HUT RI #81

Hari Yang Hanya Datang Sekali Dalam Hidup, Tetapi Kenangannya Ingin Dijaga Sepanjang Usia

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Ada hari yang hanya datang sekali dalam hidup, tetapi kenangannya ingin dijaga sepanjang usia. Ada sebuah kalimat yang diucapkan hanya beberapa detik, namun mengubah dua nama menjadi satu perjalanan. Di Desa Tinggarjaya, suasana penuh khidmat menyelimuti pelaksanaan Pencatatan Nikah dan Ijab Qabul Dimas dan Zahratul yang dilaksanakan oleh Ulul Albab, Penghulu KUA Jatilawang. Selasa (04/08)

Pelaksanaan pencatatan nikah dan ijab qabul tersebut menjadi bagian penting dari pelayanan KUA Jatilawang dalam memastikan peristiwa pernikahan masyarakat tercatat secara resmi serta dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku. Prosesi berlangsung dalam suasana khidmat, disaksikan keluarga dan pihak-pihak yang hadir untuk mengiringi langkah kedua mempelai memasuki kehidupan baru.

Bagi Dimas dan Zahratul, hari itu bukan sekadar tanggal yang akan tercatat dalam dokumen pernikahan. Ia adalah titik ketika perjalanan yang sebelumnya ditempuh masing-masing mulai diarahkan menuju satu tujuan. Dua insan yang dahulu berjalan dengan kisah masing-masing kini memilih untuk berjalan bersama, dengan segala harapan, doa, dan tanggung jawab yang menyertainya.

Di hadapan penghulu dan para saksi, akad menjadi kalimat yang sederhana tetapi memiliki konsekuensi luar biasa. Seorang laki-laki menerima amanah untuk menjaga perempuan yang kini menjadi istrinya, sementara seorang perempuan menyerahkan kepercayaan kepada laki-laki yang dipilihnya untuk menjadi teman perjalanan.

Ijab qabul mungkin hanya berlangsung beberapa saat, tetapi tanggung jawab yang lahir darinya akan menemani kehidupan hingga akhir hayat.

Ulul Albab dalam menjalankan tugas kepenghuluan tidak hanya memastikan aspek administratif dan pelaksanaan akad berjalan sesuai ketentuan. Kehadiran penghulu juga menjadi bagian dari ikhtiar negara dalam memberikan pelayanan pernikahan yang tertib, profesional, dan memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.

Pencatatan nikah memiliki arti penting karena pernikahan bukan hanya peristiwa sakral secara agama, tetapi juga peristiwa hukum yang memiliki konsekuensi terhadap kehidupan pasangan dan keluarga. Dengan pencatatan yang tertib, hak-hak pasangan dan keluarga dapat memperoleh perlindungan serta kepastian sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Namun di balik dokumen dan administrasi tersebut, ada sisi manusiawi yang jauh lebih dalam. Ada orang tua yang mungkin menahan air mata ketika melihat anaknya mengucapkan akad. Ada keluarga yang mengingat perjalanan panjang sejak sang anak masih kecil. Ada doa yang dipanjatkan diam-diam agar rumah tangga yang baru dibangun kelak dipenuhi ketenteraman dan keberkahan.

Hari itu, mungkin Dimas dan Zahratul lebih banyak tersenyum. Tetapi bagi orang tua, pernikahan seorang anak sering kali menjadi momen yang mengaduk perasaan: bahagia karena anak telah menemukan pasangan hidup, sekaligus haru karena anak yang dahulu digandeng tangannya ketika belajar berjalan kini telah memilih seseorang untuk menggenggam tangannya dalam perjalanan kehidupan.

Ada air mata yang jatuh bukan karena kesedihan.

Ia jatuh karena seorang ibu menyadari bahwa anak yang dahulu ia timang kini telah memiliki rumahnya sendiri. Ia jatuh karena seorang ayah sadar bahwa tugas menjaga perlahan berpindah kepada seseorang yang telah mengucapkan janji di hadapan Allah.

Di sisi lain, akad juga mengajarkan kepada Dimas dan Zahratul bahwa pernikahan bukanlah jaminan bahwa kehidupan akan selalu berjalan tanpa masalah. Rumah tangga tetap membutuhkan kesabaran, komunikasi, saling menghormati, dan kesediaan untuk terus belajar memahami pasangan.

Kelak akan ada hari ketika tawa memenuhi rumah. Akan ada pula hari ketika air mata datang tanpa diundang. Akan ada masa ketika rezeki terasa lapang, dan mungkin ada waktu ketika keadaan memaksa keduanya belajar tentang kesederhanaan.

Pada semua keadaan itu, semoga Dimas dan Zahratul mengingat kembali akad yang pernah diucapkan.

Bahwa pernikahan bukan hanya tentang mencintai ketika keadaan mudah, tetapi juga tentang bertahan ketika keadaan menguji. Bukan hanya tentang menggenggam tangan ketika bahagia, tetapi juga tentang tidak melepaskannya ketika hidup terasa berat.

Karena sesungguhnya, rumah tangga bukan tempat dua manusia sempurna hidup bersama. Rumah tangga adalah tempat dua manusia yang memiliki kekurangan belajar saling melengkapi, saling memaafkan, dan saling menguatkan.

Pelayanan Ulul Albab sebagai Penghulu KUA Jatilawang dalam pencatatan nikah dan pelaksanaan ijab qabul Dimas dan Zahratul menjadi bagian dari rangkaian pengabdian KUA kepada masyarakat. Setiap pernikahan yang dilayani bukan sekadar menyelesaikan administrasi, tetapi juga menjadi saksi atas lahirnya keluarga-keluarga baru yang diharapkan menjadi fondasi masyarakat yang harmonis.

Di Desa Tinggarjaya, satu akad telah terucap. Dua hati telah dipertautkan dalam ikatan yang suci. Dua keluarga telah dipertemukan dalam hubungan yang lebih luas.

Dan setelah semua tamu pulang, setelah pakaian terbaik disimpan, setelah suasana kembali seperti sediakala, kehidupan baru benar-benar dimulai.

Dimas dan Zahratul akan belajar bahwa cinta bukan hanya tentang bagaimana menemukan seseorang yang tepat. Cinta juga tentang bagaimana menjadi orang yang tepat bagi pasangan setiap hari.

Semoga akad yang hari itu disaksikan manusia menjadi akad yang senantiasa dijaga Allah SWT. Semoga rumah yang mereka bangun menjadi tempat tumbuhnya sakinah, mawaddah, dan rahmah.