HUT RI #81

Kerelaan Suami Istri dalam Kondisi Apapun

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Pernikahan bukan sekadar janji untuk hidup bersama ketika keadaan sedang bahagia. Pernikahan adalah keberanian dua insan untuk tetap menggenggam tangan yang sama ketika kehidupan berubah, keadaan menguji, dan jalan yang ditempuh tidak selalu sesuai dengan harapan. Pesan penuh makna tersebut disampaikan Rais Rudiansyah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada Calon Pengantin (Catin), Bayu Setiono dan Yeni Oktaviani, dengan tema “Kerelaan Suami Istri dalam Kondisi Apa Pun.” Senin (24/08)

Dalam bimbingan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan itu, Rais Rudiansyah mengajak kedua calon pengantin memandang pernikahan sebagai perjalanan panjang yang membutuhkan kesiapan hati. Sebab setelah akad terucap, kehidupan tidak selalu menghadirkan hari-hari yang cerah. Ada saatnya rezeki terasa lapang, tetapi ada pula masa ketika kebutuhan datang bersamaan dengan kemampuan yang terbatas.

Menurut Rais, kerelaan merupakan salah satu kekuatan penting dalam menjaga keutuhan rumah tangga. Rela bukan berarti menyerah kepada keadaan, apalagi membiarkan pasangan melakukan kesalahan. Kerelaan adalah kemampuan hati untuk menerima kenyataan dengan lapang, kemudian bersama-sama mencari jalan terbaik tanpa saling menyalahkan.

“Suami dan istri hendaknya belajar menerima pasangan bukan hanya ketika sehat, kaya, dan bahagia, tetapi juga ketika sakit, lemah, susah, dan sedang berada di titik terendah dalam kehidupannya,” pesan Rais dalam bimbingannya.

Nasihat itu menjadi pengingat bahwa cinta sejati sering kali justru terlihat ketika kehidupan sedang tidak ramah. Ketika suami pulang dengan tubuh yang lelah setelah bekerja, ketika istri menjalani hari dengan segala kepenatan, ketika penghasilan belum mencukupi, atau ketika salah satu pasangan sedang sakit, di sanalah kesetiaan menemukan maknanya.

Rais juga mengingatkan Bayu dan Yeni agar tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk berhenti mencintai. Setiap manusia memiliki kelemahan, dan setiap rumah tangga memiliki ujian. Karena itu, suami dan istri perlu membangun komunikasi yang sehat, saling terbuka, saling menghargai, serta membiasakan diri menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin dan hati yang lapang.

Menurutnya, rumah tangga yang kuat bukan rumah tangga yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan rumah tangga yang mampu melewati masalah tanpa kehilangan rasa hormat dan kasih sayang. Ketika satu orang sedang lemah, yang lain menjadi penguat. Ketika satu hati sedang sedih, hati yang lain menjadi tempat bersandar.

Bimwin tersebut juga menjadi ruang bagi kedua calon pengantin untuk mempersiapkan kehidupan setelah pernikahan, bukan hanya secara administratif, tetapi juga secara mental, spiritual, dan emosional. Sebab akad nikah hanya berlangsung sesaat, sedangkan tanggung jawab sebagai suami dan istri akan berjalan sepanjang hayat.

Di penghujung bimbingan, Rais Rudiansyah menyampaikan pesan yang menyentuh hati: “Jika suatu hari pasanganmu tidak lagi sekuat hari ini, jangan tinggalkan tangannya. Jika rambutnya mulai memutih, jangan berkurang kasihmu. Jika langkahnya mulai lambat, perlambat langkahmu agar kalian tetap berjalan bersama.”

Pesan tersebut seakan mengajak Bayu dan Yeni membayangkan perjalanan panjang yang akan mereka tempuh. Sebab kelak, wajah yang hari ini masih muda akan menua, tubuh yang hari ini kuat akan melemah, dan kehidupan akan membawa mereka melewati berbagai musim. Yang akan membuat mereka tetap bersama bukan sekadar rupa, harta, atau keadaan, melainkan kesediaan untuk menerima dan mencintai dalam setiap keadaan.