Kesiapan Mental Sebagai Fondasi Bangun Kehidupan Rumah Tangga
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Pernikahan bukan sekadar pertemuan dua nama dalam sebuah buku pencatatan. Ia adalah pertemuan dua hati, dua keluarga, dua latar kehidupan, dan dua perjalanan panjang yang dipersatukan dalam sebuah janji suci. Karena itu, sebelum akad diucapkan, kesiapan mental menjadi bekal penting agar calon pengantin tidak hanya siap mengenakan pakaian pengantin, tetapi juga siap mengenakan pakaian kesabaran dalam kehidupan rumah tangga. Senin (24/08)
Pesan itulah yang disampaikan Muhammad Asyhadi, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Leonardo dan Difa Fitriandini. Dalam kegiatan tersebut, keduanya mendapatkan pembekalan mengenai pentingnya kesiapan mental sebagai fondasi dalam membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis, penuh tanggung jawab, dan berorientasi pada keberkahan.
Muhammad Asyhadi menekankan bahwa kesiapan menikah tidak cukup hanya dengan kesiapan administratif, finansial, maupun seremonial. Lebih dalam dari itu, calon suami dan calon istri perlu menyiapkan hati untuk menerima perbedaan, pikiran untuk menyelesaikan persoalan, serta jiwa untuk bertahan ketika kehidupan rumah tangga tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan.
Menurutnya, dua manusia yang menikah bukan berarti harus selalu memiliki pendapat yang sama. Justru perbedaan dapat menjadi ruang untuk belajar memahami. Rumah tangga yang kuat bukan rumah tangga tanpa masalah, melainkan rumah tangga yang memiliki kedewasaan untuk menghadapi masalah tanpa saling menjatuhkan.
“Menikah berarti bersedia menerima pasangan bukan hanya ketika ia tersenyum, tetapi juga ketika ia sedang lelah. Bukan hanya ketika keadaan mudah, tetapi juga ketika kehidupan menguji kesabaran,” menjadi pesan penting dalam bimbingan tersebut.
Kesiapan mental juga berarti kesiapan untuk berkomunikasi dengan jujur dan santun. Leonardo dan Difa Fitriandini diarahkan untuk membangun kebiasaan berbicara dari hati ke hati, menghindari menyimpan persoalan terlalu lama, serta belajar menyelesaikan perbedaan dengan kepala dingin. Sebab sering kali rumah tangga tidak runtuh karena masalah yang besar, melainkan karena masalah kecil yang dibiarkan tumbuh menjadi jarak.
Muhammad Asyhadi juga mengingatkan bahwa kehidupan setelah akad akan mempertemukan keduanya dengan berbagai keadaan yang belum tentu dapat diprediksi. Ada hari ketika rumah dipenuhi tawa, tetapi mungkin ada pula malam ketika air mata jatuh tanpa suara. Pada saat itulah kesabaran, komunikasi, saling menghargai, dan keimanan menjadi penyangga agar cinta tidak mudah kehilangan arah.
Bimbingan Perkawinan yang diberikan Muhammad Asyhadi menjadi ruang bagi Leonardo dan Difa Fitriandini untuk memandang pernikahan dari sisi yang lebih matang. Pernikahan tidak boleh hanya dipersiapkan dengan undangan, pakaian, tempat acara, dan berbagai kebutuhan seremoni, tetapi juga dengan kesiapan hati untuk menjalani kehidupan yang sesungguhnya.
Itulah sebabnya pernikahan perlu dipandang sebagai perjalanan ibadah yang membutuhkan bekal panjang. Cinta mungkin menjadi alasan seseorang memulai perjalanan, tetapi kesabaran, komunikasi, tanggung jawab, kepercayaan, dan ketakwaanlah yang akan membantu pasangan tetap berjalan ketika jalan kehidupan mulai berliku.
Melalui Bimbingan Perkawinan ini, KUA Jatilawang terus berupaya menghadirkan pelayanan dan pembinaan yang tidak hanya membantu calon pengantin memenuhi aspek administratif, tetapi juga mempersiapkan mereka secara utuh untuk menghadapi kehidupan setelah akad. Harapannya, setiap pasangan yang memasuki gerbang pernikahan memiliki bekal yang cukup untuk membangun keluarga yang sehat, harmonis, dan penuh keberkahan.
