HUT RI #81

KUA Layani Warga Dengan Bahasa Ringan dan Mudah Dipahami

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Pernikahan sering kali dibayangkan sebagai hari ketika dua manusia mengucapkan janji di hadapan penghulu. Namun, jauh sebelum ijab kabul terdengar, ada perjalanan panjang yang harus dipersiapkan: menyatukan hati, menyamakan harapan, memahami tanggung jawab, dan belajar bahwa kehidupan rumah tangga bukan hanya tentang bahagia bersama, tetapi juga tentang bertahan ketika keadaan tidak selalu mudah. Kamis (13/08)

Semangat itulah yang mewarnai pelayanan Paryanto, Staf KUA Jatilawang, saat melayani konsultasi pernikahan Febrianti dan Noval, warga Desa Gentawangi. Konsultasi berlangsung dalam suasana terbuka dan penuh kekeluargaan, sebagai ruang bagi keduanya untuk memperoleh pemahaman dan arahan dalam mempersiapkan kehidupan pernikahan.

Dalam konsultasi tersebut, Paryanto memberikan penjelasan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Pernikahan diarahkan untuk tidak sekadar dipandang sebagai penyatuan dua insan karena rasa cinta, tetapi juga sebagai amanah besar yang menuntut kesiapan, kedewasaan, komunikasi, kesetiaan, serta kesediaan untuk saling memahami.

Paryanto mengingatkan bahwa kehidupan rumah tangga tidak selamanya dihiasi tawa. Akan ada hari ketika salah satu merasa lelah, ada perbedaan pendapat yang menguji kesabaran, dan ada keadaan yang memaksa pasangan memilih antara mempertahankan ego atau mempertahankan cinta. Pada saat-saat seperti itulah, pernikahan membutuhkan lebih dari sekadar perasaan—ia membutuhkan komitmen.

“Menikah bukan mencari seseorang yang sempurna, melainkan belajar menjadi pasangan yang mampu saling menyempurnakan dalam kebaikan.”

Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam konsultasi. Sebab rumah tangga yang kuat tidak dibangun dalam sehari. Ia tumbuh dari percakapan yang jujur, kesediaan mendengarkan, kemampuan meminta maaf, keberanian memaafkan, serta ketulusan untuk tetap menggenggam tangan pasangan ketika kehidupan sedang tidak ramah.

Bagi Febrianti dan Noval, konsultasi tersebut dapat menjadi bekal untuk menapaki perjalanan yang lebih panjang. Sebab sebelum dua nama ditulis dalam sebuah buku nikah, keduanya perlu memahami bahwa yang sedang dipersiapkan bukan sekadar sebuah acara, melainkan sebuah kehidupan baru.

Ada rumah yang kelak akan mereka bangun. Ada doa yang akan mereka panjatkan bersama. Ada keluarga yang harus dijaga. Dan mungkin suatu hari, ada anak-anak yang belajar tentang arti kasih sayang bukan dari kata-kata, melainkan dari cara kedua orang tuanya saling menghormati.

Di sinilah pelayanan KUA memiliki makna yang lebih luas. KUA bukan hanya tempat mengurus administrasi pernikahan, tetapi juga ruang untuk mempersiapkan manusia agar lebih siap memasuki kehidupan berkeluarga. Konsultasi menjadi jembatan antara niat baik dan kesiapan, antara cinta dan tanggung jawab.

Paryanto pun memberikan pelayanan dengan mengedepankan sikap ramah, komunikatif, dan humanis. Setiap pertanyaan dipandang sebagai bagian dari proses belajar, karena tidak ada pasangan yang langsung mahir menjalani kehidupan rumah tangga. Semua membutuhkan waktu untuk belajar memahami, belajar mengalah, dan belajar mencintai dengan cara yang lebih dewasa.

Semoga konsultasi yang diterima Febrianti dan Noval menjadi bekal berharga untuk mempersiapkan kehidupan rumah tangga yang penuh ketenteraman. Semoga niat baik keduanya senantiasa mendapatkan kemudahan, dilapangkan jalannya, serta kelak dianugerahi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.