HUT RI #81

Pernikahan Bukan Sekadar Memiliki, Tetapi Membuat Pasangan Merasa Nyaman

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Ada rumah yang megah tetapi terasa sepi. Ada pula rumah sederhana yang pintunya mungkin tidak besar, tetapi selalu menjadi tempat hati ingin kembali. Bukan karena kemewahan yang membuat seseorang betah di dalam rumah, melainkan karena di sana ada rasa aman, dihargai, didengar, dan diterima apa adanya. Pesan penuh makna itulah yang disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, ketika memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Imam Priansyah dan Dewi Puji Ratnasari dengan materi “Membuat Pasangan Menjadi Nyaman.” Selasa (04/08)

Dalam bimbingan tersebut, Muhammad Taubah mengajak kedua calon pengantin memahami bahwa pernikahan bukan hanya tentang menemukan seseorang yang dicintai, tetapi juga tentang belajar menjadi seseorang yang membuat pasangannya merasa nyaman. Sebab setelah akad terucap, kehidupan rumah tangga akan mempertemukan dua pribadi dengan latar belakang, kebiasaan, karakter, harapan, dan cara berpikir yang mungkin tidak selalu sama.

Menurutnya, kenyamanan dalam rumah tangga tidak dibangun dengan sesuatu yang mahal. Ia justru lahir dari hal-hal sederhana yang dilakukan berulang-ulang: berbicara dengan lembut, mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi, menghargai pendapat, menjaga kepercayaan, serta memberikan ruang bagi pasangan untuk menjadi dirinya sendiri.

“Jangan hanya mencari pasangan yang membuat kita bahagia. Jadilah pasangan yang membuat orang yang kita cintai merasa aman, tenang, dan nyaman menjadi dirinya sendiri,” pesan Muhammad Taubah.

Kenyamanan juga berarti menghadirkan rumah sebagai tempat pulang, bukan tempat seseorang merasa harus terus berpura-pura. Ketika pasangan melakukan kesalahan, nasihat diberikan tanpa merendahkan. Ketika pasangan sedang lelah, yang dibutuhkan mungkin bukan ceramah panjang, melainkan telinga yang mau mendengarkan dan tangan yang bersedia menggenggam.

Dalam kehidupan rumah tangga, perbedaan adalah sesuatu yang tidak mungkin dihindari. Suami dan istri bisa berbeda pendapat tentang pekerjaan, keuangan, keluarga besar, pola pengasuhan anak, bahkan perkara-perkara kecil dalam keseharian. Namun perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling melukai.

“Jangan jadikan rumah sebagai tempat pasangan takut pulang. Jadikan rumah sebagai tempat ia menemukan ketenangan setelah lelah menghadapi dunia.”

Pesan tersebut mengingatkan bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa dalam kehidupan rumah tangga. Satu kalimat yang lembut dapat menyembuhkan hati yang terluka. Sebaliknya, satu kalimat yang kasar dapat meninggalkan bekas yang mungkin tidak terlihat, tetapi lama sembuhnya.

Muhammad Taubah juga menekankan pentingnya menghargai pasangan. Setelah menikah, seseorang tetap memiliki kebutuhan untuk dihargai, diapresiasi, dan diakui keberadaannya. Jangan sampai perhatian yang dahulu begitu mudah diberikan ketika masih menjadi calon pasangan, justru menghilang setelah akad menjadi sah.

Sebab sering kali seseorang tidak meminta banyak dari pasangannya. Ia hanya ingin didengarkan ketika bercerita. Ingin ditanya apakah hari ini baik-baik saja. Ingin dipahami ketika sedang lelah. Ingin diyakinkan bahwa dirinya masih dicintai, bahkan ketika usia mulai mengubah wajah dan kehidupan mulai menguji kesabaran.

Di situlah arti kenyamanan menemukan bentuknya.

Kenyamanan bukan berarti tidak pernah ada masalah. Kenyamanan berarti ketika masalah datang, pasangan tidak merasa sendirian. Ketika kehidupan sedang sulit, keduanya tidak saling menunjuk siapa yang harus disalahkan, tetapi bersama-sama bertanya: “Apa yang bisa kita lakukan agar keadaan ini menjadi lebih baik?”

Bimwin tersebut menjadi momentum bagi Imam Priansyah dan Dewi Puji Ratnasari untuk mempersiapkan diri memasuki kehidupan rumah tangga dengan pemahaman yang lebih matang. Pernikahan bukan hanya tentang hari akad yang penuh kebahagiaan, tetapi tentang hari-hari setelahnya yang membutuhkan komitmen untuk terus belajar mencintai.

Sebab orang yang kita nikahi hari ini akan terus berubah. Rambutnya mungkin akan memutih. Wajahnya mungkin akan dihiasi keriput. Tubuhnya mungkin tidak lagi sekuat ketika pertama kali bertemu. Tetapi semoga ada satu hal yang tidak berubah: keinginan untuk tetap menjadi tempat paling nyaman bagi satu sama lain.

Kelak akan ada hari ketika salah satu dari mereka pulang dengan membawa beban yang tidak mampu diceritakan. Ada malam ketika salah satu menangis diam-diam. Ada masa ketika ekonomi sulit. Ada saat ketika anak sakit. Ada waktu ketika pekerjaan menguras tenaga. Dan mungkin ada hari ketika keduanya berbeda pandangan.

Pada saat-saat seperti itulah pernikahan diuji.

Bukan pada saat pesta berlangsung meriah, melainkan ketika tidak ada lagi musik, ketika tamu telah pulang, ketika pakaian pengantin telah disimpan, dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Saat itulah suami dan istri belajar bahwa cinta bukan hanya tentang jantung yang berdebar, tetapi tentang kesediaan untuk tetap memilih orang yang sama, berkali-kali, setiap hari.

Melalui Bimwin, Muhammad Taubah mengingatkan bahwa rumah tangga yang indah bukan rumah yang tidak memiliki air mata, melainkan rumah yang selalu menyediakan bahu untuk tempat air mata itu jatuh.

Imam Priansyah dan Dewi Puji Ratnasari diharapkan mampu membawa bekal tersebut dalam perjalanan rumah tangga mereka. Menjadi pasangan yang bukan hanya saling memiliki, tetapi juga saling menjaga; bukan hanya saling mencintai, tetapi juga saling menenangkan; bukan hanya hidup berdampingan, tetapi mampu membuat satu sama lain merasa bahwa rumah adalah tempat terbaik untuk kembali.

Karena pada akhirnya, ketika dunia terasa begitu keras, semoga suami menemukan kelembutan di rumahnya. Ketika hari terasa begitu panjang, semoga istri menemukan ketenangan di samping suaminya.

Dan ketika usia telah sampai pada senja, semoga keduanya masih dapat berkata: “Terima kasih telah menjadi rumah yang paling nyaman untukku.”

Sebab pernikahan yang paling indah bukanlah pernikahan yang terlihat sempurna dari luar. Pernikahan yang paling indah adalah ketika dua manusia yang sama-sama memiliki kekurangan mampu membuat satu sama lain merasa cukup, aman, dicintai, dan nyaman—hingga rumah bukan lagi sekadar tempat tinggal, tetapi menjadi tempat hati menemukan ketenangan.