Kajian Sore Bidayatul Hidayah: Kupas Makna Puasa dari Aspek Tasawuf
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Kajian sore kitab Bidayatul Hidayah kembali digelar di Masjid Nurul Huda Tunjung Lor. Kegiatan ini diisi oleh Abdul Khanan, Penyuluh Agama dari KUA Jatilawang, dengan tema “Makna Puasa dari Aspek Tasawuf.” Kamis (26/02/26)
Kajian yang diikuti oleh jamaah setempat tersebut membahas dimensi batin puasa sebagaimana dijelaskan dalam khazanah tasawuf, khususnya dalam spirit pendidikan akhlak yang terkandung dalam Bidayatul Hidayah. Dalam pemaparannya, Abdul Khanan menekankan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan spiritual untuk membersihkan hati dari sifat-sifat tercela.
Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif tasawuf, puasa memiliki tiga tingkatan. Pertama, puasa orang awam, yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan secara lahiriah. Kedua, puasa orang khusus, yaitu menjaga anggota badan seperti lisan, pandangan, dan pendengaran dari perbuatan dosa. Ketiga, puasa orang yang lebih khusus lagi (khawashul khawash), yaitu menjaga hati dari selain Allah, sehingga seluruh orientasi batin hanya tertuju kepada-Nya.
Lebih lanjut disampaikan bahwa esensi puasa adalah proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Lapar dan dahaga menjadi sarana melemahkan dominasi hawa nafsu, sehingga hati lebih mudah menerima cahaya petunjuk dan ilmu. Dengan demikian, puasa tidak berhenti pada aspek fiqih, tetapi berlanjut pada pembentukan karakter: sabar, ikhlas, rendah hati, serta penuh empati terhadap sesama.
Kajian berlangsung dengan suasana khidmat dan interaktif. Para jamaah terlihat antusias mengikuti penjelasan serta sesi tanya jawab yang menyinggung praktik menjaga hati di tengah kehidupan sehari-hari.
Melalui kajian rutin ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa puasa adalah ibadah yang menyentuh dimensi lahir dan batin sekaligus, sehingga mampu melahirkan pribadi yang lebih bertakwa dan berakhlak mulia. (KgHann)
