HUT RI #81

Ketika Tubuh Tak Lagi Tegap, Ibadah Tak Boleh Terhenti

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Di sebuah ruang perawatan Puskesmas Kecamatan Jatilawang, seorang lelaki sepuh bernama Kakek Kartaja tengah menjalani hari-hari dalam keadaan sakit. Tubuh yang dahulu mungkin begitu kuat kini harus lebih banyak berbaring, sementara usia mengajarkan satu hal yang sangat dalam: manusia pada akhirnya akan sampai pada masa ketika kekuatan tubuh perlahan berkurang. Namun di tengah lemahnya raga, cahaya untuk mendekat kepada Allah SWT tidak pernah padam. (Kamis, 13/8)

Penyuluh Agama KUA Jatilawang hadir menjenguk dan memberikan pendampingan keagamaan kepada Kakek Kartaja. Dengan penuh kelembutan dan kepedulian, penyuluh mengajarkan tata cara tayamum serta cara melaksanakan salat dalam keadaan sakit, disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi yang sedang dialami. Pendampingan tersebut menjadi bentuk pelayanan keagamaan yang menyentuh sisi kemanusiaan, terutama bagi mereka yang sedang diuji dengan sakit dan keterbatasan fisik.

Dengan bahasa sederhana, dijelaskan bahwa Islam tidak pernah datang untuk memberatkan manusia. Ketika seseorang tidak mampu menggunakan air karena kondisi tertentu, Allah memberikan kemudahan melalui tayamum. Ketika tubuh tidak sanggup berdiri, salat dapat dilakukan dengan duduk atau sesuai kemampuan. Sebab dalam ibadah, Allah tidak menuntut sesuatu di luar kesanggupan hamba-Nya.

Bagi Kakek Kartaja, pelajaran itu bukan sekadar tentang bagaimana mengusap debu untuk bersuci atau bagaimana mengubah posisi salat. Lebih jauh, ia adalah pesan bahwa meskipun tubuh sedang terbaring, hubungan seorang hamba dengan Tuhannya tidak pernah boleh terbaring. Selama hati masih mengingat Allah, selalu ada jalan untuk mengetuk pintu kasih sayang-Nya.

Penyuluh Agama juga memberikan motivasi agar Kakek Kartaja tetap sabar dan tidak kehilangan harapan. Sakit memang membuat tubuh terasa lemah, tetapi jangan biarkan rasa sakit mematahkan keyakinan. Setiap tarikan napas yang dijalani dengan sabar, setiap keluhan yang ditahan dengan ikhlas, dan setiap doa yang dipanjatkan dalam kesunyian menjadi bagian dari perjalanan seorang hamba menuju rahmat Allah SWT.

“Tidak apa-apa jika tubuh belum mampu berdiri. Yang penting hati tetap berdiri di hadapan Allah,” menjadi pesan penguat yang mengiringi pendampingan tersebut.

Kalimat sederhana itu mungkin tampak biasa bagi sebagian orang. Namun bagi seseorang yang sedang terbaring sakit, kata-kata penuh perhatian dapat menjadi kekuatan yang tidak ternilai. Ada obat yang menyembuhkan tubuh, tetapi ada pula doa dan kasih sayang yang menyembuhkan kegelisahan jiwa.

Penyuluh Agama kemudian mendoakan Kakek Kartaja agar Allah SWT mengangkat penyakitnya, memberikan kesembuhan, memperpanjang usia dalam kebaikan, menguatkan hati, serta memberikan ketabahan kepada keluarga yang mendampingi. Semoga setiap rasa sakit yang dilalui menjadi penghapus dosa dan setiap kesabaran dicatat sebagai amal yang bernilai di sisi Allah SWT.

Kehadiran Penyuluh Agama di ruang perawatan itu menjadi gambaran bahwa pelayanan agama tidak berhenti pada mimbar, masjid, atau majelis pengajian. Agama juga harus hadir di tempat manusia sedang menangis dalam diam, ketika tubuhnya lemah, ketika rasa takut datang, dan ketika harapan membutuhkan seseorang untuk menyalakannya kembali.

Semoga Allah menyembuhkan Kakek Kartaja. Semoga sakitnya menjadi penghapus dosa, sabarnya menjadi pahala, dan setiap air mata yang jatuh menjadi saksi bahwa di tengah kelemahan tubuhnya, ia tetap berusaha menggenggam Allah dengan segenap hatinya.