Penyuluh Gumelar Sentuh Hati Warga Cihonje Lewat Kajian Hadis

Oleh HUMAS
SHARE

Banyumas – Suasana religius menyelimuti RW 10 Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, saat puluhan warga berkumpul di Majelis Ta’lim (MT) Sifaul Qulub. Kehadiran Kambali, Penyuluh Agama Islam dari KUA Gumelar, menjadi magnet tersendiri dalam upaya memperkuat ukhuwah sekaligus memperdalam pemahaman spiritual masyarakat setempat. Rabu (25/02).

Dalam kesempatan tersebut, Kambali mengangkat tema yang sangat menyentuh batin, yakni "Orang-orang yang Dirindukan Surga". Materi ini merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Abu Daud.

Dihadapan jamaah yang antusias, Kambali menguraikan empat golongan manusia yang kedatangannya sangat dinantikan oleh surga:

  1. Taalil Qur'an (Pencinta Al-Qur'an): Bukan sekadar pembaca, namun mereka yang lisannya selalu basah dengan ayat-ayat Allah, berusaha meresapi maknanya, dan menjadikannya kompas dalam kehidupan sehari-hari.

  2. Wa Haafizul Lisan (Penjaga Lisan): Mereka yang memiliki kendali diri tinggi untuk tidak mengeluarkan kata-kata kotor, menjauhi ghibah (menggunjing), menghindari fitnah, serta menjaga perasaan sesama dari tajamnya ucapan.

  3. Wa Muth'imul Jii'an (Pemberi Makan): Surga merindukan sosok yang memiliki empati sosial tinggi. Mereka yang ringan tangan memberi makan orang yang kelaparan dan peduli terhadap kesulitan sesama.

  4. Wa Shoo'imiina fii Syahri Ramadhan (Ahli Puasa): Mereka yang menghidupkan bulan suci dengan puasa berlandaskan iman dan mengharap rida Allah, bukan sekadar menahan haus dan lapar.

Bimbingan yang dilaksanakan di Desa Cihonje ini dinilai krusial sebagai upaya pembentukan karakter. Kambali mengajak warga untuk menyeimbangkan antara kesalehan individu dan kesalehan sosial. Di tengah hiruk-pikuk kesibukan duniawi, kajian ini hadir sebagai "pendingin suasana" dan penyeimbang batin bagi masyarakat.

"Semangat warga Cihonje dalam menuntut ilmu adalah modal utama. Lingkungan yang harmonis dan religius di wilayah Gumelar hanya bisa tercipta jika masyarakatnya memiliki pegangan agama yang kuat dari sumber yang kompeten," ujar Kambali.

Melalui sinergi antara Penyuluh Agama dan Majelis Ta’lim, diharapkan akses informasi keagamaan yang lurus semakin mudah dijangkau, sehingga masyarakat tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mulia secara akhlak.