KUA Pimpin Akad Nikah di Bulan Penuh Berkah

Oleh KUA Lumbir
SHARE

Banyumas — Bulan Ramadan merupakan bulan suci yang senantiasa dinanti oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia. Di dalamnya terdapat limpahan berkah, ampunan, dan rahmat dari Allah SWT yang mendorong setiap muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah serta memperbanyak amal kebaikan. Suasana spiritual yang begitu kuat pada bulan ini juga turut memengaruhi berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan, termasuk dalam hal pelaksanaan pernikahan. Rabu (25/02)

Di tengah masyarakat, sudah menjadi fenomena yang cukup umum bahwa pelaksanaan resepsi maupun akad nikah cenderung menurun selama bulan Ramadan. Banyak keluarga memilih menunda pernikahan dengan berbagai pertimbangan, mulai dari menjaga kekhusyukan ibadah puasa, keterbatasan waktu tamu undangan, hingga pertimbangan teknis penyelenggaraan acara. Namun demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan niat pasangan Sarto dan Jimah yang berasal dari Desa Karanggayam untuk tetap melangsungkan ibadah suci pernikahan pada bulan penuh berkah ini.

Dengan penuh keyakinan dan kesiapan, keduanya mantap menapaki jenjang kehidupan baru melalui prosesi akad nikah yang berlangsung khidmat. Akad nikah dipimpin langsung oleh Kepala KUA Kecamatan Lumbir, Tohiron, yang bertindak sebagai penghulu. Suasana akad berlangsung sederhana namun sarat makna, dihadiri keluarga inti dan para saksi yang menyaksikan secara langsung momen sakral penyatuan dua insan dalam ikatan pernikahan.

Dalam prosesi tersebut, ijab kabul terlaksana dengan lancar dan penuh haru. Sarto mengucapkan lafaz kabul dengan tegas dan sekali tarikan napas, yang langsung disambut ucapan sah dari para saksi. Raut bahagia tampak jelas dari kedua mempelai maupun keluarga yang hadir, menandai dimulainya babak baru kehidupan rumah tangga mereka.

Kepala KUA Lumbir, Tohiron, dalam kesempatan tersebut turut menyampaikan nasihat pernikahan kepada kedua mempelai. Ia menekankan bahwa pernikahan bukan sekadar seremoni, melainkan ibadah panjang yang membutuhkan komitmen, kesabaran, dan kerja sama antara suami dan istri. Momentum Ramadan, menurutnya, justru menjadi waktu yang baik untuk memulai rumah tangga karena sarat dengan nilai-nilai kesabaran, pengendalian diri, dan keberkahan.

Lebih lanjut, Tohiron juga mengapresiasi keberanian dan kesiapan pasangan Sarto dan Jimah yang tetap melaksanakan akad nikah di bulan Ramadan. Ia berharap keduanya dapat membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah serta mampu menjaga keharmonisan rumah tangga dalam setiap kondisi.

Pelaksanaan akad nikah yang berlangsung lancar ini menjadi bukti bahwa bulan Ramadan bukanlah penghalang untuk melangsungkan pernikahan, selama dipersiapkan dengan baik dan tetap menjaga kekhidmatan ibadah. Justru, bagi sebagian pasangan, bulan penuh berkah ini dipandang sebagai momentum yang tepat untuk memulai lembaran baru kehidupan dengan harapan mendapatkan keberkahan yang berlipat.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan untuk kebahagiaan kedua mempelai. Harapannya, pernikahan Sarto dan Jimah menjadi keluarga yang langgeng, penuh cinta kasih, serta senantiasa berada dalam lindungan dan ridha Allah SWT.