HUT RI #81

Penyuluh Agama KUA Jatilawang Terima Wawancara Skripsi Mahasiswa UNSOED Terkait Nazhir Wakaf

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Ilmu pengetahuan tidak selalu tumbuh di ruang kuliah. Kadang, ia lahir dari percakapan sederhana, dari pengalaman orang-orang yang selama bertahun-tahun menjaga amanah, dan dari kisah masyarakat yang mungkin tidak pernah masuk ke dalam buku teks. Semangat itulah yang tergambar ketika Muhammad Asyhadi dan Rais Rudiansyah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, menjadi narasumber dalam wawancara dengan Andi Djatmiko, mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), yang tengah menyusun skripsi berkaitan dengan nazhir tanah wakaf. Selasa (04/08)

Wawancara tersebut menjadi bagian dari proses pengumpulan data dan informasi untuk mendukung penelitian akademik yang sedang dilakukan Andi Djatmiko. Dalam kesempatan itu, Muhammad Asyhadi dan Rais Rudiansyah berbagi pengetahuan, pengalaman, serta informasi yang relevan mengenai pengelolaan dan pembinaan tanah wakaf, khususnya dari perspektif tugas dan pelayanan keagamaan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Bagi mahasiswa, penelitian bukan sekadar kewajiban untuk menyelesaikan tugas akhir. Di balik lembar-lembar skripsi yang kelak tersusun rapi, terdapat perjalanan panjang untuk mencari data, mendengarkan pengalaman, memeriksa informasi, dan memahami persoalan secara lebih mendalam. Setiap narasumber yang bersedia memberikan waktu pada hakikatnya sedang membantu seorang mahasiswa menyelesaikan satu tahap penting dalam perjalanan pendidikannya.

Muhammad Asyhadi dan Rais Rudiansyah menyambut proses wawancara tersebut sebagai bagian dari dukungan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan masyarakat. Keterbukaan informasi dan berbagi pengalaman menjadi bentuk sederhana dari kontribusi KUA dalam mendukung generasi akademik yang sedang belajar memahami realitas sosial di tengah masyarakat.

Pembahasan mengenai tanah wakaf memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar persoalan administrasi dan kepemilikan. Wakaf merupakan salah satu bentuk amal jariyah yang diharapkan terus memberikan manfaat meskipun orang yang mewakafkannya telah meninggalkan dunia.

Di balik sebidang tanah wakaf, terkadang tersimpan kisah panjang tentang seseorang yang pernah memiliki cita-cita besar untuk kebaikan. Ada orang tua yang mewakafkan tanahnya untuk masjid. Ada keluarga yang menyerahkan sebagian hartanya untuk madrasah. Ada pula seseorang yang mungkin semasa hidupnya tidak memiliki banyak harta, tetapi ingin meninggalkan sesuatu yang terus mengalir manfaatnya setelah ia tiada.

Tanah boleh tetap diam, tetapi kebaikan yang ditanam di atasnya dapat terus berjalan melintasi zaman.

Karena itulah keberadaan nazhir memiliki arti penting dalam menjaga amanah wakaf. Nazhir bukan sekadar pihak yang mengelola aset wakaf, melainkan pemegang amanah untuk memastikan harta yang telah dipisahkan oleh wakif tetap berada pada jalur kemanfaatan sebagaimana tujuan wakaf.

Bagi Andi Djatmiko, informasi dan pengalaman yang diperoleh dari Muhammad Asyhadi dan Rais Rudiansyah menjadi bagian penting dalam memperkaya bahan penelitian. Proses wawancara memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk tidak hanya memahami persoalan secara teoritis, tetapi juga melihat bagaimana praktik pengelolaan dan pembinaan wakaf bersentuhan dengan kehidupan masyarakat.

Pertemuan tersebut juga menunjukkan bahwa hubungan antara dunia akademik dan lembaga pelayanan masyarakat dapat berjalan secara harmonis. Kampus membutuhkan pengalaman lapangan untuk memperkaya penelitian, sementara lembaga dan masyarakat membutuhkan dunia akademik untuk membantu mengurai berbagai persoalan secara ilmiah.

Dari sebuah wawancara sederhana, lahirlah jembatan antara teori dan kenyataan. Antara buku yang dibaca di ruang kuliah dan kehidupan yang berlangsung di tengah masyarakat. Antara seorang mahasiswa yang sedang mencari data dan para penyuluh yang dengan pengalaman serta pengetahuannya bersedia berbagi.

Mungkin bagi sebagian orang, percakapan itu hanyalah wawancara biasa. Namun bagi seorang mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, beberapa jawaban yang diberikan hari itu dapat menjadi kepingan penting yang menyempurnakan sebuah karya ilmiah.

Dan kelak, ketika skripsi itu selesai, mungkin nama para narasumber hanya tertulis beberapa baris di dalam halaman ucapan terima kasih atau daftar narasumber. Tetapi kebaikan yang diberikan kepada seorang pencari ilmu tidak pernah benar-benar kecil.

Sebab membantu seseorang menemukan ilmu adalah cara lain untuk menanam amal yang mungkin tumbuh jauh setelah kita lupa pernah menanamnya.

Dari KUA Jatilawang, perjumpaan antara Penyuluh Agama dan mahasiswa UNSOED tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu tidak mengenal sekat. Ia dapat tumbuh dari kampus, masjid, kantor pelayanan, rumah masyarakat, bahkan dari sebidang tanah yang telah diwakafkan dengan penuh keikhlasan.

Semoga penelitian yang sedang disusun Andi Djatmiko menjadi karya akademik yang bermanfaat, sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar untuk memperkuat pemahaman dan tata kelola wakaf di tengah masyarakat.

Sebab pada akhirnya, ilmu yang paling indah bukanlah ilmu yang hanya selesai dalam lembar skripsi. Ilmu yang paling indah adalah ilmu yang menemukan jalan menuju kemanfaatan—seperti wakaf yang terus memberi, bahkan ketika tangan yang memberikannya telah lama kembali kepada Sang Pencipta.