HUT RI #81

Rajut Toleransi di Tempat Ibadah: Penyuluh Somagede Hadiri Pertemuan Lintas Iman IPARI Banyumas

Oleh KUA Somagede
SHARE

Banyumas – Seluruh Penyuluh Agama Islam KUA Somagede bersama ratusan penyuluh agama lintas iman se-Kabupaten Banyumas berkumpul dalam Pertemuan Rutin Pengurus Daerah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (PD IPARI) Kabupaten Banyumas. Mengusung semangat Rajut Topi Mas (Merajut Toleransi Penyuluh Agama Lintas Iman Banyumas), kegiatan ini digelar di Klenteng Hok Tek Bio Purwokerto. Selasa (08/09)

Suasana hangat menyelimuti pembukaan acara yang diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars IPARI. Pengelola Klenteng Hok Tek Bio Purwokerto, Budi Rohadi, menyambut kehadiran para peserta dengan penuh sukacita. Dalam sambutannya, Budi membagikan sejarah singkat tempat ibadah tersebut.

"Klenteng ini berdiri sejak tahun 1631 dan menurut sejarah dulunya merupakan bagian dari Karesidenan Pancurawis. Saat ini, klenteng ini juga menjadi rumah bagi Majelis Agama Khonghucu Purwokerto," jelasnya.

Ketua PD IPARI Banyumas, Lubab Habiburrahman, menyampaikan apresiasinya kepada pihak klenteng atas fasilitas dan kehangatan penerimaannya. Ia menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan langkah nyata memperkuat kerukunan.

"Pertemuan ini bertujuan meneguhkan kerukunan di Kabupaten Banyumas sekaligus menjadi sarana belajar bagi kita semua untuk mengenal lebih dekat tempat ibadah umat Khonghucu," ungkap Lubab.

Semangat kerukunan tersebut mendapat apresiasi tinggi dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Ibnu Asaduddin. Ia menekankan peran strategis Kementerian Agama dan para penyuluh dalam menjaga keharmonisan bangsa.

"Indonesia adalah negara dengan moderasi beragama terbaik, dan Banyumas merupakan salah satu kabupaten dengan tingkat kerukunan paling bagus. Indonesia tetap rukun salah satunya karena keberadaan Kementerian Agama, maka banggalah menjadi bagian dari keluarga besar Kemenag," tuturnya.

Selain mempererat toleransi, pertemuan ini juga membekali para penyuluh dengan materi edukasi kesehatan masyarakat. Mengingat Kabupaten Banyumas saat ini berada di peringkat ketiga kasus HIV teratas di Jawa Tengah, PD IPARI menggandeng Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Banyumas untuk memberikan sosialisasi.

Narasumber dari RSUD Banyumas, Yuliana Sari, memaparkan pentingnya peran penyuluh agama dalam mendampingi masyarakat terkait pencegahan HIV/AIDS. Kemenkes menargetkan penemuan 95% penderita HIV di Banyumas guna mencapai target Tri Zero HIV pada tahun 2030.

"Terinfeksi HIV bukan berarti langsung AIDS. Dengan deteksi dini melalui tes darah (VCT) dan pengobatan rutin ARV, kualitas hidup penderita tetap terjaga dan penularan dapat dicegah. Calon pengantin juga sangat dianjurkan melakukan skrining HIV," terang Yuliana.

Ia mengingatkan bahwa HIV tidak menular melalui kontak sosial sehari-hari seperti jabat tangan, berpelukan, atau tinggal serumah. Karena itu, masyarakat imbau untuk tidak memberikan stigma negatif kepada penderita.

Melalui kegiatan ini, para penyuluh agama tidak hanya pulang membawa semangat keberagaman yang makin kokoh, tetapi juga siap menjadi agen edukasi kesehatan bagi masyarakat di wilayah tugas masing-masing. Stop HIV/AIDS: Jauhi penyakitnya, bukan orangnya! (Nuryati)