HUT RI #81

Penyuluh Kebasen laksanakan bimluh pada MT Roudlotul Jannah

Oleh KUA kebasen
SHARE

Banyumas- Penyuluh Agama Islam KUA Kebasen Siti Fatimah melaksanakan bimluh di MT Rpudlotul Jannah Desa Kalisalak, Kegiatan bimbingan dan penyuluhan (bimluh) mengenai pembacaan Kitab Al-Barzanji karya Syekh Ja'far al-Barzanj—atau yang sering disebut Al-Barzanji Nazam (Nasar)—menjadi sarana penting untuk melestarikan tradisi keagamaan.Sabtu (26/09)

Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman yang mendalam kepada masyarakat mengenai makna di balik bait-bait pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui bimbingan ini, peserta tidak hanya diajarkan cara melantunkan syair dengan nada yang indah dan benar, tetapi juga diajak untuk meresapi pesan moral dan sejarah keluhuran akhlak Rasulullah yang terkandung di dalamnya.

Penyuluh agama menyampaikan materi secara runtut, mulai dari pengenalan kaidah membaca lirik nazam hingga pemahaman tajwid dan artikulasi yang tepat. Setiap bait dalam Al-Barzanji Nazam memiliki ritme dan cengkok khas yang membutuhkan latihan intensif agar dapat dibawakan secara khusyuk dan kompak. Selain aspek teknis vokal, bimluh ini juga menekankan pentingnya menjaga adab selama pembacaan, seperti dalam keadaan suci dan menghadap kiblat, guna menghidupkan suasana spiritual yang penuh berkah.

Antusiasme jamaah terlihat sangat tinggi selama kegiatan bimbingan berlangsung, yang didominasi oleh generasi muda dan majelis taklim setempat. Mereka saling menyimak dan mengoreksi pelafalan satu sama lain di bawah bimbingan langsung dari sang penyuluh. Proses interaktif ini berhasil mencairkan suasana, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri bagi para peserta yang awalnya belum fasih melantunkan bait-bait syair berbahasa Arab tersebut.

Melalui program bimluh ini, tradisi pembacaan Al-Barzanji Nazam diharapkan dapat terus terjaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya tanpa kehilangan esensinya. Kegiatan ini terbukti efektif mempererat tali silaturahmi antarwarga serta memperkokoh syiar Islam di lingkungan masyarakat. Pada akhirnya, lantunan sholawat yang bergema bukan sekadar menjadi rutinitas budaya, melainkan menjadi sarana transformatif untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.(Sifa/tum)