Penyuluh Dampingi Warga Binaan Belajar Baca Al-Quran di Lapas Narkotika Purwokerto
Oleh KUA baturraden
Purwokerto — Upaya membangun kehidupan yang lebih baik melalui pembinaan keagamaan terus dilakukan di lingkungan pemasyarakatan. Hariyanto, Penyuluh Agama Islam KUA Baturraden, melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Agama Islam bagi warga binaan di Lapas Narkotika Purwokerto, dengan fokus pada pembelajaran membaca Al-Qur’an. Senin (14/09)
Kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat, tertib, dan penuh semangat. Sejumlah warga binaan mengikuti proses pembelajaran dengan serius. Al-Qur’an menjadi bagian utama dalam kegiatan tersebut, sekaligus menjadi media pembinaan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap ajaran Islam dan membangun semangat memperbaiki diri.
Dalam kegiatan tersebut, Hariyanto memberikan bimbingan secara langsung kepada warga binaan dengan pendekatan yang santun, sabar, komunikatif, dan persuasif. Pembelajaran dilakukan dengan menyesuaikan kemampuan masing-masing peserta sehingga warga binaan yang masih berada pada tahap dasar tetap dapat mengikuti proses pembelajaran secara bertahap.
Materi yang diberikan antara lain pengenalan huruf hijaiyah, pelafalan huruf secara benar, pengenalan harakat, serta latihan membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Peserta diberikan kesempatan untuk membaca secara bergantian, kemudian mendapatkan koreksi dan arahan agar kesalahan dalam pelafalan maupun bacaan dapat diperbaiki.
Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis membaca Al-Qur’an. Lebih dari itu, proses pembelajaran diarahkan agar warga binaan memiliki kesempatan untuk berinteraksi secara lebih dekat dengan Al-Qur’an. Dengan belajar secara perlahan dan konsisten, diharapkan muncul rasa percaya diri untuk terus belajar dan memperbaiki kemampuan membaca Al-Qur’an.
Bagi seorang Penyuluh Agama Islam, kegiatan seperti ini menjadi bagian penting dari pelaksanaan tugas pembinaan keagamaan di tengah masyarakat, termasuk kepada warga binaan di lembaga pemasyarakatan. Kehadiran penyuluh diharapkan mampu memberikan pendampingan, motivasi, serta penguatan spiritual kepada mereka yang sedang menjalani proses pembinaan.
Pembelajaran Al-Qur’an juga memiliki makna yang lebih luas. Al-Qur’an tidak hanya dipelajari sebagai bacaan, tetapi diharapkan dapat menjadi sumber nilai dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Nilai-nilai keimanan, kesabaran, kejujuran, pengendalian diri, dan akhlak mulia dapat menjadi bekal penting bagi warga binaan dalam proses perubahan diri.
Suasana pembelajaran yang berlangsung menunjukkan adanya semangat untuk terus belajar. Meskipun kemampuan peserta berbeda-beda, mereka tetap mengikuti arahan dan berusaha memperbaiki bacaan masing-masing. Proses tersebut menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri, tanpa memandang latar belakang maupun perjalanan kehidupan yang pernah dilalui.
Melalui bimbingan membaca Al-Qur’an, diharapkan warga binaan dapat menemukan ketenangan batin sekaligus semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nilai-nilai yang diperoleh dari pembelajaran agama diharapkan tidak berhenti selama mengikuti pembinaan di Lapas, tetapi dapat menjadi bekal ketika kelak kembali ke keluarga dan masyarakat.
Pembinaan keagamaan pada akhirnya bukan hanya tentang menyampaikan materi agama, tetapi juga tentang menghadirkan harapan. Setiap proses belajar merupakan bagian dari ikhtiar untuk membuka jalan menuju perubahan yang lebih baik. Al-Qur’an diharapkan dapat menjadi teman dalam proses tersebut, memberikan ketenangan, membimbing perilaku, dan menguatkan tekad untuk menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab.
Kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Agama Islam ini diharapkan dapat terus memberikan manfaat bagi warga binaan. Sinergi antara penyuluh agama dan lembaga pemasyarakatan juga diharapkan semakin memperkuat pembinaan mental dan spiritual, sehingga warga binaan tidak hanya menjalani masa pembinaan, tetapi juga memperoleh bekal keagamaan untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat.
(Hari)
