HUT RI #81

Kesediaan Saling Jaga Dalam Berbagai Keadaan

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Setiap manusia memiliki cerita yang berbeda dalam menemukan jalan menuju kebahagiaan. Ada yang memulai rumah tangga sejak usia muda, ada pula yang harus melewati perjalanan panjang, kehilangan, dan kesunyian sebelum kembali menemukan seseorang untuk diajak berjalan bersama. Dalam suasana penuh keakraban, Muhammad Asyhadi, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Satim dan Sutarsih sebagai bekal untuk menata kehidupan rumah tangga yang baru. Senin (24/08)

Bimwin tersebut menjadi ruang untuk mempersiapkan calon pengantin tidak hanya secara administratif, tetapi juga secara mental, emosional, spiritual, dan sosial. Muhammad Asyhadi memberikan pemahaman bahwa pernikahan merupakan amanah besar yang membutuhkan kesiapan hati, kedewasaan berpikir, komunikasi yang sehat, serta kesediaan untuk saling menjaga dalam berbagai keadaan.

Bagi Satim dan Sutarsih, perjalanan menuju pernikahan membawa pengalaman hidup yang tidak sederhana. Masa lalu telah mengajarkan banyak hal tentang arti kehilangan, kesabaran, tanggung jawab, dan bagaimana manusia harus tetap berdiri ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan.

Namun masa lalu bukanlah alasan untuk berhenti berharap. Ia adalah halaman yang telah selesai ditulis, sedangkan hari esok masih menyediakan lembaran baru. Pengalaman yang pernah dilalui dapat menjadi guru agar kehidupan berikutnya dijalani dengan lebih bijaksana.

Muhammad Asyhadi mengajak keduanya untuk tidak menjadikan pengalaman masa lalu sebagai beban dalam membangun kehidupan baru. Setiap pasangan memiliki kesempatan untuk belajar dari perjalanan sebelumnya, memperbaiki kekurangan, dan membangun rumah tangga dengan fondasi yang lebih matang.

Dalam bimbingan tersebut, ditekankan pula pentingnya komunikasi dan keterbukaan. Dua manusia yang memutuskan untuk hidup bersama harus mampu menjadi tempat yang aman bagi pasangannya untuk bercerita, menyampaikan perasaan, dan mengungkapkan persoalan tanpa rasa takut untuk dihakimi.

Rumah tangga yang harmonis bukan rumah yang tidak pernah dihampiri masalah. Rumah yang harmonis adalah rumah yang ketika masalah datang, suami dan istri memilih duduk bersama, bukan saling meninggalkan; memilih berbicara, bukan saling mendiamkan; serta memilih memaafkan daripada menyimpan dendam.

Ada masa ketika kehidupan terasa begitu ringan. Namun akan ada pula hari ketika tubuh lelah, keadaan ekonomi menguji, kesehatan menurun, atau persoalan keluarga datang silih berganti. Pada saat seperti itulah pasangan membutuhkan bukan hanya cinta, tetapi juga kesetiaan, kesabaran, dan keberanian untuk berkata, “Kita hadapi bersama.”

Muhammad Asyhadi juga mengingatkan bahwa pernikahan merupakan bagian dari ibadah. Karena itu, hubungan suami istri hendaknya tidak hanya dibangun atas dasar perasaan, tetapi juga ketakwaan dan tanggung jawab. Ketika pasangan saling menjaga karena Allah, cinta akan memiliki akar yang lebih kuat daripada sekadar perasaan yang mudah berubah mengikuti keadaan.

Bagi Satim dan Sutarsih, Bimwin menjadi momentum untuk menata kembali harapan. Mereka tidak perlu menghapus masa lalu, sebab setiap pengalaman telah menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk diri mereka hari ini. Yang perlu dilakukan adalah mengambil hikmahnya, kemudian melangkah ke depan dengan hati yang lebih tenang.

Barangkali ada orang yang mengira bahwa kesempatan untuk bahagia hanya datang sekali. Padahal, kehidupan sering kali memiliki cara yang indah untuk mengajarkan bahwa setelah hujan yang panjang, masih ada langit yang cerah; setelah kehilangan, masih mungkin hadir sebuah pertemuan; dan setelah kesedihan, masih ada kesempatan untuk tersenyum kembali.

Di balik Bimwin yang berlangsung sederhana, tersimpan harapan besar agar Satim dan Sutarsih mampu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Sebuah keluarga yang tidak hanya menjadi tempat berteduh dari panasnya kehidupan, tetapi juga menjadi tempat dua hati menemukan ketenangan.

KUA Jatilawang melalui peran Penyuluh Agama terus berupaya memberikan pembekalan kepada calon pengantin agar mereka lebih siap menjalani kehidupan setelah akad. Sebab pernikahan bukanlah garis akhir dari sebuah perjalanan cinta, melainkan awal dari perjalanan panjang yang membutuhkan ilmu, kesabaran, dan komitmen.

Kelak, mungkin akan tiba masa ketika rambut mereka mulai memutih dan langkah tidak lagi sekuat hari ini. Pada saat itu, semoga mereka dapat duduk berdampingan, mengenang seluruh perjalanan yang pernah dilalui, lalu tersenyum karena menyadari bahwa setelah begitu banyak cerita, mereka masih memilih untuk saling menggenggam.

Semoga bekal Bimbingan Perkawinan yang diberikan Muhammad Asyhadi menjadi cahaya bagi perjalanan Satim dan Sutarsih. Semoga Allah memberikan ketenteraman dalam rumah tangga mereka, melimpahkan kasih sayang, menjaga kesetiaan, serta mengubah setiap pengalaman pahit menjadi hikmah yang mendewasakan.