimbingan yang hangat dan penuh kekeluargaan, Rais mengajak kedua calon pengantin memahami bahwa komunikasi bukan sekadar berbicara. Komunikasi adalah kemampuan menyampaikan perasaan dengan santun, mendengarkan tanpa tergesa-gesa menghakimi, serta berusaha memahami apa yang sesungguhnya sedang dirasakan pasangan. Sebab tidak sedikit rumah tangga yang retak bukan karena tidak ada cinta, melainkan karena dua hati berhenti saling mendengarkan.

Rais Rudiansyah menekankan pentingnya membangun komunikasi yang terbuka sejak awal kehidupan rumah tangga. Persoalan sekecil apa pun sebaiknya dibicarakan dengan kepala dingin, tanpa mempermalukan pasangan, tanpa mengungkit masa lalu, dan tanpa menggunakan kata-kata yang dapat melukai harga diri. Ketika masalah hadir, pasangan hendaknya menjadi tempat pertama untuk berbicara, bukan orang terakhir yang mengetahui persoalan.

Dalam rumah tangga, lanjutnya, ada kalanya seseorang tidak membutuhkan nasihat panjang. Ia hanya ingin didengarkan. Ada saat ketika seorang istri tidak membutuhkan jawaban, melainkan pelukan yang mengatakan bahwa ia tidak sendirian. Ada pula saat seorang suami tampak kuat di luar rumah, tetapi sebenarnya sedang menunggu satu kalimat sederhana dari orang yang dicintainya: “Tidak apa-apa, kita hadapi bersama.”

Rais juga mengingatkan Abdul Latif dan Zaida agar tidak membiasakan diri menyelesaikan persoalan melalui diam yang berkepanjangan. Diam sesaat untuk menenangkan diri tentu diperlukan, tetapi diam sebagai bentuk hukuman justru dapat menciptakan jarak. Komunikasi yang sehat adalah keberanian untuk berkata jujur sekaligus kelembutan untuk menyampaikan kejujuran tanpa menyakiti.

“Jangan jadikan pasangan sebagai lawan ketika masalah datang,” pesan Rais. “Jadikan masalah sebagai lawan, dan jadilah kalian berdua satu tim untuk menghadapinya.”

Pesan sederhana itu menyimpan makna yang dalam. Sebab dalam perjalanan rumah tangga, persoalan akan selalu datang silih berganti. Ada ujian ekonomi, perbedaan karakter, kelelahan, persoalan keluarga, hingga perubahan kehidupan yang tidak pernah bisa diprediksi. Namun ketika komunikasi tetap terjaga, masalah yang berat dapat dibicarakan bersama dan hati yang terluka memiliki tempat untuk kembali.

Bimbingan Perkawinan tersebut sekaligus menjadi bekal bagi Abdul Latif dan Zaida Nur Aisyah untuk memahami bahwa rumah tangga bukanlah tempat mencari pasangan yang sempurna. Rumah tangga adalah ruang untuk belajar menerima kekurangan, menguatkan kelebihan, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan tumbuh bersama menuju kedewasaan.

Kelak, mungkin akan ada hari ketika keduanya berbeda pendapat. Mungkin ada saat ketika kata-kata terasa sulit keluar. Pada saat itulah semoga mereka mengingat bahwa cinta tidak selalu membutuhkan kalimat yang megah. Kadang cinta cukup hadir dalam kesediaan untuk duduk bersama, menarik napas panjang, lalu berkata, “Mari kita bicarakan baik-baik. Aku tidak ingin kehilanganmu hanya karena sebuah persoalan.”

Sebab rumah tangga yang kuat bukan rumah tangga yang tidak pernah bertengkar. Ia adalah rumah tangga yang tahu bagaimana kembali berdamai setelah perbedaan. Bukan rumah tangga tanpa air mata, tetapi rumah tangga yang selalu menyediakan bahu untuk tempat air mata itu jatuh.

Semoga Bimbingan Perkawinan yang disampaikan Rais Rudiansyah menjadi bekal berharga bagi Abdul Latif dan Zaida Nur Aisyah dalam menapaki kehidupan baru. Semoga keduanya mampu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, dengan komunikasi yang lembut, kejujuran yang terjaga, kesetiaan yang kokoh, dan doa yang tidak pernah putus.

Karena pada akhirnya, setelah pesta pernikahan usai dan seluruh kebahagiaan hari itu perlahan menjadi kenangan, yang akan tinggal adalah dua manusia yang setiap hari harus kembali memilih satu sama lain.

Semoga Abdul Latif dan Zaida Nur Aisyah kelak menjadi pasangan yang bukan hanya pandai mengatakan “aku mencintaimu”, tetapi juga mampu membuktikannya melalui satu kesediaan sederhana: mendengar, memahami, memaafkan, dan tetap tinggal ketika kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan.