Keteguhan Untuk Dampingi Pasangan Dalam Berbagai Keadaan
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Pernikahan bukan hanya tentang dua hati yang bertemu pada hari akad, melainkan tentang dua manusia yang berjanji untuk tetap berjalan bersama ketika kehidupan tidak selalu menghadirkan jalan yang mudah. Nilai itulah yang menjadi salah satu pesan utama dalam Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang diberikan Dwi Astuti, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, kepada calon pengantin Budi Asfarudin dan Hetty Lustiyana Devi dengan materi tentang kesetiaan suami istri. Senin (24/08)
Dalam suasana penuh keakraban dan keterbukaan, Dwi Astuti memberikan pembekalan mengenai pentingnya menjaga kesetiaan sebagai salah satu fondasi utama dalam membangun keluarga yang harmonis. Kesetiaan tidak hanya dimaknai sebagai tidak berpaling kepada orang lain, tetapi juga sebagai keteguhan untuk tetap hadir, menghargai, menjaga kepercayaan, dan mendampingi pasangan dalam berbagai keadaan.
Bagi pasangan yang hendak menikah, pembahasan mengenai kesetiaan menjadi penting karena kehidupan rumah tangga tidak selalu berjalan sebagaimana yang dibayangkan. Ada masa ketika ekonomi menguji kesabaran, pekerjaan menyita perhatian, perbedaan karakter menimbulkan perdebatan, dan keadaan membuat seseorang merasa lelah. Pada saat seperti itulah kesetiaan tidak lagi sekadar kata, melainkan pilihan yang harus diwujudkan melalui sikap.
Dwi Astuti mengajak Budi dan Hetty memahami bahwa kesetiaan dimulai dari hal-hal sederhana. Menjaga ucapan, tidak membuka aib pasangan, menghormati batasan dalam pergaulan, terbuka dalam komunikasi, serta tidak memberikan ruang kepada pihak lain untuk merusak kepercayaan merupakan bagian dari upaya merawat kesetiaan.
Sebab rumah tangga sering kali tidak runtuh karena satu badai besar, tetapi karena retakan-retakan kecil yang dibiarkan semakin melebar. Kebohongan yang dianggap sepele, perhatian yang mulai berkurang, komunikasi yang semakin dingin, hingga kebiasaan membandingkan pasangan dengan orang lain dapat perlahan mengikis rasa percaya.
Dalam bimbingan tersebut, kesetiaan juga ditempatkan sebagai bentuk penghormatan terhadap pasangan. Ketika seseorang telah memilih untuk menikah, ia bukan hanya menerima kelebihan pasangannya, tetapi juga belajar berdamai dengan kekurangannya. Cinta yang dewasa bukan mencari manusia tanpa kekurangan, melainkan bersedia tumbuh bersama sambil saling memperbaiki.
Ada kalanya seorang suami pulang dengan tubuh lelah dan pikiran penuh persoalan. Ada pula seorang istri yang sepanjang hari mengurus rumah, pekerjaan, dan keluarga tanpa banyak bercerita tentang lelahnya. Pada saat-saat seperti itu, kesetiaan dapat hadir dalam bentuk paling sederhana: mendengarkan, memahami, menguatkan, dan berkata, “Aku masih di sini, kita hadapi bersama.”
Dwi Astuti juga mengingatkan bahwa kesetiaan harus dirawat sejak sebelum akad. Calon suami dan istri perlu membangun komitmen untuk menjaga komunikasi, menghormati privasi dan kehormatan pasangan, serta menjadikan kejujuran sebagai kebiasaan dalam kehidupan bersama.
Dalam perspektif keagamaan, pernikahan merupakan amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Suami dan istri bukan sekadar pasangan hidup, tetapi juga mitra dalam menjalankan kebaikan. Ketika keduanya saling menjaga karena Allah, kesetiaan tidak lagi bergantung pada suasana hati, melainkan tumbuh menjadi bagian dari ibadah.
Bimbingan Perkawinan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi Budi dan Hetty untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah pernikahan. Sebab pesta pernikahan hanya berlangsung sehari, sementara kehidupan sebagai suami istri akan berlangsung dalam perjalanan yang jauh lebih panjang.
Kelak mungkin akan ada hari ketika kecantikan mulai berubah, kekuatan tubuh berkurang, rambut berubah warna, dan kehidupan tidak lagi semudah ketika mereka pertama kali mengucapkan janji. Pada saat itulah kesetiaan menemukan maknanya yang paling dalam: tetap memilih orang yang sama, meski waktu telah mengubah banyak hal.
Karena cinta sejati bukan hanya hadir ketika pasangan sedang tersenyum. Cinta sejati justru terlihat ketika seseorang tetap menggenggam tangan pasangannya saat air mata jatuh. Tetap menjaga nama baik ketika pasangannya tidak berada di dekatnya. Tetap memilih pulang kepada rumah yang sama, meski dunia menawarkan begitu banyak persimpangan.
Melalui Bimwin ini, KUA Jatilawang terus berupaya memberikan bekal kepada calon pengantin agar tidak hanya siap menghadapi prosesi akad, tetapi juga siap menjalani kehidupan rumah tangga secara matang, bertanggung jawab, dan berlandaskan nilai-nilai agama.
Semoga nasihat tentang kesetiaan yang diterima Budi Asfarudin dan Hetty Lustiyana Devi menjadi bekal yang senantiasa hidup dalam perjalanan rumah tangga mereka. Semoga keduanya mampu menjadi pasangan yang saling menjaga ketika kuat, saling menguatkan ketika lemah, saling memaafkan ketika terluka, dan saling menggenggam ketika kehidupan menghadirkan ujian.
