Penyuluh Terangkan Tentang Keikhlasan Terima Kekurangan Pasangan
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Tidak ada manusia yang datang ke dalam pernikahan dengan kesempurnaan. Setiap orang membawa kelebihan sekaligus kekurangan, membawa kebiasaan yang mungkin disukai dan sifat yang mungkin suatu hari menguji kesabaran. Karena itu, sebelum dua hati mengucapkan akad, diperlukan bekal yang lebih dalam daripada sekadar persiapan pesta: keikhlasan untuk menerima pasangan sebagai manusia seutuhnya. Selasa (04/08)
Pesan tersebut disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, ketika memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Hendra Kusdiliansah dan Isfa Nur Rohmah dengan materi “Keikhlasan Menerima Kekurangan Pasangan.”
Dalam bimbingannya, Muhammad Taubah mengajak kedua calon pengantin memahami bahwa pernikahan bukanlah pertemuan antara dua manusia sempurna. Pernikahan justru merupakan perjalanan dua insan yang sama-sama memiliki kekurangan, kemudian belajar saling melengkapi, saling menguatkan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.
Menurutnya, seseorang mungkin jatuh cinta kepada kelebihan pasangannya, tetapi kehidupan rumah tangga akan mengajarkan bahwa mencintai kekurangan membutuhkan kedewasaan hati. Sebab setelah akad terucap, pasangan bukan hanya akan hadir ketika wajah sedang cerah dan kehidupan sedang mudah. Ia juga akan hadir ketika lelah, sakit, kecewa, marah, gagal, bahkan ketika dirinya sedang berada pada titik terendah.
“Mencintai kelebihan pasangan itu mudah. Tetapi menerima kekurangannya dengan ikhlas adalah bentuk cinta yang membutuhkan kesabaran dan ketulusan,” pesan Muhammad Taubah.
Keikhlasan, lanjutnya, bukan berarti membenarkan semua kesalahan atau membiarkan perilaku buruk terus berlangsung. Keikhlasan adalah kemampuan untuk menerima bahwa pasangan adalah manusia yang masih terus belajar. Kekurangan yang dapat diperbaiki perlu dibimbing dengan kasih sayang, bukan dihujani celaan.
Dalam rumah tangga, perbedaan karakter adalah sesuatu yang wajar. Ada pasangan yang lebih banyak berbicara, sementara yang lain lebih banyak diam. Ada yang mudah mengungkapkan perasaan, sementara yang lain membutuhkan waktu untuk membuka hati. Ada yang cepat mengambil keputusan, sedangkan pasangannya terbiasa berpikir lebih panjang.
Perbedaan tersebut tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh.
Justru di sanalah pernikahan mengajarkan seni mencintai: belajar memahami sebelum menuntut untuk dipahami, belajar memaafkan sebelum meminta dimaafkan, dan belajar menerima sebelum berharap pasangan berubah sesuai keinginan kita.
Muhammad Taubah mengingatkan agar pasangan tidak menjadikan kekurangan sebagai senjata ketika terjadi konflik. Kesalahan yang telah dimaafkan tidak semestinya terus dibawa kembali setiap kali pertengkaran terjadi. Sebab rumah tangga akan terasa melelahkan apabila setiap kesalahan masa lalu selalu dijadikan alasan untuk melukai hati pada hari ini.
“Jangan ungkit luka yang sudah pasangan coba sembuhkan. Jangan jadikan kekurangan orang yang kita cintai sebagai bahan untuk merendahkannya,” ungkapnya.
Pesan itu terasa sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna. Sebab terkadang orang yang paling membutuhkan kelembutan justru adalah orang yang paling dekat dengan kita. Kita dapat berbicara lembut kepada orang lain, tetapi tanpa sadar menggunakan kata-kata tajam kepada pasangan sendiri.
Padahal, pasangan adalah manusia yang juga bisa lelah. Ia bisa merasa tidak cukup. Ia bisa menangis tanpa suara. Ia bisa tersenyum di hadapan keluarga, tetapi menyimpan kesedihan yang tidak pernah diceritakan.
Karena itu, keikhlasan menerima kekurangan pasangan harus berjalan bersama dengan empati dan komunikasi. Ketika ada sesuatu yang tidak disukai, bicarakan dengan baik. Ketika ada kesalahan, tegur tanpa mempermalukan. Ketika ada kekurangan, bantu pasangan bertumbuh tanpa membuatnya merasa tidak berharga.
Sebab pernikahan bukan tempat untuk mencari manusia yang sempurna. Pernikahan adalah tempat dua manusia yang tidak sempurna belajar menjadi lebih baik bersama-sama.
Bimwin yang diberikan Muhammad Taubah menjadi ruang bagi Hendra Kusdiliansah dan Isfa Nur Rohmah untuk mempersiapkan hati sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Mereka diajak memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk kejutan besar atau kata-kata romantis, tetapi sering tumbuh dari kesediaan melakukan hal-hal kecil dengan penuh ketulusan.
Menunggu pasangan ketika terlambat pulang. Mendengarkan ceritanya meski kita sendiri sedang lelah. Memahami diamnya. Memaafkan kesalahannya. Mengingatkan ketika ia mulai jauh dari kebaikan. Dan tetap menggenggam tangannya ketika hidup sedang tidak ramah.
Itulah bentuk cinta yang sering tidak difoto, tidak dipamerkan, dan tidak mendapatkan tepuk tangan. Namun mungkin justru itulah cinta yang paling bernilai.
Kelak, ketika usia berjalan, wajah yang dahulu membuat hati berdebar akan berubah. Rambut akan memutih. Tubuh tidak lagi sekuat masa muda. Kebiasaan yang dulu terasa lucu mungkin suatu hari terasa melelahkan. Pada saat itulah pasangan akan memahami bahwa cinta bukan sekadar tentang menemukan seseorang yang sempurna, tetapi tentang memilih untuk tetap mencintai seseorang yang nyata.
Hari ini mungkin Hendra dan Isfa sedang mempersiapkan hari bahagia. Namun jauh di balik pesta dan kebahagiaan itu, ada perjalanan panjang yang menunggu. Perjalanan yang akan mempertemukan mereka dengan tawa dan air mata, keberhasilan dan kegagalan, kelapangan dan kesempitan.
Semoga ketika hari-hari sulit itu tiba, mereka tidak sibuk bertanya, “Mengapa kamu tidak seperti yang aku harapkan?” tetapi mampu berkata, “Mari kita belajar memperbaikinya bersama.”
Sebab rumah tangga yang kokoh bukan dibangun oleh dua manusia tanpa kekurangan. Ia dibangun oleh dua hati yang bersedia menerima, dua jiwa yang mau belajar, dan dua insan yang memilih untuk tidak menyerah ketika menemukan sisi pasangan yang tidak sesuai harapan.
Pada akhirnya, keikhlasan menerima kekurangan pasangan adalah cara mencintai tanpa menuntut kesempurnaan. Ia mengajarkan bahwa pasangan bukanlah manusia yang dikirim untuk memenuhi seluruh keinginan kita, melainkan amanah yang harus dijaga, ditemani, dan dibantu untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Dan kelak, ketika usia telah sampai pada senja, semoga Hendra dan Isfa dapat menoleh ke belakang dan berkata:
“Terima kasih karena dulu tidak pergi hanya karena menemukan kekuranganku. Terima kasih karena memilih bertahan, belajar, dan tumbuh bersamaku. Ternyata, cinta yang paling indah bukan ketika kita menemukan manusia yang sempurna, melainkan ketika kita mampu mencintai manusia yang tidak sempurna dengan hati yang ikhlas.”
