HUT RI #81

Menerima Kekurangan, Untuk Saling Memperbaiki

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Cinta sering kali tumbuh dari keindahan yang terlihat, tetapi rumah tangga bertahan karena kesediaan menerima sesuatu yang tidak selalu sempurna. Sebelum memasuki kehidupan pernikahan, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Achmad Zulfin dan Septi Puspitasari dengan tema “Keikhlasan Menerima Kekurangan Pasangan.” Jumat (14/08)

Dalam suasana bimbingan yang hangat dan penuh kekeluargaan, Muhammad Taubah mengajak kedua calon pengantin memahami bahwa pernikahan bukanlah pertemuan dua manusia yang telah sempurna. Pernikahan justru merupakan perjalanan dua insan yang membawa kelebihan sekaligus kekurangan, kemudian belajar untuk saling menerima, saling memperbaiki, dan saling menguatkan.

Menurut Muhammad Taubah, salah satu ujian terbesar dalam rumah tangga adalah ketika seseorang mulai melihat kekurangan pasangan lebih jelas daripada kebaikannya. Pada masa awal pernikahan, mungkin perhatian kecil terasa sangat istimewa. Namun seiring waktu, kebiasaan yang berbeda dapat mulai terasa mengganggu. Di titik itulah keikhlasan diperlukan agar perbedaan tidak berubah menjadi alasan untuk saling menjauh.

Keikhlasan menerima pasangan, jelasnya, bukan berarti membenarkan semua kesalahan atau membiarkan perilaku yang merugikan. Keikhlasan adalah kemampuan untuk melihat pasangan secara utuh: memahami kekurangannya tanpa merendahkan, mengingatkan tanpa menyakiti, serta memberikan ruang bagi pasangan untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Muhammad Taubah juga mengingatkan agar pasangan tidak membandingkan rumah tangganya dengan rumah tangga orang lain. Apa yang tampak sempurna di media sosial belum tentu menggambarkan seluruh perjuangan di baliknya. Setiap keluarga memiliki cerita, ujian, dan cara masing-masing dalam mempertahankan kebahagiaan.

“Jangan mencari pasangan tanpa kekurangan, karena manusia memang tidak diciptakan sempurna. Carilah cara agar kekurangan yang ada tidak menghalangi kalian untuk saling mencintai dalam kebaikan,” pesan Muhammad Taubah.

Nasihat itu terasa sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna. Sebab setelah pesta pernikahan usai, yang akan tersisa bukan lagi kemewahan dekorasi atau meriahnya ucapan selamat. Yang tersisa adalah dua manusia yang harus belajar hidup bersama—dengan kebiasaan masing-masing, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, serta dengan masalah yang suatu hari pasti datang.

Dalam perjalanan itu, akan ada saat ketika Achmad mungkin merasa kecewa. Akan ada pula waktu ketika Septi merasa tidak dipahami. Namun semoga keduanya belajar untuk tidak menjadikan satu kekurangan sebagai alasan untuk melupakan seribu kebaikan yang pernah diberikan pasangan.

Sebab cinta yang dewasa bukan cinta yang berkata, “Aku mencintaimu karena engkau sempurna.” Cinta yang dewasa justru berkata, “Aku mengetahui kekuranganmu, tetapi aku memilih untuk tetap menjagamu dan mengajakmu tumbuh bersamaku.”

Bimbingan Perkawinan tersebut menjadi bekal penting bagi Achmad Zulfin dan Septi Puspitasari untuk membangun keluarga yang tidak hanya berdiri di atas rasa cinta, tetapi juga di atas keikhlasan, kesabaran, komunikasi, tanggung jawab, dan ketakwaan. Sebab rumah tangga yang kokoh bukan rumah tangga yang tidak pernah menemukan kekurangan, melainkan rumah tangga yang mampu mengubah kekurangan menjadi ruang untuk saling melengkapi.

Semoga ilmu dan nasihat yang disampaikan Muhammad Taubah menjadi bekal yang terus hidup dalam perjalanan rumah tangga keduanya. Semoga Achmad dan Septi mampu menjadi pasangan yang saling menerima tanpa berhenti saling memperbaiki, saling mencintai tanpa kehilangan kejujuran, serta saling menggenggam ketika kehidupan mulai menghadirkan ujian.

Kelak, ketika usia telah berjalan jauh dan wajah mereka tidak lagi semuda hari ini, semoga keduanya dapat menoleh ke belakang dengan mata berkaca-kaca, mengenang begitu banyak kekurangan yang pernah mereka hadapi—namun juga menyadari bahwa mereka memilih untuk tidak menyerah satu sama lain.

Karena pada akhirnya, rumah tangga bukan tentang menemukan seseorang yang tanpa cela. Ia adalah perjalanan untuk menemukan makna cinta yang sesungguhnya: menerima dengan ikhlas, memperbaiki dengan lembut, memaafkan dengan lapang, dan tetap menggenggam tangan pasangan hingga akhir perjalanan.

Semoga Achmad Zulfin dan Septi Puspitasari menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, serta menjadi dua hati yang tidak hanya dipertemukan oleh cinta, tetapi juga dipersatukan dalam ketaatan kepada Allah SWT.