Ikhtiar Panjang di Balik Mutu Pendidikan MIM Gentawangi
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Di balik ruang kelas yang sederhana, selalu ada perjuangan yang tidak banyak terlihat. Ada guru yang datang sebelum bel berbunyi, ada kepala madrasah yang memikul tanggung jawab, dan ada anak-anak yang menaruh masa depan mereka pada tangan para pendidik. Semangat itulah yang tergambar ketika Paryanto, Staf KUA Jatilawang, mengikuti kegiatan Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Gentawangi. Selasa (04/08)
Kegiatan PKKM menjadi bagian penting dalam memastikan kepemimpinan madrasah berjalan secara terarah, profesional, akuntabel, dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan. Penilaian tidak semata-mata melihat kelengkapan administrasi, tetapi juga menjadi momentum untuk melihat sejauh mana kepala madrasah menjalankan tugas kepemimpinan, mengelola sumber daya, membangun budaya kerja, serta menghadirkan lingkungan pendidikan yang mendukung tumbuh kembang peserta didik.
Kehadiran Paryanto dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari dukungan dan sinergi antarlembaga dalam memperkuat ekosistem pendidikan dan pembinaan masyarakat. Sebagai bagian dari KUA Jatilawang, keterlibatan dalam kegiatan lintas sektor semacam ini menunjukkan bahwa pelayanan keagamaan dan pembangunan pendidikan memiliki ruang perjumpaan yang luas, terutama dalam membentuk generasi yang berilmu, berkarakter, dan berakhlak.
PKKM juga menjadi ruang refleksi bagi madrasah. Setiap dokumen yang diperiksa, setiap program yang ditelaah, dan setiap capaian yang dilihat sesungguhnya merupakan rekam jejak dari kerja panjang yang dilakukan oleh banyak tangan. Ada perencanaan yang disusun dengan penuh pertimbangan, pelaksanaan yang membutuhkan kesabaran, dan evaluasi yang terkadang menuntut keberanian untuk mengakui kekurangan.
Sebab pendidikan tidak pernah lahir dari pekerjaan sehari semalam.
Ia tumbuh dari ketekunan guru yang berkali-kali menjelaskan pelajaran kepada anak yang belum memahami. Ia tumbuh dari kepala madrasah yang harus mengambil keputusan di tengah berbagai keterbatasan. Ia tumbuh dari orang tua yang menitipkan doa bersama anaknya setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah.
Karena itu, penilaian kinerja sejatinya bukan sekadar mencari apa yang kurang. Lebih dari itu, PKKM dapat menjadi cermin untuk melihat apa yang telah dilakukan, apa yang perlu diperbaiki, dan apa yang harus diperjuangkan bersama demi masa depan peserta didik.
Bagi Paryanto, keikutsertaan dalam kegiatan tersebut juga menjadi pengalaman berharga untuk melihat secara lebih dekat dinamika pengelolaan lembaga pendidikan. Dari sana tumbuh kesadaran bahwa setiap lembaga memiliki tantangan dan perjuangannya sendiri, tetapi semuanya bertemu pada cita-cita yang sama: memberikan layanan pendidikan terbaik bagi anak-anak.
Sebab anak-anak yang hari ini duduk rapi di bangku madrasah adalah manusia-manusia yang kelak akan berdiri di tengah masyarakat.
Mungkin hari ini mereka hanya belajar membaca, menulis, berhitung, dan memahami nilai-nilai agama. Namun suatu hari nanti, sebagian dari mereka mungkin akan menjadi guru, dokter, petani, pemimpin, pengusaha, ulama, atau orang tua yang mendidik generasi berikutnya. Masa depan yang begitu besar itu sedang disemai dari ruang-ruang kelas yang terkadang tampak sederhana.
Di situlah makna penting sebuah penilaian kinerja. Ketika mutu pendidikan dijaga hari ini, sesungguhnya yang sedang dijaga bukan hanya sebuah lembaga, tetapi juga masa depan anak-anak yang dipercayakan kepada lembaga tersebut.
PKKM di MIM Gentawangi akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda penilaian. Ia menjadi pengingat bahwa setiap ikhtiar dalam pendidikan memiliki arti. Tidak semua perjuangan pendidik akan tercatat dalam berita, tidak semua pengorbanan akan mendapatkan tepuk tangan, tetapi setiap ilmu yang berhasil ditanamkan pada seorang anak akan menjadi amal yang terus mengalir melalui kehidupan.
Barangkali kelak tidak ada seorang siswa yang mengingat berapa banyak dokumen yang diperiksa dalam sebuah PKKM. Namun mereka akan mengingat guru yang pernah menguatkan ketika mereka hampir menyerah, kepala madrasah yang memberi teladan ketika mereka kehilangan arah, dan sekolah yang pernah menjadi rumah kedua bagi tumbuhnya cita-cita.
Karena pendidikan bukan sekadar tentang angka yang tercetak di atas kertas. Pendidikan adalah tentang manusia—tentang menyalakan cahaya di dalam diri seorang anak agar kelak ia mampu menerangi kehidupan orang lain.
Dari MIM Gentawangi, pesan itu kembali mengemuka: mutu pendidikan harus terus dijaga, kepemimpinan harus terus diperbaiki, dan setiap ikhtiar harus diarahkan untuk menghadirkan generasi yang tidak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga lembut hatinya dan luhur akhlaknya.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah madrasah bukan hanya ketika administrasinya dinyatakan lengkap atau kinerjanya dinilai baik. Keberhasilan yang paling indah adalah ketika anak-anak yang pernah belajar di dalamnya tumbuh menjadi manusia yang baik, bermanfaat bagi sesama, dan mampu membawa cahaya kebaikan ke mana pun mereka melangkah.
