HUT RI #81

Jaga Diri, Jaga Masa Depan Melalui BRUS

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Masa remaja adalah musim ketika seseorang mulai mengenal dunia dengan lebih luas. Banyak pintu terbuka, banyak orang datang dan pergi, dan banyak keputusan kecil yang perlahan membentuk masa depan. Pada masa yang penuh warna sekaligus rentan itu, seorang remaja tidak hanya membutuhkan ilmu untuk meraih cita-cita, tetapi juga bekal untuk menjaga dirinya dan memilih lingkungan yang sehat. Kamis (13/08)

Pesan tersebut disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di MTsN 3 Banyumas. Kegiatan pembinaan tersebut mengangkat materi “Self Protection dan Membentuk Relasi Sosial yang Sehat”, dengan tujuan membekali para siswa agar mampu mengenali, menjaga, dan menghargai dirinya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penyampaiannya, Muhammad Taubah mengajak para siswa memahami bahwa melindungi diri bukan berarti hidup dalam ketakutan, melainkan memiliki keberanian untuk mengenali batas, mengatakan tidak terhadap sesuatu yang merugikan, serta mencari pertolongan ketika menghadapi keadaan yang tidak aman. Seorang remaja perlu mengetahui bahwa dirinya berharga dan layak diperlakukan dengan hormat.

Materi Self Protection juga diarahkan agar siswa semakin memiliki kesadaran terhadap lingkungan pergaulan. Mereka didorong untuk tidak mudah terbawa tekanan teman sebaya, tidak sembarangan mempercayai orang lain, serta lebih bijak dalam berinteraksi, termasuk ketika menggunakan media sosial dan ruang digital.

“Menjaga diri bukan berarti menjauh dari semua orang. Menjaga diri berarti tahu siapa yang layak dipercaya, mana yang harus dihindari, dan kapan harus berani berkata tidak,” menjadi salah satu pesan penting dalam pembinaan tersebut.

Tidak kalah penting, Muhammad Taubah mengajak siswa memahami arti relasi sosial yang sehat. Pertemanan yang baik bukanlah hubungan yang memaksa seseorang menjadi orang lain, melainkan hubungan yang membuat setiap individu mampu tumbuh tanpa kehilangan jati dirinya.

Relasi yang sehat dibangun melalui saling menghormati, menjaga batas pribadi, berkomunikasi dengan baik, tidak merendahkan, tidak melakukan perundungan, serta berani memberikan dukungan ketika teman sedang menghadapi kesulitan. Teman yang baik bukan yang selalu mengajak tertawa, tetapi juga yang berani mencegah ketika kita mulai berjalan menuju sesuatu yang salah.

Di hadapan para siswa, Muhammad Taubah juga menanamkan pesan bahwa setiap anak memiliki masa depan yang panjang. Jangan sampai masa depan yang begitu luas dipertaruhkan hanya demi penerimaan sesaat dari lingkungan pergaulan.

Sebab terkadang, seorang remaja rela melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ia inginkan hanya karena takut dianggap berbeda. Padahal, berani berbeda demi kebaikan jauh lebih mulia daripada diterima oleh lingkungan dengan mengorbankan harga diri.

BRUS di MTsN 3 Banyumas menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan para siswa. Mereka diajak menyadari bahwa perjalanan menuju dewasa tidak selalu mudah. Ada tekanan, kebingungan, rasa ingin diterima, bahkan mungkin luka yang tidak selalu mampu diceritakan kepada orang lain.

Karena itu, siswa perlu mengetahui bahwa meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Ketika menghadapi persoalan yang sulit, mereka dapat berbicara kepada orang tua, guru, konselor, atau orang dewasa yang dipercaya. Terkadang, satu keberanian kecil untuk bercerita dapat menyelamatkan seseorang dari masalah yang jauh lebih besar.

Di balik kegiatan tersebut, terselip harapan yang begitu sederhana namun dalam: semoga tidak ada satu pun anak yang merasa sendirian ketika menghadapi masalah. Semoga mereka tumbuh menjadi generasi yang mampu menjaga dirinya, menghargai orang lain, dan berani memilih lingkungan yang membawa kepada kebaikan.

Sebab setiap anak adalah harapan. Di balik seragam sekolah yang dikenakan hari ini, ada cita-cita yang sedang tumbuh. Ada orang tua yang diam-diam menaruh harapan besar. Ada doa yang mungkin setiap malam dipanjatkan agar anaknya kelak menjadi manusia yang baik, kuat, dan bermanfaat.

Maka menjaga seorang remaja bukan hanya tugas dirinya sendiri. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan seluruh elemen yang berada di sekelilingnya memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan penuh kasih.

Muhammad Taubah melalui BRUS tersebut mengajak para siswa untuk menulis masa depan dengan pilihan-pilihan yang baik. Jangan biarkan satu kesalahan sesaat menentukan seluruh perjalanan hidup. Jangan biarkan perkataan orang lain membuat kita lupa bahwa diri kita berharga. Dan jangan pernah takut memilih jalan yang benar hanya karena jalan itu tidak ramai dilalui teman sebaya.

Semoga pembinaan BRUS di MTsN 3 Banyumas menjadi bekal yang terus hidup dalam ingatan para siswa. Bukan sekadar materi yang didengar di ruang pembelajaran, tetapi menjadi kompas ketika mereka menghadapi berbagai pilihan dalam perjalanan menuju kedewasaan.

Karena seorang anak mungkin tidak selalu membutuhkan seseorang untuk berjalan di depannya. Kadang ia hanya membutuhkan seseorang yang berdiri di sampingnya dan berkata, “Kamu berharga. Jagalah dirimu. Jangan takut berkata tidak pada yang salah. Dan ketika dunia terasa terlalu berat, jangan pernah merasa bahwa kamu harus menghadapinya sendirian.”

Dari sanalah pendidikan menemukan maknanya: bukan hanya membuat anak menjadi pintar, tetapi membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang mampu menjaga diri, menghormati sesama, memilih pergaulan yang sehat, dan tetap memiliki cahaya kebaikan ketika suatu hari harus berjalan sendiri menghadapi dunia.