Kelengkapan Administrasi Pernikahan untuk Hadirkan Perlindungan dan Kepastian Hukum
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Bertempat di Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, Paryanto, staf KUA Jatilawang, menyambut dengan senyum hangat dan sikap yang menenangkan mempersilakan Kayim Tinggarjaya untuk duduk, membuka ruang percakapan yang tak sekadar administratif, tetapi juga sarat penghormatan akan masalah yang akan dikonsultasikan yaitu persyaratan nikah janda dan duda. Kamis (23/04)
Dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna, Paryanto menjelaskan syarat-syarat administrasi perkawinan bagi janda dan duda. Ia menguraikan pentingnya dokumen seperti akta cerai atau surat kematian pasangan sebelumnya, kartu identitas, serta kelengkapan lain yang menjadi dasar sahnya pernikahan menurut ketentuan yang berlaku.
“Semua ini bukan untuk mempersulit, melainkan untuk menjaga agar pernikahan yang akan dijalani benar-benar kuat, sah, dan terlindungi,” ujar Paryanto dengan nada lembut, seolah ingin memastikan bahwa setiap kata yang ia sampaikan tidak menambah beban, melainkan menghadirkan kepastian.
Kayim mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia mengangguk, seakan memahami bahwa setiap persyaratan bukanlah sekadar formalitas, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap masa depan yang ingin ia bangun kembali. Ada keheningan yang hangat di antara keduanya—hening yang tidak canggung, melainkan penuh pengertian.
Konsultasi itu menjadi lebih dari sekadar tanya jawab. Ia menjelma menjadi ruang bagi harapan untuk kembali disusun, bagi keberanian untuk kembali tumbuh setelah masa lalu yang mungkin pernah meninggalkan luka. Di hadapan Paryanto, setiap pertanyaan dijawab dengan ketulusan, setiap keraguan diluruskan dengan kesabaran.
Pelayanan yang diberikan mencerminkan wajah KUA Jatilawang yang humanis—bahwa di balik aturan yang tegas, selalu ada hati yang memahami. Paryanto tidak hanya menjalankan tugasnya sebagai aparatur negara, tetapi juga menjadi penjaga awal bagi sebuah perjalanan baru yang penuh harapan.
Saat Kayim berpamitan, langkahnya terasa lebih ringan. Ia tidak hanya membawa daftar persyaratan yang harus dipenuhi, tetapi juga keyakinan bahwa jalan yang akan ditempuhnya kini lebih jelas dan terarah.
Di ruang sederhana itu, di antara berkas-berkas yang tersusun rapi, tersimpan kisah tentang keberanian untuk memulai kembali. Dan di KUA Jatilawang, setiap harapan yang datang tidak pernah dipandang sebelah mata—melainkan diterima, dijaga, dan diarahkan dengan sepenuh hati.
