Penyuluh Jatilawang Hadiri Halal Bihalal dan Dharma Santi Lintas Iman di Pura Giri Kendeng

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Di tengah semilir angin yang menyapu tenang kawasan Pura Pedaleman Giri Kendeng, Kecamatan Somagede, terselenggara sebuah perjumpaan yang tidak sekadar mempertemukan manusia, tetapi juga menyatukan hati dalam harmoni keberagaman. Seluruh Penyuluh Agama Kecamatan Jatilawang turut hadir dalam kegiatan Halal Bihalal dan Dharma Santi yang diselenggarakan oleh Penyuluh Agama lintas iman yang tergabung dalam IPARI Banyumas. Kamis (9/4)

Acara ini menjadi cermin indah bagaimana perbedaan keyakinan tidak menjadi sekat, melainkan jembatan yang menguatkan persaudaraan. Dalam balutan suasana penuh khidmat dan kehangatan, para penyuluh agama dari berbagai latar belakang duduk berdampingan, saling menyapa, dan berbagi senyum yang tulus.

Momentum Halal Bihalal yang identik dengan saling memaafkan berpadu selaras dengan nilai Dharma Santi yang mengajarkan kedamaian dan penyucian diri. Di tempat yang sakral ini, nilai-nilai luhur kemanusiaan terasa begitu dekat—seolah mengingatkan bahwa pada hakikatnya, semua manusia berjalan menuju tujuan yang sama: kedamaian dan kasih sayang.

Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas yang memberikan pembinaan penuh makna, serta Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam yang turut menegaskan pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama. Dalam arahannya, disampaikan bahwa penyuluh agama memiliki peran strategis sebagai penjaga harmoni di tengah masyarakat yang majemuk.

“Kerukunan bukan sekadar slogan, tetapi harus dirawat dengan ketulusan, dimulai dari diri kita sendiri. Penyuluh agama adalah teladan yang menghadirkan kesejukan di tengah perbedaan,” demikian pesan yang mengalir dalam pembinaan tersebut.

Para penyuluh agama Kecamatan Jatilawang tampak larut dalam suasana kebersamaan yang penuh makna. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan yang mencolok—yang ada hanyalah kesadaran bahwa keberagaman adalah anugerah yang harus dijaga dengan sepenuh hati.

Beberapa peserta tampak terharu, menyadari betapa indahnya kebersamaan yang terbangun di atas pondasi saling menghormati. Dalam diam, banyak yang merenung bahwa di tengah dunia yang kerap diwarnai perbedaan, masih ada ruang-ruang ketulusan yang menghadirkan harapan.

Acara ditutup dengan doa bersama, dipanjatkan dengan keyakinan masing-masing, namun dengan tujuan yang sama: memohon kedamaian bagi bangsa dan keberkahan bagi kehidupan. Di penghujung kegiatan, jabat tangan dan pelukan hangat menjadi simbol bahwa persaudaraan sejati tidak mengenal batas agama.

Di Pura Pedaleman Giri Kendeng hari itu, tidak hanya berlangsung sebuah acara seremonial, tetapi juga terukir sebuah pelajaran kehidupan—bahwa dalam keberagaman, manusia belajar mencintai dengan cara yang lebih luas, lebih dalam, dan lebih tulus.

Sebuah pesan sunyi namun kuat pun tertinggal: bahwa Indonesia akan selalu berdiri kokoh, selama hati-hati yang berbeda tetap bersedia untuk saling memahami dan merangkul dalam damai.