Langkah Sunyi Penyuluh di Batas Wilayah
Oleh KUA Wangon
Banyumas - Di bawah rimbunnya perbukitan batas selatan Kecamatan Wangon, langkah kaki Zainur, seorang Penyuluh Agama fungsional dari KUA Wangon, terus mengayun menembus jalanan setapak yang sunyi. Menggenggam lembaran peta dakwah yang belum sepenuhnya terisi, ia memulai perjalanannya bukan sekadar untuk melengkapi tugas administratif, melainkan untuk menyentuh hati masyarakat di garis terluar. Bagi Zainur, tapal batas bukanlah akhir dari sebuah wilayah, melainkan titik awal di mana kehadiran pelayanan keagamaan yang inklusif justru paling dinantikan oleh warga. Kamis (18/06)
Pagi itu, konsentrasi Zainur terfokus pada pengumpulan data riil di lapangan, mulai dari kondisi sosioreligius warga, aktivitas majelis taklim, hingga potensi kerawanan sosial. Menggunakan metode pemetaan partisipatif, ia mendatangi satu per satu rumah tokoh masyarakat dan pemuka agama setempat untuk berdialog langsung. Dari obrolan santai di teras rumah warga inilah, Zainur berhasil memetakan kebutuhan spiritual masyarakat selatan yang selama ini jarang tersentuh oleh program-program keagamaan pusat.
Perjalanan menyusuri batas wilayah ini tidaklah selalu mulus, mengingat letak geografis Wangon bagian selatan yang berbukit dan memiliki akses infrastruktur yang terbatas. Namun, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat Zainur; ia justru memanfaatkan momentum ini untuk mengintegrasikan pendekatan digital dalam pemetaan dakwahnya. Melalui gawai di tangannya, ia menandai titik-titik koordinat mushala terpencil dan kantong-kantong jemaah yang membutuhkan pembinaan intensif, menciptakan sebuah peta dakwah berbasis data yang akurat.
Langkah sunyi yang dipilih Zainur ini perlahan mulai membuahkan hasil, ditandai dengan semakin terbukanya ruang komunikasi antara pihak KUA dan masyarakat pinggiran. Kehadirannya di batas wilayah menegaskan bahwa negara, melalui penyuluh agamanya, hadir secara nyata untuk memberikan bimbingan dan penyuluhan tanpa membedakan jarak geografis. Peta dakwah yang sedang disusunnya kini bukan lagi sekadar coretan garis di atas kertas, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan harapan spiritual warga pelosok dengan program kepenyuluhan yang tepat sasaran.
Zainur kini bersiap melangkah dengan catatan yang kini telah penuh. Evaluasi dari hasil penjelajahan hari ini akan menjadi fondasi penting bagi KUA Wangon dalam merumuskan strategi dakwah yang lebih membumi dan berdampak luas di masa depan. Perjalanan hari itu membuktikan bahwa di balik kesunyian batas wilayah, ada komitmen besar dari seorang penyuluh agama yang terus merajut harmoni dan mendekatkan pelayanan keagamaan hingga ke ujung desa.(jhr)
