Pererat Ukhuwah, Penyuluh KUA Jatilawang Hadiri Hajatan Warga di Kalibenda
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Kebahagiaan sebuah keluarga terasa semakin sempurna ketika orang-orang terdekat datang membawa doa. Bukan tentang seberapa mahal hadiah yang diberikan, melainkan tentang kehadiran yang menjadi tanda bahwa tali persaudaraan masih dirawat dengan ketulusan. Semangat itulah yang ditunjukkan Muhammad Taubah, Abdul Khanan, dan Dwi Astuti, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat menghadiri hajatan khitanan putra Muhammad Shodiq Makmun di Kalibenda, Ajibarang. Senin (24/08)
Kehadiran mereka menjadi bentuk silaturahmi sekaligus ungkapan turut berbahagia atas salah satu momen penting dalam perjalanan kehidupan putra Muhammad Shodiq Makmun. Dengan penuh keakraban, mereka bersilaturahmi bersama keluarga yang sedang menggelar hajatan, berbagi kebahagiaan, serta menyampaikan doa agar sang anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat, saleh, berbakti kepada orang tua, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Bagi sebuah keluarga, khitanan bukan sekadar tradisi yang berlangsung dari generasi ke generasi. Di dalamnya tersimpan doa panjang orang tua tentang masa depan anak. Ada harapan agar langkah kecil yang sedang ditempuh hari ini menjadi awal perjalanan panjang menuju kedewasaan, kebaikan, dan kemuliaan akhlak.
Kehadiran para Penyuluh Agama KUA Jatilawang juga menunjukkan bahwa tugas pengabdian kepada masyarakat tidak berhenti di ruang kantor atau forum pembinaan keagamaan. Silaturahmi dalam suasana suka maupun duka merupakan bagian dari membangun kedekatan dengan masyarakat. Seorang penyuluh hadir bukan hanya untuk berbicara tentang agama, tetapi juga untuk merasakan denyut kehidupan masyarakat yang dilayaninya.
Di tengah suasana hajatan yang penuh kehangatan, canda dan senyum mengalir bersama doa-doa yang dipanjatkan. Ada wajah-wajah yang bahagia, ada tangan yang saling berjabat, dan ada hati yang dipertemukan oleh rasa persaudaraan. Momen sederhana seperti itu mengingatkan bahwa manusia sejatinya tidak dapat hidup sendiri.
Silaturahmi terkadang memang tidak membutuhkan banyak kata. Cukup datang, duduk bersama, tersenyum, dan mengucapkan doa. Kehadiran seseorang di saat keluarga lain sedang merayakan kebahagiaan dapat menjadi kenangan yang jauh lebih berharga daripada apa pun yang dibawa dalam tangan.
Bagi Muhammad Taubah, Abdul Khanan, dan Dwi Astuti, menghadiri hajatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan baik dengan masyarakat. Sebuah langkah sederhana, tetapi memiliki makna besar dalam membangun persaudaraan dan memperkuat rasa kebersamaan di tengah kehidupan sosial yang semakin sibuk.
Sebab dalam perjalanan hidup, manusia akan menyadari bahwa yang paling berharga bukanlah banyaknya orang yang mengenal namanya, melainkan banyaknya hati yang pernah ia datangi dengan ketulusan. Ada kebahagiaan yang tidak selesai ketika pesta berakhir, karena ia tinggal sebagai kenangan di hati orang-orang yang merasa dihargai oleh sebuah kehadiran.
Semoga putra Muhammad Shodiq Makmun yang sedang menjalani khitanan senantiasa diberikan kesehatan, umur panjang, kecerdasan, dan akhlak mulia. Semoga tumbuh menjadi anak saleh yang menjadi penyejuk hati kedua orang tuanya, kebanggaan keluarga, serta membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan sesama.
Dan semoga setiap langkah silaturahmi yang ditempuh dengan ketulusan menjadi amal yang dicatat sebagai kebaikan. Sebab terkadang, jalan menuju keberkahan tidak selalu berupa langkah besar; ia bisa saja dimulai dari perjalanan sederhana menuju rumah seorang sahabat, membawa senyum, salam, dan doa—lalu pulang dengan hati yang lebih hangat karena telah ikut merasakan bahagia.
