HUT RI #81

Penyuluh Isi Kajian Bakda Subuh dengan Bedah 5 Kaidah Fikih Utama

Oleh KUA PURWOKERTO TIMUR
SHARE

Purwokerto – Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Purwokerto Timur, Mohammad Yusup, memberikan kajian keagamaan ba’da subuh di Masjid Nurul Muhajirin, Perumahan Tanjung Elok. Selasa (28/7).

Dalam kesempatan tersebut, Mohammad Yusup memaparkan materi mendalam mengenai Al-Qawa'id al-Fiqhiyyah (kaidah-kaidah fikih) atau Maqasid Fiqhiyah yang menjadi landasan dan pijakan utama dalam memahami hukum Islam secara bijak.

Ia menjelaskan lima kaidah pokok (Al-Qawa'id al-Khamsah) yang menjadi tiang penyangga dalam hukum Islam:

  1. Niat dalam Setiap Perbuatan (Al-Umuru bi Maqashidha)

Setiap tindakan dan amalan sangat bergantung pada niatnya. Niat menjadi pembeda antara ibadah dan kebiasaan semata.

  1. Keyakinan Mengalahkan Keraguan (Al-Yaqinu La Yuzalu bi al-Ssyakk)

Suatu perkara yang sudah diyakini kepastiannya tidak bisa digugurkan begitu saja oleh keraguan yang baru timbul.

  1. Kesusahan Menarik Kemudahan (Al-Masyaqqatu Tajlibu at-Taisir)

Syariat Islam memberikan keringanan (rukhsah) ketika seorang Muslim menghadapi kesulitan atau kondisi darurat dalam menjalankan ibadah.

  1. Menolak Kemudharatan Lebih Diutamakan daripada Menarik Kemaslahatan (Dar’u al-Mafasid Muqaddam ‘ala Jalbi al-Mashalih)

Mencegah bahaya atau keburukan harus didahulukan sebelum mengejar manfaat, demi menjaga keselamatan jiwa dan keharmonisan.

  1. Adat Istiadat Boleh Dijadikan Hujjah/Hukum (Al-'Aadah Muhakkamah)

Tradisi dan kebiasaan lokal yang baik serta tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah dapat diakui dan dijadikan sumber pertimbangan hukum.

"Memahami kaidah-kaidah fikih ini sangat penting agar masyarakat tidak kaku dalam beragama, tetap berpegang teguh pada prinsip, namun fleksibel dalam menyikapi dinamika kehidupan sosial," tambah Mohammad Yusup di hadapan para jamaah.

Kajian berlangsung penuh khidmat dan diakhiri dengan sesi tanya jawab serta doa bersama. (jw)